[Penuh Ujian] Mengenalkan Islam Nusantara, Ratusan Orang Tertarik Jadi Muallaf
Cari Judul Esai

Advertisement

[Penuh Ujian] Mengenalkan Islam Nusantara, Ratusan Orang Tertarik Jadi Muallaf

M Abdullah Badri
Selasa, 16 Juli 2019

kisah perjuangan santri di kalimantan dayak
Kang Rasyid (peci motif macan) saat ngobrol bersama penulis, Kamis, 4 Juli 2019.

Oleh M Abdullah Badri

ASLINYA Demak, tapi sejak beberapa tahun terakhir Kang Rasyid, tokoh dalam kisah ini, justru memilih tanah Borneo sebagai lahan dakwah. Dari rumah ke rumah, tiap malam ia silaturrahim, ngobrol santai, ngopi bersama, untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat Suku Dayak dan sekitarnya tanpa ada yang membayar, dibantu beberapa temannya saja.

Ratusan orang tertarik menjadi muallaf karena warga keturunan Dayak sangat kenal dan mencintai Gus Dur -karena semangat toleransi NU sangat amat dihargai oleh mereka. Ya, kepada warga, Kang Rasyid mengenalkan Islam dengan, sebagai santri, atas nama NU. Kini, Kang Rasyid yang juga murid KH. Dzikron Abdullah (Semarang) itu membina ratusan mengajarkan shalat, ketauhidan, tajdwid dan membaca Al-Qur'an.

Berkah bantuan seorang muallaf yang berprofesi sebagai marketing obat generik, Kang Rasyid kini sudah memiliki puluhan orang yang mau berkumpul untuk bergiat dalam jama'ah Yasinan. Ada 46 orang yang setiap Jumat siang berkumpul membaca Yasin bersama, sebagaimana Islam Nusantara mentradisikannya.

Baca: Kisah Muallaf yang Terlunta-lunta di Zaman Malik bin Dinar (Ngaji Ushfuriyah Bagian 10)

Namanya berjuang, ada saja ujian yang diterima. Suatu kali, ada seorang bapak-bapak yang tiba-tiba memukul Kang Rasyid dengan kayu ulin sebesar kakinya, tanpa diketahui sebab awalnya. Peristiwa setahun silam itu terjadi di masjid saat Kang Rasyid mengajarkan Al-Qur'an kepada para muallaf. Ia tersungkur hingga berdarah dan tidak melawan karena pelaku sudah dikuasai amarah tanpa kontrol.

Kang Rasyid hanya pasrah, diam saja, hanya yakin memiliki Allah dan guru-guru yang membimbingnya. Oleh pelaku, Kang Rasyid diancam, "Kamu jangan lari dari tanggungjawab, jangan kabur dari sini," kata pelaku, yang sangat dikenal dekat oleh Kang Rasyid juga.

Istri pelaku yang saat kejadian ada di lokasi pun ikut ketakutan. Kejadian berdarah di masjid berlanjut. Sang istri jadi sasaran kemarahan suaminya di rumah. Gara-gara kejadian tersebut, jamaah ngaji para muallaf di masjid itu banyak yang tidak datang di kemudian hari. Orang ngaji jadi sepi.

Beberapa saat kemudian muncul isu Kang Rasyid dituduh selingkuh hingga katanya, menghamili istri pelaku. Masjid jadi sasaran demontrasi warga yang terkena hasudan oknum. Kabar menyebar hingga ke seluruh kecamatan, dan Kang Rasyid akhirnya disidang warga. Ia siap menghadapi semuanya karena memang tidak merasa bersalah atas fitnah yang tersebar.

Dalam sidang yang disaksikan warga, Kang Rasyid tidak terbukti selingkuh. Tidak ada warga sekitar yang bisa membuktikannya, karena 1).  Dia tidak pernah memboncengkan seorang perempuan pun selama bermotor di Borneo, 2). Setiap ngaji yang digelar, dia tidak pernah berdua dengan perempuan lain, dan selalu bersama dengan jamaah lainnya.

Karena tidak terbukti, pelaku masih saja menuntut agar Kang Rasyid menikahi istrinya (yang hendak diceraikan). Terang saja Kang Rasyid tidak mau karena anak-anaknya sudah besar dan ada yang sudah perawan pula. Selisih usianya sangat jauh.

Baca: Muncul Fenomena Aneh: Banyak Jin yang Diruqyah Mengaku Anak Buah Dajjal

Sebagai solusi (dari ancaman penjara), Kang Rasyid meminta kepada sang istri pelaku agar memaafkan suami, kembali ke suaminya dengan baik-baik, disaksikan oleh Camat, Lurah dan masyarakat banyak.

Ternyata, sang istri meminta syarat. Ia bersedia kembali kepada suami bila:

  1. Suami harus mau mengajar ngaji Al-Qur'an dan lainnya. (Dijawab tidak sanggup oleh pelaku).
  2. Bila tidak bisa ngajar, suami harus datangkan guru ngaji ke rumah. (Dijawab tidak sanggup lagi). 
  3. Bila masih tidak sanggung, suami harus mengijinkan sang istri untuk ngaji ke luar rumah. (Akhirnya diijinkan). 

Setelah diusut, dugaan suami yang marah tadi ceritanya disebabkan karena sang istri sering belajar ngaji ke luar rumah. Istrinya sibuk, sang suami merasa tidak mendapatkan pelayanan nafkah rumah tangga seperti sebelumnya. Suami merasa diduakan oleh kegiatan ngaji istrinya. Begitu dugaannya.

Kini, karena Kang Rasyid terus berdakwah menggunakan cara-cara rahmat ala Islam Nusantara yang menghargai adat, tradisi dan kebhinnekaan, komunitas muslim berkembang secara kultural di tanah Borneo. Terus maju kang! [badriologi.com]

Keterangan:
Cerita ini dituturkan langsung oleh Kang Rasyid kepada penulis, Kamis malam, 4 Juli 2019, di Yogyakarta.