Jenazah Wali di Zaman Nabi Musa yang Disia-siakan Penduduk (Ngaji Ushfuriyah Bagian 4)

banyak jasad utuh para ulama yang hingga setelah 55 tahun tidak hancur
Ilustrasi gambar mengubur jasad utuh para wali Allah. Foto: istimewa. 
Oleh M Abdullah Badri

DICERITAKAN, pada zaman Nabi Musa as., ada seorang laki-laki yang meninggal dunia tapi jenazahnya disia-siakan oleh banyak orang. Penduduk setempat tidak ada yang sudi memandikan jenazahnya dan menguburkannya secara layak. Selama hidup, laki-laki itu dikenal penduduk sebagai orang fâsiq (pendosa).

Oleh penduduk setempat, mayat laki-laki tersebut diseret kakinya seperti binatang, lalu dibuang ke kotoran ternak. Nabi Musa as. kemudian mendapatkan wahyu dari Allah Swt.

"Hai Musa, ada seorang laki-laki yang meninggal dengan kondisi dibuang ke kotoran ternak di kampung ini. Ia adalah salah satu dari kekasih-Ku. Tapi mereka (penduduk kampung), tidak mau memandikan jenazahnya, enggan  mengkafaninya dan tidak pula menguburkannya. Pergilah, carilah, mandikanlah dan kafanilah ia, kemudian shalatkanlah dia dan kubur dengan layak," demikian wahyu Allah Swt.

Sesampainya di kampung tersebut, Nabi Musa as. mendengar langsung dari para warga kampung tentang laki-laki itu, yang menurut mereka, berperangai buruk dan suka melakukan perbuatan tidak terpuji. Mul’inan, suka misuh-misuh (ringan mulut).

"Di mana (jenazahnya) sekarang. Allah telah memerintahkankan datang ke sini karena dia. Beritahu dimana lokasinya segara," pinta Nabi Musa as. kepada para penduduk kampung.

Jenazah Utuh Wali Allah

Begitu Nabi Musa as. dan para penduduk menyertainya melihat langsung kondisi mengenaskan jenazah laki-laki itu, Nabi Musa as. bermunajat kepada Allah Swt.

"Duh Gusti, Engkau memerintahkanku mengubur dan menyolatinya dengan layak, tapi tidakkah Engkau dengarkan kesaksian para penduduk di sini, di mana mereka menyebut laki-laki itu adalah pendosa. Engkau Maha Mengetahui atas siapa yang berhak dipuji dan dicela," kata Nabi Musa.

"Musa, betul apa yang dikatakan para penduduk, ihwal perilaku laki-laki itu yang buruk selama hidup. Tapi jelang meninggal, dia sudah meminta pertolongan (syafaat) kepada-Ku dengan tiga perkara, yang jika ketiganya itu diminta oleh setiap orang yang berdosa dari semua hamba-Ku, tentu aku mengabulkannya. Bagaimana Aku tidak memberikan rahmat (ampunan) atas laki-laki pendosa itu, sementara ia sendiri sudah memintakannya kepada-Ku. Aku Maha Pengasih di antara para pengasih lainnya".   

"Apa tiga hal tersebut, Gusti?" Tanya Nabi Musa as.

"Pertama, ketika dekat ajalnya, laki-laki itu berkata: Ya Rabbi, Engkau mengetahui kalau hambamu ini penuh dengan maksiat, sementara, dari hati yang terdalam, hamba sangat membenci perbuatan maksiat. Tetapi, ada tiga hal yang mendorong hamba sehingga jatuh melakukan maksiat, padahal kebencian kepada maksiat juga ada dalam hati hamba, Gusti. Pertama adalah hawa nafsu, kemudian teman (lingkungan) yang buruk serta Iblis laknatullâh alaih. Ketiga hal itulah yang menjatuhkan hamba dalam kubangan maksiat. Engkau lebih mengetahui apa hamba katakan ini, Gusti. Ampunilah hamba,

"Kedua, ia berkata: Ya Rabb, Engkau mengetahui bahwa hambamu ini memang melakukan perbuatan maksiat, sehingga tersungkur bersama orang-orang fâsiq. Padahal, hamba lebih cinta bersahabat dengan orang-orang baik (shâlihîn) yang zuhud, dan kumpul bersama mereka lebih hamba cintai daripada bergaul dengan orang-orang fâsiq di sana,

"Ketiga, Engkau Maha Mengetahui daripada hamba, bahwa orang-orang shâleh tersebut lebih aku cintai daripada para fâsiqîn itu. Buktinya, bila dihadirkan kepada-Mu dua orang, yang satu shâlih, dan satunya lagi thâlih (buruk), Engkau tentu lebih mendahulukan permintaan yang shâlih daripada yang thâlih".

Dalam riwayat Wahab bin Munabbih, yang dikatakan laki-laki tersebut adalah:

"Ya Rabb, jika Engkau menghapus dosaku dan mengampuniku, para wali dan Nabi-mu tentu akan berbahagia, sementara setan yang menjadi musuh hambamu dan musuh-Mu, jelas akan bersedih. Tapi jika Engkau menyiksaku karena dosa-dosaku, setan dan sekutunya tentu akan bahagia, sementara para Nabi dan wali-Mu akan amat bersedih. Dan aku tahu ya Allah, kebahagiaan para wali-Mu lebih aku cintai daripada melihat kebahagiaan setan dan sekutunya,

"Karena itu, mohon ampunilah hambamu ini, ya Allah. Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui atas apa yang telah aku ucapkan ini. Mohon rahmat-Mu ya Allah, dan ampunilah".

"Kemudian aku memberinya ampunan dan menghapus segala dosa-dosanya, karena Aku Maha Bijaksana dan Maha Merahmati, terutama bagi mereka yang mengakui dosanya di hadapan-Ku. Dan laki-laki ini, wahai Musa, telah melakukan pengakuan dosa. Karena itulah Aku mengampuninya dan menghapus segala dosanya," kata Allah Swt. kepada Nabi Musa as.

Allah lalu memeritahkan Nabi Musa as. untuk melakukan perintah-Nya. Dan Allah Swt. menjamin, siapa saja yang ikut menyalati jenazah laki-laki tersebut, dan menghadiri pemakamannya, ia akan diberi ampunan oleh Allah Swt.

Kisah tentang wali Allah di zaman Nabi Musa as. ini mengingatkan kisah wali Allah dari Kedungmutih, Demak, bernama Kiai Malik atau Kiai Maliki. Baca kisahnya dalam judul: Mbah Malik Kedungmutih, Wali Nyentrik yang Menjuluki Habib Luthfi Begini.

Sekian, dan akan berlanjut edisi “Sayyidina Ali Dicegat Kakek Nasrani Saat Jamaah Subuh (Ngaji Ushfuriyah Bagian 5)”, tentang hadits ketiga Kitab Mawa’idlul Ushfuriyah. [badriologi.com]

Keterangan:
Artikel ini adalah dokumentasi Ngaji Malam Kemisan (Wage), 25 Dzulhijjah 1439 H/5 September 2018.

Klik untuk komentar