Berpikirlah Sebelum Menentukan Keputusan (Resensi Buku Saring Sebelum Sharing) -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Berpikirlah Sebelum Menentukan Keputusan (Resensi Buku Saring Sebelum Sharing)

M Abdullah Badri
Senin, 18 Maret 2019
Flashdisk Ebook Islami

Jual Kacamata Minus
nadirsyah hosen buku saring sebelum sharing
Bedah Buku Saring Sebelum Sharing di Gedung NU Jepara oleh Lakpesdam NU Jepara, Ahad (17/03/2019) siang. 
Oleh M Abdullah Badri

ADA 8 Bab tentang analisa hadits dalam Buku Saring Sebelum Sharing karya Nadirsyah Hosen ini. Dari 8 Bab, 70 artikel dalam buku setebal 328+xvi halaman itu ditulis secara renyah. Dan karena ditulis singkat, padat serta penuh gizi, Anda hanya butuh 4-5 menit membacanya tanpa harus urut dari awal hingga akhir. Berikut identitas bukunya:

Judul Buku: Saring Sebelum Sharing
Penulis: Nadirsyah Hosen
Penerbit: Bentang, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Februari 2019
Tebal: xvi + 328 hlaman
ISBN: 978-602-291-562-1
Harga: Rp. 85.000,- (Beli sendiri, jangan kontak saya).

Menyaring informasi yang membanjir sebelum menyebarkannya adalah inti dari buku yang ditulis Gus Nadir -panggilan akrab Nadirsyah Hosen. Pada halaman 104 misalnya, esai berjudul "Berpikir Jernih Sebelum Mengambil Keputusan" ditulis padat oleh Rais Syuriah PCI NU Australia tersebut khusus tentang saring informasi. Baca: Tak Perlu Saring Karena Sudah Sharing.

Ia mengawali sebuah hadits yang artinya, "janganlah seseorang itu memutuskan (perkara) antara dua orang (yang bersengketa) sedangkan dia dalam keadaan marah". (Muttafaqun Alaih).

Gus Nadir kemudian melengkapi keterangan hadits tersebut di esainya, dengan kisah Jariyah bin Qudamah yang mendapatkan wasiat dari Nabi Muhammad Saw. agar tidak mudah marah. Wasiat itu diulang hingga tiga kali kepada Jariyah bin Qudamah. Marah, dengan demikian, tulis Gus Nadir, adalah pokok dari segala kejahatan.

Bedah Buku Saring Sebelum Sharing

Dalam bedah bukunya di Jepara, 17 Maret 2019, Gus Nadir juga menyinggung marahnya umat Islam kepada kelompok yang mudah tersulut hanya karena perbedaan persepsi dan tafsir, utamanya tentang hadits.

Hadist yang berbunyi: umritu an uqâtilan nâs ẖattâ an an taqûla lâ ilâha illâAllâh (aku diperintah Nabi untuk membunuh manusia hingga mereka mengucapkan kalimat lâ ilâha illâAllâh).

Sebagian kalangan umat Islam menerjemahkan kalimat "uqâtila" hadits tersebut dengan kata "membunuh". Padahal, jika menilik syarah (penjelasan ulama' hadist), makna tepatnya bukannya membunuh, tapi "memerangi". Mengapa? Karena hadits tersebut diucapkan Nabi di tengah masa-masa perang, bukan dalam kondisi damai.

Tidak mungkin para pasukan Nabi Saw. yang ikut dalam perang diperintahkan supaya musuh diajak ngopi. Sayangnya, hadist-hadits semacam itu dishare ke media sosial tanpa keterangan dari ulama hadits dan apalagi asbâbul wurûd (sabab dimunculkannya), sehingga banyak manusia yang ikut terprovokasi membunuh, di negara damai seperti Indonesia.

Kalimat lain yang juga sering dikutip Netizen, yang katanya bersumber dari Imam Syafi'i juga diungkap oleh Gus Nadir.

‎سئل اﻹمام الشافعي رحمه الله : كيف نرى الحق من بين كل هذه الفتن ؟ ‎فقال :اتبع سهام العدو ترشدك إلى الحق

Imam Syafi’i ditanya: “Bagaimana kita mengetahui pengikut kebenaran di jaman yang penuh fitnah?”. Beliau menjawab: “Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka itu akan menunjukimu kepada siapa ‘Pengikut Kebenaran’ itu”.

Setelah dilacak, ternyata kalimat tersebut sudah dimodifikasi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu, padahal, sumber kitabnya pun tidak ada. Akhirnya, karena tidak ada penjelasan, tafsir yang dipahami publik seolah mengarah bahwa di negeri kita ini, ada ulama yang sering terkena fitnah umara' (pemerintah). Siapa lagi kalau bukan ulama mereka yang hingga saat ini masih hidup di luar negeri sana.

Fenomena semacam ini, kata Gus Nadir dalam bedah bukunya, amat meresahkan jika dishare tanpa konfirmasi rujukan dan sumbernya langsung. "Tabayun di medsos menjadi terlupakan hingga berita hoax menyebar dengan cepat," tulis Gus Nadir di bukunya. (hlm: xiv).

Intinya, kehadiran Buku Saring Sebelum Sharing adalah oase di tengah umat Islam di era digital dan medsos ini agaknya kurang bisa menjaga diri dari berpikir jernih. Sementara, di antara tujuan diselenggarakannya syariat Islam adalah untuk hifdzul aqli (menjaga akal agar tetap jernih), hifdzuddîn (menjaga agama agar tidak dipolitisasi) serta hifdzun nasl (menjaga keturunan agar tetap sehat cara berislamnya).

Buku itu, kata Dr. Nashrullah Afandi, yang menjadi panelis dalam bedah buku di Gedung NU Jepara itu, adalah bagian dari cara penulis mempertahankan umat Islam agar tetap berpikir sebelum menentukan keputusan untuk share segala informasi yang ia dapatkan dari medsos maupun orang lain. Begitu. [badriologi.com]

Keterangan: 
Bagi Anda yang menginginkan saya menulis resensi semacam di atas, bisa kontak saya langsung via WA, dan tidak menerima telepon. Terimakasih.  
Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha