Cerita Kiai Mathori, Wali Jadzab Surodadi Jepara
Cari Judul Esai

Advertisement

Cerita Kiai Mathori, Wali Jadzab Surodadi Jepara

M Abdullah Badri
Sabtu, 23 Maret 2019

kiai nyentrik dari jepara
Ilustrasi pijar api di malam hari. Foto: istimewa. 
Oleh M Abdullah Badri

KIAI Mathori adalah seorang kiai nyentrik yang hidup pada 1950an di Desa Surodadi, Kedung, Jepara. Banyak warga Jepara, bahkan Kedung sendiri, yang tidak mengenal sosok kiai aneh dan jadzab (nyentrik) tersebut, mengingat beliau adalah generasi sepuh yang tidak melegenda di sekitar Jepara.

Generasi canggih sekarang, kata KH. Ahmad Mawardi, Bugel, jarang yang bisa memiliki keramat seperti Mbah Kiai Mathori Surodadi, yang maqbul cepat doanya. Generasi canggih, katanya, cangkeme nggah-nggih, tapi atine durung mesti nggih (mulutnya berkata iya, tapi belum tentu hatinya berkata iya), alias banyak omong dan berbohong pada dirinya sendiri.

Di zaman belum canggih itu, Mbah Mathori Surodadi dikisahkan sering membawa pijar api kaca tiap malam. Belum ada listrik masuk kampung di tahun-tahun tersebut. Tidak ada yang mengetahui maksud Mbah Mathori berkeliling desa dengan pijar apinya.

Makan di siang hari Ramadhan

Suatu kali, di bulan puasa, Mbah Mathori mampir ke warung yang buka siang hari. Tanpa dinyana, semua makanan persediaan pemilik warung dihabiskan Mbah Mathori. Terang saja orang-orang menyebut beliau aneh. Ada kiai, tengah Ramadhan bukannya ikut berpuasa malah menghabiskan makanan di warung, siang hari pula. Begitu gumam mereka.

Apa yang terjadi kemudian?

Orang-orang yang mencibir Kiai Mathori di warung justru ditunjukkan sebuah keajaiban. Mulutnya dibuka dan kemudian diperlihatkan kepada mereka. Anehnya, dari mulut itu nampak sebuah lautan luas dengan kapal-kapal perahunya, dimana para nelayan di sekitar Surodadi yang sedang mencari ikan, terlihat sedang makan bersama di sana. Padahal, ketika pulang, mereka statusnya sebagai shaim (yang berpuasa wajib).

Sampai di daratan, mereka akhirnya kelaparan. Makanan yang dihabiskan Mbah Mathori ternyata adalah jatah buat para nelayan yang tidak berpuasa saat melaut tersebut. Jadi, pada hakikatnya, Mbah Mathori sedang menghukum para nelayan yang tidak berpuasa itu.

Kiai yang sering bergaul dengan Mbah Mathori, salah satunya adalah Mbah Mawardi Bugel. Saking akrabnya, Mbah Mawar sering memanggil Kiai Mathori dengan sebutan "Kek Mathori" (dalam kesan orang Jawa). Keduanya dikenal sebagai waliyyullah yang majdzub (nyentrik). Lahumal fatihah! [badriologi.com]

Keterangan: 
Kisah ini saya tulis dari ingatan hasil obrolan dengan KH. Ahmad Mawardi (Mbah Mad), di Bugel, Rabu siang, 20 Maret 2019. Barangkali ada yang meneruskan kisah-kisah kiai lokal Jepara, cerita di atas bisa jadi bahan tambahan. 

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah