Antara Sabar dan Ikhlash, Mana Lebih Utama?
Cari Judul Esai

Advertisement

Antara Sabar dan Ikhlash, Mana Lebih Utama?

M Abdullah Badri
Selasa, 01 Oktober 2019

gambar orang sabar dan ikhlash
Sabar dan ikhlash menhadapi ujian.

Oleh M Abdullah Badri

SABAR dan ikhlash kadang disertakan berbarengan dalam barisan kalimat berharap doa bagi orang sedang terkena musibah. Apakah keduanya sama? Di mana persamaannya? Kalau beda, dimana perbedaan antara ikhlash dan sabar terjadi?

Ingatlah, ikhlash itu lebih tinggi derajat dan prosesnya daripada sabar. Mereka yang sabar belum tentu ikhlash. Saat kita puasa misalnya, aktivitas menahan haus dan lapar bisa disebut dengan sabar karena ia adalah kewajiban seorang muslim.

Meski begitu, kadang kita main nyolong laku membatalkan puasa ketika tidak ada orang lain bersama kita. Dalam posisi ini, kita adalah manusia yang bersabar melaksanakan perintah puasa dari agama, tapi belum bisa dianggap ikhlash.

Dengan demikian arti sabar adalah menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar atas suatu yang disabari. Menahan diri dari melanggar lah mudahnya. Sabar menerima ujaran kebencian orang lain sama artinya dengan menahan untuk tidak menuju pada sikap "mengeluarkan kalimat yang tidak perlu" seperti mencaci-maki, merendahkan dan lainnya. Kalau sabar sudah melampaui batasnya, berubahlah sikap kita itu menjadi amarah.

Baca: 7 Pilihan Hidup Cerdas Bagi Seorang Muslim yang Dinilai oleh Allah

Berbeda dengan ikhlash. Bila tingkatan menahan kita dari godaan, musibah atau lainnya sudah mencapai derajat sebagai yang rela, itu artinya ada ikhlash dalam hati kita. Karena ikhlash artinya adalah bersih. Surat Qulhu disebut Al-Ikhlash karena dalam ayat-ayatnya, kita diajak membersihkan diri dari keyakinan atau tauhid yang bersih: tidak menyekutukan Allah Swt.

Tanda ikhlash bagi seorang mukmin terlihat ketika dia tidak memiliki pengaruh hati ketika dibenci maupun dipuji orang lain. Bagi orang ikhlash, pujian maupun cercaan tidak membuatnya bangga maupun rendah diri. Keduanya sama saja. Anda kah yang memiliki sifat tersebet? Bila iya, alhamdulillah.

Meski keduanya tidak sama, baik sabar maupun ikhlash, semua bertujuan mengharapkan ridla Allah Swt. Inilah kesamaan antar ikhlash dan sabar. Tapi ingat, sebelum mencapai derajat ikhlash, orang harus sabar menerima segala ujian. Sabar, dengan demikian merupakan tahapan sebelum ikhlash tercapai.

Tentang sabar ini, Allah Swt. berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar". (QS. Al-Baqarah: 155).

Dalam ayat lain, Allah Swt. juga mengingatkan agar kita terus menempa sikap sabar.

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

Artinya:
"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)," (QS. Ar-Ra'd: 22).

Saking pentingnya sikap sabar agar mencapai derajat ikhlash, kita diperintahkan oleh Rasulullah Saw. agar selalu mengucapkan istirja' ketika menerima musibah. Semuanya dikembalikan kepada Allah Swt. dengan mengucapkan kalimat: Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami kembali).

Mana yang lebih utama, sabar atau ikhlash. Ya jelas lebih utama ikhlah. Tapi ingat, tanpa sabar, ikhlash tidak akan pernah Anda capai. Wallahu a'lam. [badriologi.com]