Raja Namli yang Didhalimi Gajah
Cari Judul Esai

Advertisement

Raja Namli yang Didhalimi Gajah

M Abdullah Badri
Selasa, 26 Februari 2019

kisah gajah dan semut di zaman nabi sulaiman
Mbah Hasbani, murid Habib Ali Mayong berumur 127 tahun (2019)
Oleh M Abdullah Badri

NAMLI adalah nama seorang raja semut di zaman Nabi Sulaiman. Mbah Bani menyebut nama itu ada di Kitab Ling Anbi’ya’. Kisah ini diungkapkan Mbah Bani (25/02/2019) jelang pemilihan presiden 2019 saat Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi sedang gerilya memperoleh suara. Namli, kata Mbah Bani, adalah cermin atas konstelasi politik sekarang.

Kepada Nabi Sulaiman, Raja Namli menuntut keadilan. Pasalnya, anak buah Namli dari bangsa semut banyak yang mati sia-sia ketika rombongan Raja Gajah lewat tanpa permisi. Ia meminta kepada Nabi Sulaiman agar menghukum atau membuat aturan yang adil dan tidak merugikan bangsa semut.

“Yang besar menindas yang kecil sudah biasa mut semut,” kata Nabi Sulaiman.

Tidak mendapatkan respons serius, Namli pasrah, hingga terjadilah hal yang tak terduga. Nabi Sulaiman menderita sakit di telinga. Kabar itu didengar oleh banyak rakyat dari golongan jin, setan hingga binatang dan tumbuhan.

Namli mendengar kabar tersebut dari raja jin.

“Aku bisa mengobati penyakit Nabi Sulaiman, tapi apakah permintaan tuntutan keadilan yang pernah kuajukan dulu bisa dipenuhi?” Namli bertanya kepada raja jin.

“Aku akan menyampaikan kesanggupanmu kepada Nabi Sulaiman”.

Kabar itu diterima Nabi Sulaiman, dan beliau menyanggupi tuntutan Raja Namli. Telinganya disembuhkan dengan cara masuk ke lubang telinga mulianya. Ia mengambil sumber penyakit, yang ternyata adalah seekor ludhing kecil, semacam kaki seribu beracun. Bersama semut-semut yang lain, Raja Namli menarik keluar ludhing kecil itu.

Kisah zaman Nabi Sulaiman

Setelah sembuh, Nabi Sulaiman benar-benar menepati janjinya. Agar memperoleh rasa adil, beliau memberi solusi kepada Raja Namli wa akhawatuha untuk memperingatkan Raja Gajah yang dhalim.

“Kamu dan bangsa semutmu masuk saja ke telinga Raja Gajah seperti engkau masuk ke telingaku. Gigit saja kulitnya, makan dagingnya, kamu akan dihormati oleh dia walau kecil,” kata Nabi Sulaiman.

Benar saja, Raja Namli akhirnya gerilya melakukan kerja-kerja politik balas kadhaliman. Ia kumpulan prajurit semut untuk invasi ke dalam lubang telinga Raja Gajah saat sedang tidur. Satuan semut berkuda dan berjemparing (pasukan panah), melakukan penyergapan tak terduga. Telinga Raja Gajah luka, berdarah, oleng dan lalu, mati.

MoU akhirnya muncul sebagai kesepakatan bersama. Agar tidak saling melukai, antara kaum gajah dan kaum semut harus memiliki wilayah teritorial sendiri. Jika tentara gajah hendak melewati wilayah kekuasaan semut, dia harus memiliki Visa kunjungan khusus. Bila tidak, tentara semut akan melakukan serangan militer.

Cerita itu membuat saya bertanya-tanya kepada Mbah Bani. Gajah itu siapa Mbah? Prabowo atau Jokowi? Namun, Mbah Bani hanya berlalu, pamitan ke saya sambil membawa dua buku saya “Dalil Sejarah TBS” dan “Meneguhkan Jepara Bumi Aswaja”. Kaos bergambar 01 dan Rokok Djarum sebungkus juga dibawa pulang.

Matursuwun nang, yo!”.

Ah, Mbah Bani bikin penasaran saja. [badriologi.com]

Catatan:
Ini adalah salah satu judul catatan saya atas Buku "Makrifat Sahuhudan Mbah Bani" yang InsyaAllah akan terbit dalam waktu yang akan datang.

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah