Sampah Rumahan yang Jadi Sedekah Gerakan Koin NU Peduli -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Sampah Rumahan yang Jadi Sedekah Gerakan Koin NU Peduli

M Abdullah Badri
Minggu, 08 Desember 2019
Jual Kitab Kuning Pethuk

Dolar dari download buku
gerakan koin nu peduli nu ranting ngabul tahunan jepara
Mengolah sampah rumahan menjadi koin sedekah Garakan Koin NU Peduli.

Oleh M Abdullah Badri

TAHUN 2016, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai penyumbang sampah tertinggi setelah Tiongkok. 10 persen diantaranya, dikubur. 5 persen lainnya, dibakar. 69 persen sampah berakhir di TPA. Padahal, untuk terurai, sampah plastik membutuhkan waktu 200an tahun, katanya. Demikian ditulis Detikcom pada 28 Februari 2019.

Munas Nahdlatul Ulama' (NU) 2019 pun memutuskan haramnya membuang sampah sembarangan. Hasil Bahtsul Masa'il Waqi'iyyah di Ponpes Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar pada Februari 2019 lalu itu juga mendorong agar pemerintah bukan hanya membuat perda tentang pengelolaan sampah, tapi juga Undang-Undang, yang berisi, antara lain: sanki atas industri yang tidak mengelola sampah dengan baik.

Jumat kemarin (06/12/2019) pas di Jekulo, Kudus, saat beli minuman teh kemasan di retail minimarket, sudah tidak lagi menyediakan kantong plastik. Kalau mau kantong, harus beli tas kantong khusus Rp. 5.000. Aku moh. 

Di tempat lain, soal sampah, tadi malam saat saya tanya komplain istri tentang plastik hitam segede jerigen yang nyangklong di bawah pohon depan rumah, dia menjawab: "Itu untuk koin NU, Mas. Jangan dibakar". Saya memang punya aturan, setiap sampah di rumah, harus dibakar. Jangan diendepin, pesing (bau).

Dia kemudian bercerita, sampah itu sangat berharga bila dikelola. Apalagi warga NU, yang hampir tiap saat ada kumpulan mangan. Tiap hari, sampah plastik jajanan, cilok, penthol dan lainnya -dari anak-anak TPQ samping rumah-, dia sapu kalau sampai nyampah di depan halaman rumah.

Botol-botol plastik air mineral, air bersoda, air berwarna, air berpengawet, yang banyak nyampah -dari anak-anak PAUD sebelah rumah yang njajan di warung-warung dekat rumah-, juga dia kumpulkan sampai berkilo-kilo. Belum lagi ditambah sampah plastik kemasan kopi yang biasa saya beli, dia kumpulkan juga.

Selain itu, istri ternyata juga rajin mengumpulkan plastik-plastik bungkusan bakul sayuran juga tiap hari. Yang masih bisa dipakai, dia kumpulin di samping ruangan mushalla rumah dalam sebuah plastik besar sampai mlembung besar. Yang tidak bisa dipakai, bolong-bolong atau sobek misalnya, dia kumpulkan di depan rumah, bercampur sampah-sampah lainnya, seperti di foto.

Kerdus-kerdus tak terpakai bekas hajatan, bekas kemasan roti, juga dia kumpulkan. (Lihat foto, sekali lagi, ada kardusnya kan?). Hanya sampah kertas koran yang saya larang dijadikan sampah. Soalnya, rumah saya sering jadi rujukan anak-anak sekolah minta bekas koran untuk kerjakan tugas dari gurunya. (Mengapa mereka tidak minta koran ke gurunya yah?).

Hampir tiap pekan ada saja anak sekolah yang datang minta kertas koran. Se-lingkungan, kayaknya hanya saya yang dulu dikenal langganan koran (Sekarang tidak. Wis digital ndoro). Kertas-kertas koran bekas itu masih bertumpuk hingga sekarang, meski terus berkurang.

Kadang, ada juga anak yang datang minta koran bekas untuk sekedar praktik thoharah (bersuci dengan baik) atas "tai cecak" atau "tai ayam" tetangga yang "nelek sak karepe dewe" di mushalla sebelah rumah. Di sini, sampah kertas koran bekas masih memiliki fungsi lain yang lebih afdhal. Saya larang istri menjual dan membakarnya.

Baik sampah kertas maupun plastik, tiap hari ada saja datang tak diundang. Hanya sampah besi dan kaca, yang kata istri, ia tidak bisa mengumpulkannya. Padahal, harganya lumayan, kata dia.

Adapun sampah-sampah daun kering atau bekas kulit buah dan sayur, dia bakar di lubang kotak depan rumah yang saya buat sejak membangun rumah. Sampah balung ikan atau daging, setahu saya, istri selalu berbagi dengan kucing dan atau ayam tetangga. Hak kucing dia penuhi. 

Mengelola Sampah Jadi Sedekah

Jangan dikira sampah itu tak bernilai. Kang Nusron Wahid saja tidak pernah marah disebut sampah oleh Gus Dur karena sampah, bagi Nusron, bisa didaur ulang. Hahaha.

Untuk daur ulang, banyak pemungut sampah yang mengeluarkan modal. Tidak hanya krupuk sekarang, tapi uang, koin.

Kertas misalnya, tukang sampah yang datang ke rumah berani beli di harga Rp. 1.500/kg. Kalau sampah plastik, harganya Rp. 1.000/kg. Bila bentuknya botolan, tukang ambil sampah berani di harga 1.500-2.000/kg, tergantung duitnya dia dan bentuk sampahnya seperti apa.

Tukang sampah itu biasa datang 2-3 kali dalam sepekan. Dan, saat dapat uang dari tukang sampah, kotak Koin Peduli NU Ranting Ngabul diisi oleh istri. Sebulan dia bisa ngisi tidak kurang dari Rp. 8.000, karena tiap pekan minimal dia dapat Rp. 2.000. Kalau pas rumah saya, mushalla sebelah atau ibu saya ada hajatan, sampahnya bisa menggunung, koinnya juga makin banyak.

bentuk koin peduli nu ranting untuk kemaslahatan
Contoh kotak koin NU Peduli - Ngabul.

Aktivitas pengelolaan sampah istri yang produktif itu baru saya ketahui ya sejak semalam. Dia tidak pernah memberitahu. Yang saya tahu, kadang justru anak saya yang ngisi kotak, "Pak, susuke (kembaliannya) masukkan situ," kata anak pas dia dapat kembalian jajan 500 perak atau 200 dari jajanan dia.

Setidaknya, realitas ini (wuih realitas...) adalah jawaban mengapa saat kotak ditarik petugas dari Ansor pas selapanan Lailatul Ijtima', selalu ada isinya. Walau cuma 10-20 ribu, untuk kemudian ditasharrufkan oleh pengurus NU Ngabul dalam bentuk santunan yatim, pengadaan beasiswa peserta didik di Ngabul, dll. Ini sudah berjalan hampir dua tahun di Ranting NU Ngabul.

Tiap Lailatul Ijtima', duit yang dikumpulkan dari Gerakan Koin NU Peduli Ranting Ngabul jumlahnya bisa jutaan. 10-an ribuan dari jumlah perbulannya saya klaim sepihak sebagai hasil dari ketaaan terkecil istri saya menjauhkan keluarga dari jatuhnya hukum haram membuang sampah sembarangan, seperti Munas NU Februari 2019 lalu.

***

"Kadang aku jupuk (ngambil) 2000 kanggo tuku rokok pas duitku entek (habis) loh, Bu," bisik saya tadi malam.

"Koin NU peduli mbo' jupuk, Pak?"

"Huum. Hehehe. Sing penting kan pas durung dijupuk petugas Ansor wilayah RT dewe kene".

"Hukume sampeyan haram po halal, Pak?"

"Yo halal, الضرورات تبيح المحظورات," kataku, dia mrengut. Hahaha. [badriologi.com]

Keterangan: 
Rampung ditulis Ahad dini hari, 8 Desember 2019 - 01:13 WIB.

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Kitab Makna Pesantren