Cerita Ndoro Ali Pulang ke Rumah Setelah Wafat Puluhan Tahun
Cari Judul Esai

Advertisement

Cerita Ndoro Ali Pulang ke Rumah Setelah Wafat Puluhan Tahun

M Abdullah Badri
Senin, 11 Maret 2019

Ilustrasi waktunya pulang. Foto: istimewa.
Oleh M Abdullah Badri

TAHUN 1982, Ndoro Ali Mayong sudah wafat ila rahmatilllah. Sejak itu, beliau pulang selama tujuh kali ke rumah putranya, Habib Hasan, secara langsung kasat mata. Ketika pulang ke rumah, Habib Hasan selalu saja tidak lupa kalau abahnya sudah wafat. Setelah Ndoro Ali selesai berpesan dan menghilang, Habib Hasan baru teringat kalau abahnya sudah wafat. Habib Hasan sendiri wafat pada tahun 2017 lalu.

Salah satu cerita yang saya dengarkan langsung dari sahibul hikayat, pada Selasa 11 Desember 2018 adalah tentang pesan Ndoro Ali kepada seorang kiai di Jepara daerah utara. Kepada Habib Hasan, Ndoro Ali meminta supaya sang kiai rujuk kembali kepada istri tertuanya. Ndoro Ali berpesan supaya pesan ini disampaikan langsung oleh sahibul hikayat kepada sang kiai.

Ia menunggu lama di sebelah pondok. Kiai itu memang terkenal di Jepara. Ia sambut sahibul hikayat bersama beberapa santri yang mengawal. Mungkin habis mengisi pengajian atau undangan dari luar kota. Katanya.

Melihat banyaknya santri yang sliweran di pondok sang kiai, sahibul hikayat mengajak kiai menuju sebuah rumah kecil yang kosong. Pesan disampaikan di sana. Hanya empat mata, demi menjaga rahasia.

Saat ini tersampaikan di gubug kecil itu, ternyata sang kiai tidak mau manaati perintah Ndoro Ali sebagaimana disampaikan sahibul hikayat. Sang kiai tidak percaya. Mana mungkin orang meninggal berpesan lewat sahibul hikayat yang secara nasab masih terhitung mantu keponakan.

Setelah Meninggal

“Lebih baik saya tidak beristri daripada harus hidup dengan dia (istri pertama maksudnya, pen.),” jawab sang kiai.

Nggeh monggo. Saya hanya menyampaikan pesan guru saya almarhum,” kata sahibul hikayat, yang kemudian dimarahi.

Dua hari kemudian, ketika sang kiai hendak pergi ke kantor Bupati Jepara (saat itu Hendro Martodjo), mobil yang dikendarainya mengalami kecelakaan. Ada motor yang menabrak kendaraan kiai. Tangan dan kakinya luka berat, dan terpaksa harus dirawat di rumah sakit.

Kepada santrinya, kiai meminta supaya sahibul hikayat bisa didatangkan. Ia ingin meminta maaf karena menganggap enteng pesan Ndoro Ali.

“Maaf, saya tidak bisa menemui sekarang. Kan kemarin sudah saya temui. Mungkin saya yang salah karena kiai kok malah saya ceramahi. Saya yang meminta maaf atas pesan guru yang harus saya sampaikan,” jawab sahibul hikayat.

Istri pertama sang kiai ternyata dikleler (dibiarkan). Tidak dicerai, dan juga tidak dinafkahi. Ia lebih sibuk mengurus istri keduanya. Ndoro Ali itu orangnya paling kasihan dengan istri yang tidak dianggap begitu.

“Mungkin sang istri berinisial  “S” itu melaporan nasibnya ke Ndoro Ali (lewat wasilah) sehingga pesan tersebut harus disampaikan. Sang kiai yang tidak menuruti pesan itu mungkin dimakan bethorokolo. Hahaha,” tandas sahibul hikayat. Alfatihah buat sang kiai. [badriologi.com]