Sejarah Munculnya Tradisi Larung Kepala Kerbau
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

Sejarah Munculnya Tradisi Larung Kepala Kerbau

M Abdullah Badri
Sabtu, 09 Maret 2019
Loading...

tradisi larung kerbau di jepara
Sejarah larung kerbau di Jawa. Foto: detikcom
Oleh M Abdullah Badri

MENJELASKAN kepada orang salafi wahabi tentang hukum melarung kepala kerbau, kita bisa dibuat jengkel jika hanya menyuguhkan dalil. Bukan tidak mungkin mereka hanya akan menganggap istinbâth hukum melarung kerbau hanya penafsiran, yang tentunya tidak akan mereka terima. Jelaskan saja menggunakan akal yang rasional, dan mereka suka penjelasan begitu, meski tanpa dalil naqli (teks Al-Qur’an maupun Hadits).

Jelaskan saja bahwa hukum melarung kepala kerbau itu tidak haram, apalagi syirik. Justru melarung kepala kerbau ke laut atau sungai adalah bagian dari para Walisongo dalam menumpas kemusyrikan. Lho kok?

Begini ceritanya. Dulu, sebelum Islam menyebar ke seluruh Nusantara, yang dilarung ke laut oleh para penduduk dalam rangka sebagai bentuk sesembahan bukan hanya kepala kerbaunya, tapi seluruhnya, satu ekor penuh. Para wali meyakinkan kepada masyarakat kala itu kalau Nyai Kidul, yang dikirim sesembahan itu, sudah tidak lagi menginginkan satu ekor kerbau dilarung.

Sejak Islam masuk, kata para Wali, Nyai Kidul sudah tidak lagi mau menerima utuh larung kerbau. Cukup kepala kerbaunya saja yang dilarung. Dan uniknya, ucapan para wali tersebut diamini penuh oleh penduduk. Mereka menyembelih kerbau, tapi seluruh dagingnya (kecuali kepala) dilarung ke sungai untuk terserah apapun acara adat mereka.

Jadi, awalnya, sejarah pelarungan kerbau itu justru bukan untuk memubadzirkan daging sapi. Sebaliknya, mengurangi agar tidak semua dagingnya dilarung ke laut atau sungai. Dan hal itu bagian dari cara dakwah para Walisongo secara tajrîdî (gradual), bertahap. Tidak langsung mengafir-ngafirkan seperti golongan salafi–wahabi itu.

Harusnya, kalau niat berdakwah, kurangi dong yang dilarung. Misal, hanya kupingnya saja, mata kerbaunya, atau hanya hidungnya saja. Bukan mengafirkan. Dah, gitu aja. [badriologi.com]

Jakarta, 22 Januari 2019
Loading...