Waspada Terjemahan Kitab Ushfuriyah Zeid Husein Alhamid

terjemah ushfuriyah zein husain alhamid terindikasi syiah
Cover terjemah Buku Terjemah Petuah Ushfuriyah dan isi bagian hadits ke-14 Zeid Husein Alhamid.
Oleh M Abdullah Badri

ADA yang aneh dalam versi terjemahan Kitab Ushfuriyah ala Zein Husein Alhamid. Sejak beberapa hadits di awal kitab, ada banyak tahdzhif (penghapusan) penerjemahan dari teks asli yang berbahasa Arab.

Setidaknya, hingga saat catatan ini saya tulis, saya menjumpai dua hadits dalam Buku “Terjemah Petuah Usfuriyah (cetakan kedua, 2012, terbitan Mutiara Ilmu Publisher)”, yang tidak saya temukan lafadz Arab nya di kitab Ushfuriyah.

Pada hadits ke-14 misalnya, Zeid Husein Alhamid justru menyertakan hadits tentang “Anjuran Untuk Banyak Membaca Qul Huwallahu Ahad” riwayat dari Sayyidina Ali karramâllahu wajhah (kw.). Padahal, hadits itu tidak ada dalam teks kitab aslinya. Ini isi hadist yang dimuat Zeid Husein Alhamid dalam buku terjemahan tersebut.

teks terjemah kitab ushfuriyah yang tidak ada dalam karya syeikh abu bakar ushfuriyah

Coba bandingan, di Kitab Al-Mawâ’idlul Ushfuriyah sendiri (saya menggunakan cetakan pertama terbitan Darul Ihya Indonesia), hadits ke-14 temanya adalah “Laknat kepada Yang Mencaci-Maki Sayyidina Abu Bakar dan Umar”.

terjemah kitab ushfuriyah yang tidak ada
Hadits ke-14 Kitab Ushfuriyah yang tidak diterjemahkan Zein Husain Alhamid.
Ini terjemahannya:

Dari sahabat Anas bin Malik ra., ia berkata: Suatu ketika, Rasulullah Saw bertemu dengan Malaikat Jibril a.s dan beliau bertanya, apakah umatku akan dihisab (ya Jibril)?

"Benar, semua umatmu akan dihisab selain Abu Bakar ra. Tidak ada amal perhitungan (kelak) atas Abu Bakar. Dikatakan kepadanya (besok di akhirat), sila masuklah engkau (wahai Abu Bakar) ke surga sekarang! Tapi, ia menjawab "Tidak”. Abu Bakar tidak mau masuk ke surga sebelum ia masuk bersama dengan orang-orang yang pernah menyintainya di dunia," demikian kata Jibril as. kepada Rasulullah Saw.

Hikayat

Terkait hadits di atas, terdapat sebuah hikayat yang sanad ceritanya bersambung hingga kepada Sahabat Anas bin Malik ra., perawi hadits ke-14 Kitab Ushfuriyah di atas. Ini kisah lengkapnya:

Suatu kali, kami bersama Nabi Muhammad Saw. sedang duduk bersama di suatu tempat. Tiba-tiba seorang sahabat datang tergopoh-gopoh di hadapan Nabi dan ia belepotan dengan bercik darah. Rasulullah bertanya, apa yang sedang menimpa kalian?

"Anu ya Rasul, tadi saya kebetulan pas berjalan ke sini, ada anjing betina peliharaan laki-laki munafiq (sebelah), dan saya digigit," jawabnya. Rasulullah kemudian mempersilakan sahabat itu duduk di samping beliau.

Beberapa saat kemudian, seorang sahabat lain juga datang di hadapan Rasulullah Saw. dengan kondisi yang sama, dan karena digigit anjing yang sama pula katanya, hingga berdarah.

Melihat kedua sahabatnya digigit anjing milik orang munafiq, Rasulullah Saw. kemudian memerintahkan para sahabatnya untuk membawa anjing betina galak tersebut. Serentak para sahabat yang melihat, langsung terhenyak sendiko dawuh memenuhi perintah Rasul. Mereka membawa pedang masing-masing, mencari anjing tersebut sampai ketemu.

Namun, di tengah akan dieksekusi oleh para sahabat itu, si anjing yang sudah dibawa ke hadapan Rasulullah Saw., ia justru wadul (mengadu) dan berkata dengan fasih (bisa dipahami bahasa manusia) kepada Rasulullah Saw. begini:

"Ya Rasul, tolong lepaskan saya! Mohon jangan bunuh saya ya Rasul. Saya adalah anjing betina yang beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya," keluh si anjing.

"Mengapa kau gigit kedua laki-laki ini?" Tanya Nabi Muhammad Saw.

"Saya hanya seekor anjing betina yang diperintah untuk menggigit siapa saja yang misuhi (mencaci-maki) Abu Sayyidina Bakar dan Umar ra.," jawab si anjing.

Mendengar jawaban fasih binatang tersebut, Rasulullah Saw. kemudian berkata kepada kedua sahabatnya yang digigit, "kalian berdua mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan si anjing tadi?"

"Ya Rasulallah, nggeh, kami mendengar dan tobat kepada Allah (tidak lagi mencaci-maki Abu Bakar dan Umar), mulai sekarang," jawab keduanya. Demikian terjemahnnya.

Saya tidak berhasil menemukan biografi siapa penerjemah bernama Zaid Husain Alhamid tersebut? Di internet, jejak digitalnya hanya terbaca sebagai penerjemah dan penulis kisah-kisah 25 Nabi.

Mengapa pula ia tega mentahrîf (mengubah) muatan hadits di Kitab Mawa'idlul Ushfuriyah, padahal status dia hanya menerjemahkan saja, bukan mengarang. Bila ada pembaca yang mengetahui riwayat ideologis si penerjemah, silakan komentar pada kolom komentar di bawah ini!

Bagi Anda yang ingin membaca versi PDF postingan ini, lengkap dengan tampilan screenshoot temuan penulis, silakan unduh di link: Waspada Terjemahan Kitab Ushfuriyah Zeid Husein Alhamid. Terimakasih. [badriologi.com]

Keterangan:
Artikel ini adalah dokumentasi Ngaji Malam Kemisan (Wage), 23 Jumadal Akhirah 1440 H/27 Februari 2019.

Klik untuk komentar
 
close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah