Tidak Ada Tokoh NU yang Besar dari Jalur Struktural? -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Tidak Ada Tokoh NU yang Besar dari Jalur Struktural?

M Abdullah Badri
Minggu, 08 Desember 2019
Jual Kitab Kuning Pethuk

Dolar dari download buku
lambang nu yang pertama sebelum dimodifikasi
Logo NU tempoe doeloe.

Oleh M Abdullah Badri

SEORANG kawan tiba-tiba ngelantur njandab dan mengingatkan perkataan saya, baru kemarin malam (malam Sabtu, 6 Desember 2019), bahwa di NU itu tidak ada tokoh kiai yang besar yang dimulai sebagai pengurus struktural NU. Semuanya dimulai dari jalur kultural. Tokoh besar, bukan cuma populer sebagai pengurus NU saja maksudnya.

Dia menyatakan, itu pernyataan saya, yang kata dia, pernah saya ungkapkan saat menjelaskan biografi Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari yang memang sudah memiliki pengaruh nama besar sebelum mendirikan Nahdlatul Ulama' tahun 1926. Tapi memang benar, Mbah Hasyim dengan Tebuireng-nya sudah berpengaruh 20 tahun sebelum NU berdiri.

Diam-diam saya mengamininya. Apalagi saya yang mengatakannya.

"Mungkin aku ngomong pas aku lagi njandab ya'e ndes. Hahaha," kata saya disambut tawa.

Di struktural NU itu memang penuh ketegangan. Salah ucap sedikit saja, salah langkah sedepa saja misalnya, itu bisa menjadi catatan hitam untuk tahun-tahun selanjutnya. Jangan harap akan terus mendapatkan posisi struktural lebih "mentereng" di periode selanjutnya. Ber-NU struktural itu menyejarah, dan sifatnya politis.

Keputusan saya men-jeda aktif struktural dianggapnya tepat. Non aktifnya media yang saya kelola, barangkali, juga akibat tegangan stuktural, yang untuk saya, -mungkin- akibat salah langkah namun tak pernah terasa sebagai sesuatu salah, atau, meskipun tidak salah tapi dianggap salah oleh pengurus lain yang lebih senior dan harus dihormati, laiknya kiai. Allah a'lam

Kawan saya itu juga mendukung agar terus menjadi kepompong. Dia mengamini agar terus menjadi "kapal NU", bukan "penumpangnya", apalagi menjadi "yang ditumpangkan ke atas kapal" oleh "penumpang lain".

"Suatu saat, kamu akan jadi muara air, dimana air yang di daratan atas akan mengalir mengikuti muara air-mu di bawah. Mereka akan merindukanmu, karena kamu tidak sepertiku," saya yakin dia mengucapkan itu lagi nge-flay, njandab.

"Gurumu benar, lanjutnya, muter-muter ngaji itu bukan pangkatmu sekarang ini. Kamu belum settel, dan tidak akan menjadi perahu kalau kamu terus di struktural," njandab lagi kan pilihan katanya.  Padahal, selama ini, dia itu selengekan kalau bicara.

Sikut-sikutan, saduk-sadukan sampai adu silat di NU struktural itu sudah pasti terjadi dan saya, kata dia, tidak akan bebas menjadi seperti yang disetting oleh Gusti Allah, kelak.

Saling curiga di struktural itu sudah jadi tabi'at sejak dulu, kata dia lagi.

"Kalau di kultural, mereka yang datang sebagai "air", sejak dari niatnya, mereka akan ikut dalam "muaramu, batinmu, bukan kepentinganmu", dan saat itulah, kamu adalah apa yang telah kau perbuat berkali-kali, untuk NU, bukan melalui NU," terangnya.

Mbolang ngaji jadi pilihan saya saat ini. Sejak sebulan terakhir. Saya pamit ke sahabat-sahabat yang selama ini mendampingi saya berkomunitas di NU, baik Ansor, Banser, Pagar Nusa, LTN, RMI maupun lainnya.

Tidak lama. Semua ada endingnya. [badriologi.com]

(Esai ku iki loh, kalau dibaca orang struktural NU, bisa jadi potensial catatan hitam di kemudian, dan bumerang. Ah dianggap A, B, C, D atau E. Tapi aku wis ra urus. Kesel nanggepi!).

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Kitab Makna Pesantren