Hutang Lunas dengan Berbakti Kepada Orangtua
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

Hutang Lunas dengan Berbakti Kepada Orangtua

M Abdullah Badri
Minggu, 21 April 2019
Loading...

Pak Shoib Mlonggo. Foto: dokumen penulis. 
Oleh M Abdullah Badri

BERBAKTI kepada orangtua bukan perkara gampang bila tidak dilandasi ikhlash lillahi ta'ala. Berkah merawat ikhlash orangtua yang sedang sakit bertahun-tahun, Pak Shoib diberi anugerah bisa membayar hutang yang menumpuk tanpa harus bekerja lelah.

Itulah yang ingin saya ceritakan dalam esai ini, tentang manfaat berbakti kepada orangtua sesuai pengalaman Pak Shoib, pedagang susu di Mlonggo, Jepara, yang pada 16 April 2019 lalu rampung melunasi hutangnya kepada saya 6 tahun lalu (2014). 

Pertama kali saya mengenal Pak Shoib pada akhir September 2012. Tepatnya saat Bapak saya (allah yarham) sakit di RSUD Kartini Jepara dan meminta supaya mencarikan susu kedelai hangat tiap pagi.

Muter-muter mencari pedagang susu kedelai di Jepara, saya bertemu dengan Pak Shoib. Tiap pagi saya datang ke rumahnya mengambil susu kedelai hangat, untuk kemudian saya berikan kepada Bapak yang sakit, hingga beliau meninggal 5 Oktober 2012.

Sebagai anak, hal terakhir yang bisa saya berikan kepada Bapak (sebelum wafat) ya memang susunya Pak Shoib tersebut. Tiap habis minum susu kedelai, Bapak selalu puas dan bilang, "nikmate...susu iki". Dan saya bahagia sekali mendengarnya.

Karena tiap hari datang ke rumah, saya dan Pak Shoib menjadi akrab. Saking dekatnya dengan keluarga, ketika saya ditawari teman untuk berjualan jamu klanceng, barang saya stok tanpa modal awal ke Pak Shoib.

Pasalnya, saya tahu Pak Shoib adalah pedagang yang ulet. Saat saya kirim satu kol jamu, Pak Shoib juga tengah sukses berdagang telur puyuh keliling. Sehari, akunya, Pak Shoib mampu menghabiskan 10 ribu butir telur puyuh dengan laba per butirnya Rp. 10.

Mengetahui jaringan dagang Pak Shoib yang luas, saya beranikan kirim satu kol jamu ke dia, tanpa modal kulakan awal sama sekali, karena sudah saling percaya.

Ternyata, setelah jamu tersebut habis, tidak ada pelunasan, kecuali dengan angsuran seadanya. Kadang diberi 100 ribu, 200 ribu, dan seterusnya. Ketika saya tagih, dia acapkali hanya menjawab "maaf sedang tidak punya uang".

Sejak itu, saya tidak pernah menagih lagi hingga H-1 jelang Pemilu 2019, Selasa 16 April 2016 lalu.

Tiba-tiba saja nomor atas nama Pak Shoib yang tidak pernah saya telepon sejak 5 tahun terakhir berkirim WA ke saya, ingin jagongan dan melunasi hutang.

Saya temui di depan Madrasah Zumrotul Wildan Ngabul. Saya bertanya, apakah dia memang sudah punya uang untuk melunasi hutang, atau memang terpaksa melunasi?

Pak Shoib kemudian menceritakan kisah sukses usahanya setahun terakhir. Dia mengaku, pasca Idul Adha 1439 H, bisnis mebel kayu menjadi pilihan usahanya. Semua hutangnya sejak beberapa tahun terakhir, lunas.

Selasa siang itu, Pak Shoib bersyukur menjadi menusia yang bebas hutang. Saya adalah bagian dari orang-orang awal di tahun 2014 yang dicatat harus dia lunasi hutangnya kelak.

Hutang Mulai Menumpuk

Pak Shoib terjerat hutang ke puluhan orang karena kebutuhan bulanan anaknya di Pondok Pesantren Al-Khidmah Kedingding Surabaya (kini sudah lulus sarjana), menghabiskan setidaknya Rp. 4 juta.

Penghasilan sebagai pedagang susu kedelai, telur puyuh dan tukang cat kursi mebel, tentunya tidak cukup untuk menjadikan anaknya sebagai santri yang sarjana yang pintar di pondok dan kampus.

Terpaksa lah Pak Shoib hutang sana-sini, berganti-ganti orang untuk menutupi kebutuhan harian dan kebutuhan sekolah  semua anaknya. Ini belum biaya merawat orangtuanya yang sakit.

Dijerat kebutuhan pendidikan anak, Pak Shoib tidak melupakan orangtuanya. Dia kerap berhutang kepada tetangga dan teman hanya untuk menutup biaya perawatan sakit orangtua.

Ia tidak mempedulikan cara pelunasan hutangnya kelak. Pak Shoib percaya, bila dia berhutang dan memiliki niat melunasi, Gusti Allah bakal membantu dengan cara indahnya.

Ia tidak peduli sebesar apa dana yang dihabiskan untuk perawatan orangtuanya. Ia juga tidak peduli, apakah dulur-dulur kandungnya nanti ikut iuran membantu pelunasan hutangnya untuk biaya perawatan rumah sakit orang tuanya.

Hingga orangtuanya meninggal, banyak hutang yang harus ditanggung. Kepada saya, hutangnya sudah mencapai Rp. 80 juta. Mulai dari angka 100 ribu, hingga jutaan. Ia catat semua.

Saat orangtuanya meninggal ini, Pak Shoib sudah mulai merintis bisnis mebel, dunia industri lokal Jepara yang sudah digelutinya sejak sekolah di Madrasah Tsnawiyah (MTs).

Jika pada tahun 2014 Pak Shoib hanya menjadi tukang cat kayu, pada 2018 akhir, dia sudah mulai berani mengirim produk ke bos gudang mebel.

Dan, 3 hari pasca orangtuanya meninggal (nelung dina), Pak Shoib kebetulan mendapatkan order paket kursi mebel. Ia carikan barang ke beberapa tempat, dan akhirnya, dia mendapatkan keuntungan bersih 17 juta (untuk pertama kali dalam sejarah  hidupnya).

Ia gunakan uang itu untuk melunasi hutang-hutangnya secara bertahap.

Pasca 7 hari wafat orangtuanya (mitungdina) rezeki datang lagi secara tiba-tiba. Order bernilai puluhan dia dapat tanpa repot, dan untungnya juga berlipat tanpa komplain.

Akunya, hutang Pak Shoib lunas pasca peringatan 100 hari orangtuanya meninggal (nyatus, tiga bulan lebih). Dan saat bertemu saya 10 Sya'ban 1440 H (8 bulan pasca orangtuanya meninggal), dia sudah memiliki 25 karyawan di brak mebelnya, serta modal kayu mebel senilai Rp. 50 juta.

Kini, dia tidak lagi mengontrol langsung bisnis mebelnya karena sudah memiliki orang kepercayaan. Pak Shoib menjadi bos untuk puluhan karyawan mebelnya.

Meski begitu, bisnis susunya masih berjalan hingga kini. Tampilannya juga masih ala pedagang telur puyuh, dan rokoknya juga masih Sukun, seperti dulu.

Saya ambil satu batang, lalu saya pulang karena ada segepok duit pelunasan hutang dan gerimis mendung mulai datang.

Saya tulis cerita ini untuk menginspirasi Anda, serta mengingat, bahwa dulu saya kenal Pak Shoib berkah memenuhi susu kedelai permohonan Bapak sebelum beliau wafat malam Jumat Wage. [badriologi.com]
Loading...