Mbah Malik Kedungmutih, Wali Nyentrik yang Menjuluki Habib Luthfi Begini
Cari Judul Esai

Advertisement

Mbah Malik Kedungmutih, Wali Nyentrik yang Menjuluki Habib Luthfi Begini

M Abdullah Badri
Minggu, 03 Maret 2019

Ilustrasi wali Allah yang mastur. Foto: istimewa. 
Oleh M Abdullah Badri

TIDAK banyak yang mengetahui ulama' yang juga auliya’ satu ini. Namanya Mbah Malik. Beliau pernah hidup di Kedungmalang, Kedung, Jepara. Sebuah wilayah desa pesisir Jepara yang dominan penduduknya berprofesi sebagai nelayan.

Karena tampilan fisiknya yang nyentrik, warga tidak banyak yang mengenal beliau sebagai wali Allah. Selama hidup, Mbah Malik Kedungmutih tidak menampakkan diri sebagai seorang ulama dan wali Allah yang butuh dihormati oleh manusia pada umumnya.

Beliau lebih banyak tampil sebagai seorang yang suka meminta. Ibaratnya, bila pada umumnya para kiai lebih banyak yang memberi, Mbah Malik justru meminta. Hal yang menurut syariat justru dianggap merendahkan diri.

Dikisahkan, Mbah Malik Kedungmalang sering meminta topi kepada warga sekitar untuk dipakai silaturrahim. Meski pernah menjadi pengurus NU, seolah-olah beliau itu tidak pernah ingin dihormati sebagai seorang kiai.

Dua tahun setelah wafat, KH. Ridlwan Masduki baru mengetahui siapa Mbah Malik sebenarnya dari penuturan Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan beberapa tahun lalu. Mbah Malik adalah putra dari Kiai Nur Hadi, dan ibunya bernama Nyai Muthi'ah.

“Wafatnya sekitar 10an tahun yang lalu,” kata Kiai Masduki, di rumahnya, Sowan, Kedung, Jepara, Sabtu (02/03/2019) malam.

Melihat tahun wafatnya, Mbah Malik yang dimaksud bukan Syeikh Maulana Malik yang dimakamkan di Kedungmalang dan dihaul-i setiap tahun oleh penduduk sekitar. Kata Kiai Masduki, Mbah Malik yang dimaksud, makamnya ada di Semarang.

Sulthânul Auliyâ


“Mbah Malik itu yang pertama kali menjuluki saya sebagai sulthânul auliyâ’,” demikian kenang Abah Luthfi bin Yahya, diceritakan kepada Kiai Masduki saat sowan, dua tahun setelah Mbah Malik wafat.

Menurut Abah Luthfi, Mbah Malik Kedungmalang adalah salah satu wali abdal di zamannya. Saat silaturrahim ke Pekalongan, Mbah Malik selalu memberi amplop, dan begitu pula, Abah Luthfi juga balik memberi amplop.

Menurut Abah Luthfi, bila disentuh dengan tangan, tubuh Mbah Malik sangat lembut dan seolah tidak bertulang seperti Nabi Khidzir. Datangnya pun selalu tiba-tiba kalau ke Pekalongan, tanpa kendaraan dan tanpa seorang pengantar.

Suatu kali, Abah Luthfi pernah memerintahkan murid ndalemnya untuk mengikuti Mbah Malik saat pulang. Namun, begitu keluar gerbang, belok arah, Mbah Malik sudah raib, tidak ada.

Wali abdal memang selalu misterius. Mengapa makamnya ada di Semarang pun, Kiai Masduki tidak mengetahui asal musababnya.

Mbah Malik meninggalkan keturunan di Kedungmalang. Salah satu putra mantu yang disebut Kiai Masduki adalah Kiai Nafi’, yang menjadi Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah di sana. Mbah Malik memiliki dua anak, Arwani (di Semarang) dan Mufassiroh.

“Sayangnya, saya belum tidak pernah bertemu Mbah Malik selama hidup. Padahal beliau itu kiai NU. Saya baru tahu beliau setelah dua tahun wafat,” tutur Kiai Masduki. [badriologi.com]

Keterangan: 
Kisah ini dituturkan oleh Habib Luthfi bin Yahya, didengar langsung oleh penulis dari murid khalifah thariqah beliau di Jepara, KH. Masduki Ridlwan di rumahnya Sowan, Kedung, Jepara pada Sabtu Malam – Ahad Pahing (2 Maret 2019) usai Isya'. Saksi penuturan kisah ini adalah ibu penulis, dan salah satu Pengurus Pusat MATAN, Syukron Makmun (Bugel). Hasil sowan lainnya ke Kiai Masduki penulis abadikan dalam esai berjudul Hilang Bersama Nabi Khidzir, Habib Hasyim Nyantri ke KH. Sholeh Darat.

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah