Naik Haji dengan Harta Karun Haram, di Makkah Kena Adzab Jadi Ular Berkapala Manusia
Cari Judul Esai

Advertisement

Naik Haji dengan Harta Karun Haram, di Makkah Kena Adzab Jadi Ular Berkapala Manusia

M Abdullah Badri
Jumat, 07 Juni 2019

Ilustrasi ular berkepala manusia. Gambar diambil penulis dari Tribunews.com.

Oleh M Abdullah Badri

PERCAYA atau tidak tidak, terserah Anda. Cerita ini bukan legenda karena saya dengarkan langsung dari saksi yang melihat langsung harta karun miliknya, dan diambil orang lain untuk naik haji tanpa cara-cara jujur.

Tapi percayalah, Makkah dan Madinah adalah miniatur kejujuran manusia. Apapun yang kita perbuat di tanah kelahiran, sangat mungkin mendapatkan balasan langsung dari Allah Swt. ketika menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Sebut saja namanya Nawi. Pada tahun 1974, ia melihat ada harta karun dari sebuah tanah keramat peninggalan Nyai Ratu Kalinyamat Jepara yang didapatkan oleh Mbah Sardi berupa benda, dari tanah miliknya, yang menurut penglihatan Mbah Pardi dan putranya, terlihat seperti batu bata.

Tapi oleh Nawi, ia melihat benda itu bukan batu bata, namun emas berlian karena meskipun kelihatan seperti batu bata, tapi lapisannya mengkilap, berkerlip-kelip seperti intan permata seperti biasanya, yang tentu saja bernilai sangat mahal.

Baca: Peringatan Kiai Turaichan Kepada yang Merasa Mewakili Ulama

"Mbah, buat saya saja batu batanya, toh jenengan juga masih memiliki batu bata lainnya di tanah jenengan sendiri," kata Nawi.

Mbah Sardi mengiyakan saja pinta si Nawi, karena perkataan dia benar adanya. Di tanah miliknya yang disebut warga setempat sebagai Kuto Bedah tersebut, batu bata bertumpukan tertanam banyak, tersimpan di dalam tanah.

Batu bata itulah yang disebut warga Robayan sebagai peninggalan kerajaan Nyai Ratu Kalinyamat bersama Sultan Hadlirin. Kuto Bedah adalah sebutan untuk kota yang hancur, ya bekas kerajaan Nyai Ratu Kalinyamat itu. Letaknya berbatasan antara Desa Robayan (Kalinyamatan) dan Brantak Sekarjati (Welahan) Jepara.

Kutho Bedah disebut-sebut sebagai tempat peninggalan harta berharga milik kerajaan Nyai Ratu Kalinyamat zaman memimpin Jepara selama 30 tahun pasca mangkatnya Sultan Hadlirin bin Mughayyat Syah di tangan Arya Penangsang. Kutho Bedah juga tempat petapaan Nyai Ratu Kalinyamat.

Nawi sengaja mengatakan benda itu kepada Mbah Sardi sebagai batu bata karena dia memiliki niat ingin mengambilnya, menjadi miliknya. Akhirnya, setelah diserahkan oleh Mbah Sardi, Nawi menggadaikan harta karun kepada seorang penguasaha Cina toko emas di desa sebelah.

Dari dana gadai emas itulah ia berangkat haji ke Makkah dan Madinah. Berlian keramat akan dilabur oleh sang pengusaha Cina bila Nawi tidak membayar sesuai tempo yang dijanjikan. Nawi sepakat, meski dana yang dia dapatkan hanya sebatas ongkos naik haji, ia rela menjaminkan berlian dari Mbah Sardi karena dia mendapatkannya tanpa susah.

Malang nasib. Pasca naik haji, ternyata Nawi tidak pulang-pulang ke rumahnya di Robayan. Banyak orang bertanya nasib di Makkah sana waktu itu. Keluarganya juga banyak yang menganggap Nawi sudah meninggal di tanah suci.

Baca: 15 Tahun Tinggal di Perumahan, Baru 2 Kali Masjidnya Gelar Perayaan Maulid Nabi

Beberapa tahun kemudian, jamaah haji dari desa Robayan ditemui sosok ular besar berkepala manusia, yang bisa berbicara bahasa Jawa dan mengenalkan dirinya sebagai Nawi. Bukan hanya satu dua orang yang dietemui, beberapa jamaah haji dari desa Robayan yang dikenal Nawi, ditemui juga olehnya, dan mereka bilang: ular berkepala manusia itu meminta makan.

Nawi menemui tetangganya di Makkah untuk menceritakan ihwal dirinya tidak bisa pulang dan menjadi ular. Ia kirim permintaan maaf lewat para jamaah haji tetangganya itu, agar Mbah Sardi memaafkan.

Meskipun Mbah Sardi dan putranya, yang melihat batu bata just sebagai batu bata, yang juga menjadi sumber kisah ini sudah memaafkan, tapi Nawi sudah kadung mendapatkan balasan dari Allah Swt. saat menunaikan ibadah haji. Ia sudah terlanjur mengambil hak orang lain. [badriologi.com]

Keterangan:
Kisah ini banyak saksi mata. Keturunan Mbah Sardi maupun Nawi juga masih bisa dilacak. Kisah ini juga masyhur di lingkungan warga setempat. Cerita dituturkan oleh putra Mbah Sardi pada Kamis malam, 6 Juni 2019.