SMK Khaliliyah Bangsri dan Jurnalisme Bakso
Cari Judul Esai

Advertisement

SMK Khaliliyah Bangsri dan Jurnalisme Bakso

M Abdullah Badri
Senin, 04 Februari 2019

SMK Khalilyah Bangsri
Foto bersama dengan siswa-siswi SMK Khaliliyah Bangsri, 3 Februari 2019. 
Oleh M Abdullah Badri

MENGETAHUI akan ada belasan siswa-siswi SMK Khaliliyah yang datang ke rumah untuk ngaji jurnalistik, Pak Dedi Merisa langsung tangkap peluang, "sekalian ajak kunjungan ke Unisnu saja kang?".

Saya jawab, awalnya mereka mau melakukan kunjungan redaksi ke Gedung PCNU setelah menggeruduk rumah saya, "tapi ngapain, redaksi mana yang mau kalian kunjungi?" Tanya saya ke pembina mereka (Pak Abdul Muin). Saya arahkan saja supaya ke Jawapos Radar Kudus Jepara yang berkantor di Jl. Pemuda. Saya beri kontak Pemrednya, Pak Zainal Abidin.

Ahad, 3 Februari 2019, sekira pukul 10 pagi, 18 anak SMK Khaliba (Khaliliyah Bangsri) itu benar-benar datang. Intinya hanya ngaji seputar jurnalistik, yang oleh sebagian mereka keliru disamakan dengan jurnalis. Harapannya, majalah dan website IPNU-IPPNU yang selama ini ada (Fikra), bisa dikelola lebih maksimal.

Ngoceh 1,5 jam seputar proses jurnalisme dan pembuatan berita (tanpa teori njlimet), saya paksa mereka turun lapangan. Dibagi 3 kelompok. Masing-masing harus menulis berita seputar hal menarik yang ada di sekitar erte saya tinggal. Harus ditulis tangan satu halaman minimal 6 paragraf.

Apa yang terjadi? Mereka lebih pandai belanja penthol dan siomay di jalan daripada merekap peristiwa dalam berita. Misalnya, kalimat "Bakso kuah Hasim yang berjualan keliling di sekitar Desa Ngabul" ditulis sebagai paragraf awal berita.

Saya bertanya, siapa yang keliling, Hasim atau Bakso kuah-nya? Kontan saja mereka tertawa bersama setelah mengerti kalai subjek kalimat tidak jelas disusun dalam paragraf tersebut.

pelatihan membuat berita di SMK Khalilyah Bangsri Jepara
Karya anak-anak SMK Khaliliyah Bangsri
SMK Khalilyah Bangsri Jepara pelatihan jurnalistik
Saat anak-anak SMK Khaliliyah Bangsri turun ke lapangan di sekitar Ngabul.
SMK Khalilyah Bangsri Jepara ipnu-ippnu
Diskusi kelompok setelah turun ke lapangan menyusun berita.
anak-anak ipnu SMK Khalilyah Bangsri Jepara
Hasil beritanya dikoreksi tapi direspon dengan senanghati.
SMK Khalilyah Bangsri Jepara membuat pelatihan menulis berita
Masih saja cekikikan ketika hasil berita anak-anak SMK Khaliliyah dikoreksi habis.
Saya koreksi hasil kerja instan mereka dari lapangan selama hampir satu jam. Mereka hahahihi dan cekikikan bersama teman lainnya setelah tahu ada yang lucu. Kadang mereka memulai berita dengan lokasi peristiwa tapi luput menyertakan pelaku peristiwa sengan benar. Kan repot.

Semangat Menulis

Mereka ini memiliki semangat menulis. Bahkan di antara mereka sengaja ikut datang ke Ngabul karena ingin memiliki karya tulis bentuk buku. Tapi tidak saya beri materi penulisan buku karena pembinanya menyebut acara tersebut sebagai kunjungan pelatihan jurnalistik. Dan bahwa tidak semua jurnalis adalah penulis buku, memang harus dicari jawaba pastinya.

Begitu pula, tidak semua penulis buku produktif bisa menulis berita dengan baik. Dunianya berbeda. Jurnalis menuliskan pikiran narasumber, sementara penulis adalah produsen ide yang harus pandai menuangkan gagasanya dalam esai, artikel, buku, dan karya tulis lainnya.

Proses menjurnalistik itu seperti membuat bakso, yang membutuhkan banyak tahapan agar hasil olahanya enak, digemari pelanggan karena orisinalitasnya.

Setelah saya beri contoh cetak fisik, mereka juga baru mengetahui perbedaan antara koran, tabloid, buletin, majalah, jurnal, yang semua produk jurnalistik.

Materi lain soal manajemen bermedia, penulisan buku, penerbitan, artikel, esai, media online setting, sibermedia, post-truth, desrupsi, literasi, seo, bloggerize, desain medsos multimedia, counter propaganda, deteksi peta media, dll, tidak bakal saya ulas tuntas karena butuh berhar-hari.

Dari mereka yang turun ke lapangan, meliput penjual bakso, pedagang depan rumah dan penjual burung, saya tahu, ternyata tetangga saya sangat baik. Sayangnya, ada yang tidak bersedia difoto.

Pak Dedi Merisa sangat membutuhkan semangat belajar anak-anak SMK Khaliliyah ini untuk menghidupkan iklim kampus Unisnu di tahun-tahun berikutnya. Nek mbok kirimi rokok sak pres yo tak ampirke kampusmu pak. Hahaha. [badriologi.com]