Teologi Tawakkal Penggila Totoan Gelap
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

Teologi Tawakkal Penggila Totoan Gelap

M Abdullah Badri
Sabtu, 30 November 2019
Loading...

foto orang gila di jalan
Foto orang gila mencari nomor untuk diracik.

Oleh M Abdullah Badri

MBAH Sobib pernah dicegat seorang santri di tengah jalan. Mobilnya dihadang. Bukan untuk salaman tapi untuk meminta ramalan angka. Begitu baru akan sampai di depan pintu mobil, dia yang justru dihadang Mbah Sobib.

"Kuwi loh nomor, nomor iku apalke, plototen matamu," begitu kata Mbah Sobib sambil nyikep kepala si santri "mbeling" itu dan menujukkan plat nomor sebuah angkot.

Betapa kagetnya, dikira guyon, nomor itu ternyata memang yang keluar pada besok paginya. Si santri asal desa sebelah itu kecewa. Dia tidak berani nombok nomor plat mobil 1441 kala itu karena takut.

Bagi masyarakat Jepara -dan mungkin pada umumnya masyarakat desa, nomor lotre bisa diracik. Logikanya bukan lagi untung rugi, tapi hobi dan kesenangan. Bagi penggila nomor, tombok adalah hiburan yang membuat dia semangat kerja seharian.

"Bos, ngebon dong, 50 ribu saja," kata Mardi, bukan nama sebenarnya.

"Buat apa?"

"Biasa bos, ngeracik nomor," balasnya.

Demi nomor, dia semangat bekerja nukang kayu. Malamnya dia bergadang, ditemani secarik kertas dan pensil sampai tidur. Tampak sangat rajin menulis dan membaca -ibarat mahasiswa anyaran.

Cara meraciknya tanpa metode. Matematikanya sungguh luar biasa tanpa rumus. Penggila nomor barangkali adalah bagian dari manusia yang sangat peka alam dan lingkungan. Bagaimana tidak, kursi roda, sapu lidi, tai ayam, jam dinding, bahkan jumlah kumis kucing bisa jadi sumber inspirasi meracik nomor.

Mereka ini serius loh kalau sedang meracik nomor. Butuh khalwat, tetap pakai bolpoin dan kertas. Ekspresi muka "duh, ini kurang pas", acap muncul dari mimik mereka saat meracik. Pas-nya dimana, wong hanya otak-atik. Wkwkwkw.

Bagi yang ogah meracik, solusinya bisa minta langsung ke temannya atau gurunya. "Yi, sesok nomore piro, aku manut karo sampeyan, mugo-mugo metu besok". Mereka yang tidak mau berpikir meracik, sam'an wa tho'atan-nya sangat tinggi, melebihi kataatan santri ke kiai-nya. Piye jal?

Tidak kenal putus asa dalam terusan hidupnya. Mereka berpenuh harapan. Begitu buntut nomor tidak tembus, mereka masih berharap "ada hari esok". Mereka juga tidak merasa rugi. Tombok 2000 dapat 300 ribu itu keberuntungan. Gagal, mereka masih dapat untung bisa tertawa haha-hihi bersama kawan meramal dan meracik nomor semalaman di warung kucingan, ngisor wit, dan atau di makam-makam gelap.

Nomor yang ditombok dan tidak segera keluar tidak membuat penggila-nya mengkambing-hitamkan orang lain. Seperti cerita Mbah Sobib bersama santri di atas. Kekecewaan mereka (kalau tidak tembus) hanya satu: kenapa tadi malam tidak saya tombok yah! Sokoor! Hahaha.

Mbah Kiai Mu'adz pernah bilang, orang yang kreatif sepanjang masa itu salah satunya adalah "tukang tombok nomor". Nomor yang jumlahnya hanya 1-0 itu tidak akan habis diracik tiap malam oleh jutaan orang. Pesertanya tidak akan membludak bila tidak kreatif menjadikan alam sebagai sumber inspirasi.

Tiap hari, yang mereka tempa hanya berusaha, tawakkal dan doa. Siapapun yang dianggap bertuah, dia bisa dimintai nomor, walau tidak ada kaitannya misal, antara nomor dan kiai, antara nomor dan santri, atau dukun, anak kecil, atau bahkan dengan musibah.

Bagi mereka, semuanya adalah sumber prediksi keberkahan. Bila kecelakaan adalah musibah bagi korban, mereka bisa menyikapinya secara berbeda; nomor plat mobilnya dicatat, bila keluar, berkah kan jadinya. Hahaha.

Fokus, fokus dan fokus. Itulah iklim terusan hidup mereka. Mimpi temannya misal, bila dalam mimpi itu terceritakan ada anak kecil yang balbalan, maka, anak kecil adalah isyarat angka 1 (1 adalah bilangan kecil - rumus darimana coba!) dan bola dalam balbalan adalah angka nol (kalau ini rumusnya mungkin "bulat adalah kosong" - lumayan, pakai metode Qiyas).

Bila dia bangun jam 3 malam setelah mimpi, maka, angka 3 adalah buntut nomor setelah angka satu. Logikanya hanya fokus, meski tanpa analisa dan metode. Modalnya yakin. Meski tanpa dalil, keyakinan harus jadi modal utama penggila nomor.

Maka, tawakkal penggila nomor adalah tawakkal tanpa ukuran. Tawakkalnya bisa mengalahkan -maaf- para pengusaha yang bermain risiko dalam bisnisnya dengan harus terus memakan lawan bisnis lainnya tentu. Tawakkal "anak nomor" tidak selalu merugikan teman lain.

Namanya juga orang gila. Bebas mau berpikir apa saja lah. Nomor Ayat Al-Qur'an saja bisa jadi bahan nombok, apalagi jam posting esai ini, di blog ini. Awas, jangan ditomboki. Kualat! Hahaha. [badriologi.com]
Loading...