Sayyidina Ali Dicegat Kakek Nasrani Saat Jamaah Subuh (Ngaji Ushfuriyah Bagian 5)
Cari Judul Esai

Advertisement

Sayyidina Ali Dicegat Kakek Nasrani Saat Jamaah Subuh (Ngaji Ushfuriyah Bagian 5)

M Abdullah Badri
Sabtu, 09 Maret 2019

kisah sayyidina ali lengkap
Kisah Sayyidina Ali dan Kakek Nasrani. Foto: Ilustrasi istimewa. 
Oleh M Abdullah Badri

HADITS ketiga dalam Kitab Mawâ’idul Ushfuriyah di bawah ini adalah riwayat dari Sahabat Anas bin Malik ra., yang teksnya adalah:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: إن الله ينظر إلى وجه الشيخ صباحا و مساءً ويقول يا عبدي قد كبر سنّك ورقّ جلدك ودقّ عظمك واقترب أجلك وحان قدومك إليَّ فاستحيي منّيِ فأنا أستحيي من شيبتك أن أُعذّ بك فى النّار

Artinya:
Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah pada tiap pagi dan sore selalu menatap wajah hambanya yang berusia lanjut (syaikh) mengatakan, “hambaku, umurmu sudah menua, kulitnya menipis, tulangmu sudah rapuh, ajalmu sudah mendekat dan kehadiranmu kepada-Ku kian dekat. Maka, malulah kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku malu menyiksamu di neraka, karena uban (putih) mu”.   

Tentang hadits ketiga di atas, ada sebuah hikayat penuh hikmah yang disertakan penulis Kitab Uhsfuriyah. Berikut kisahnya:

Suatu hari, Sayyidina Ali ra. dikisahkan sedang pergi shalat berjamah Subuh. Di jalan, ia bertemu dengan seorang laki-laki tua yang berjalan pelan dan tenang. Padahal, saat itu, Sayyidina Ali harus cepat sampai.

Karena menghormati dan ta'dhîm, Sayyidina Ali tidak mau mendahului kakek tersebut meski fajar kian menjulang dan matahari segera terbit.

Begitu sampai di pintu masuk masjid, ternyata sang kakek tidak terus melaju. Ia tidak belok mengikuti jama'ah Subuh. Diam-diam Sayyidina Ali ra. baru mengetahui kalau sang kakek adalah seorang Nasrani.

Setelah masuk ke masjid, ternyata Sayyidina Ali ra. masih bisa berjama’ah dengan Rasulullah Saw. yang saat itu masih di posisi ruku'. Tidak seperti biasa, kali ini Rasulullah Saw. memanjangkan ruku'nya hingga dua kali waktu ruku' sehingga Sayyidina Ali ra. bisa mengikuti jama’ah Subuh tanpa telat. 

Kisah Sayyidina Ali

Usai jama’ah, Sayyidina Ali ra. bertanya kepada Rasulullah Saw., “mengapa ruku’nya tadi dipanjangkan ya Rasul, padahal selama ini tidak pernah aku melihat demikian?”

"Tadi, ketika aku ruku' dan mengucapkan subhâna rabbiyal adhîm, —sebagaimana wirid ruku' selama ini,— dan ketika aku angkat kepala, Jibril as. tiba-tiba datang dan meletakkan sayapnya di pundakku dan ia lama membiarkanku dalam posisi ruku'. Barulah setelah Jibril mengangkat sayapnya aku bisa mengangkat kepala," jawab Rasulullah Saw.

"Mengapa Jibril melakukannya, ya Rasul?" Tanya para sahabat yang hadir.

"Aku tidak menanyakan hal itu".

Melihat percakapan yang terjadi antara Rasulullah Saw. dan para sahabat tersebut, Jibril as. kemudian datang dan berkata,

"Wahai Muhammad, Ali tadi sebetulnya ingin cepat-cepat sampai berjama'ah. Tapi di jalan ia berpapasan dengan seorang kakek dan ia tidak kalau kakek itu seorang Nasrani. Ia tidak mendahului kakek tersebut karena menghormati sepuhnya dan memberikan haknya sebagai orangtua. Allah kemudian memerintahkanku untuk menahanmu dalam ruku' sehingga Ali tidak telat berjama'ah Subuh,

"Dan ini bukan merupakan sebuah keajaiban yang paling ajaib. Allah bahkan telah memerintahkan Malaikat Mika'il as. menahan Matahari lumayan lama dengan sayapnya, sehingga ia tidak segera terbit (dari ufuk Timur) sebab menghormati Sayyidina Ali ra.,

"Kata Jibril: ‘inilah derajat mulia bagi orang yang menghormati seorang tua renta meski Nasrani’”.

Bagaimana dengan derajat seorang ustadz di zaman now, yang hanya karena berbeda pilihan politik, dia menghardik seorang ulama’ sepuh yang sangat dihormati oleh warga negara Indonesia lintas iman?

Sekian, dan akan berlanjut edisi “Syaikh Al-Maturidi Gagal Memenuhi Perintah Guru (Ngaji Ushfuriyah Bagian 6)”, masih dalam narasi hikayat hadits ketiga Kitab Mawâ’idlul Ushfuriyah. [badriologi.com]

Keterangan:
Artikel ini adalah dokumentasi Ngaji Malam Kemisan (Legi), 3 Muharram 1440 H/12 September 2018.

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah