Hukum Berkurban dengan Hewan yang Hamil Muda
Cari Judul Esai

Advertisement

Hukum Berkurban dengan Hewan yang Hamil Muda

M Abdullah Badri
Sabtu, 01 Agustus 2020

Dolar dari download buku
pandangan imam syafii soal qurban dengan hewan hamil
Berkurban dengan hewan yang tengah hamil. Foto: badriologi.com.

Oleh M Abdullah Badri

SEKITAR tahun 2017, di daerah Kudus, Jateng ada peristiwa langka yang cukup menggegerkan warga sekitar saat Idul Adha. Pasalnya, saat panitia menyembelih kerbau itu, ternyata hamil di luar dugaan (bukan di luar nikah loh yaw). Panitia masjid setempat lemes mendadak. Bagaimana hukumnya?

Demi mencukupkan anggaran, kadang panitia lebih memilih hewan betina. Murah. Sayangnya, bila hamil, siapa yang akan bertanggungjawab? Jawabannya pasti bukan bapaknya. Melaikan panitia.

Ulama sepakat, berkurban dengan hewan yang gemuk lebih afdhal daripada yang kerempeng. Bagi yang tidak paham hewan, hamil kadang bisa dilihat menyerupai gemuk. Sama-sama besar di perut, dan seolah menjanjikan daging berlebih, padahal tidak selamanya demikian.

Tidak ada perbedaan hukum secara fiqih antara hewan itu jantan atau betina. Imam Nawawi, sebagaimana dikutip As-Syarbini dalam Kitab Al-Iqna' bahkan membolehkan berkurban hewan dengan jenis kelamin yang membingungkan, yakni huntsa atau wandhu/waria. Alasannya, huntsa mengandung kemungkinan jantan maupun betina, yang keduanya tidak diperselisihkan. Berarti boleh.

Yang tidak dianggap boleh (la tujzi') adalah hewan betina hamil. Ini adalah pendapat kuat (mu'tamad) di kalangan ulama' fiqih. Hewan kurban hamil disebut ulama' sebagai aib (عيب). Dia harus dikarantina mandiri. Tidak boleh dikurbankan sampai dia melahirkan dan siap dikurbankan, lagi.

Apa Alasannya? 
Daging hewan kurban yang hamil cenderung sedikit. Padahal, hikmah dari sunnahnya menggemukkan hewan kurban agar si hewan tetap kaya daging. Ulama fiqih sangat mempertimbangkan ihwal berat daging hewan kurban hingga memunculkan syarat-syarat, mana hewan yang boleh dikurbankan dan mana yang tidak.

Semua kondisi hewan ternak (bahimatul an'am) boleh dijadikan udlhiyah (kurban), asal, misalnya ada cacat, cacatnya tidak sampai dianggap mengurangi berat daging. Walhasil, hewan yang akan dikurbankan tidak boleh diajak diet.

Selain sedikit daging, kualitas daging hewan hamil pun rendah (radi') dan merusak bagian lambungnya setelah dia wiladah (melahirkan). Atas alasan ini, Imam Zarkasyi bahkan menyamakan status hewan yang sedang dag-dig-dug menunggu Hari Perkiraan Lahir (HPL) anaknya dengan hewan yang hamil muda. Demikian juga dengan hewan menyusui. Statusnya sama, aib, menurut Imam Zarkasyi. (Baca: Al-Iqna' fi Halli Alfadzi Abi Syuja' Jilid 2, hlm: 570).

Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Syaikh Abu Hamid dan murid-muridnya, seperti dikutip oleh Syaikh Zakaria Al-Anshari dalam Kitab Asnal Mathalib (Juz 1, hlm: 536).

Imam Qulyubi, dalam Hasyiyahnya atas Jalaluddin Al-Mahalli yang mensyarah Mihajuth-Thalibin, lebih detail lagi menjelaskan. Baginya, hewan hamil, walau calon anaknya masih berbetuk alaqah atau mudghah, tetap tidak boleh.

قوله أن الحامل: ولو علقة و مضغة ومثلها قريبة العهد با لولادة 

Artinya:
"(Binatang hamil tidak sah dijadikan kurban) walaupun masih berbentuk segumpal darah atau segumpal daging. Termasuk (seperti binatang hamil - tidak sah) adalah betina hamil yang mendekati masa kehairan (hamil tua)". (Baca: Hasyiyata Qulyubi wa Umairah Juz 4, Maktabah Musthafa Al-Halabi, hlm: 252).

Imam Ibnu Hajar juga senada. Dengan tegas Ibnu Hajar menyatakan tidak diperbolehkannya udhlhiyah dengan hewan hamil walaupun dagingnya bertambah.

إعتمد إبن حجر فى الفتح عدم جواز التضحية بالحامل وإن زاد به اللحم لأنه عيب

Artinya:
"Dalam Kitab Fathul Jawad, Ibnu Hajar tetap berpendirian tidak boleh menyembelih kurban dengan hewan hamil walaupun dagingnya bertambah, karena hal itu adalah aib".

Sama kekehnya dengan Ibnu Hajar, Abu Mahzamah juga kekeh memperbolehkan berkurban dengan hewan hamil selama tidak berdampak pada kurangnya berat daging, sebagaimana bisa dibaca dalam kitabnya, Al-Qala'id. (Baca: Bughyatul Mustarsyidin Jilid 4, hlm: 338).

Ulama yang populer membolehkan hewan hamil dikurbankan adalah Ibnu Rif'ah. Menurutnya, hewan yang hamil dan disembelih, meskipun dagingnya berkurang, tapi kekurangan itu bisa diganti dengan berat daging anaknya. (Baca: Asnal Mathalib Juz 1, hlm: 536).

Namun, pendapat Ibnu Rif'ah ini dibantah habis-habiskan oleh para ulama' lainnya. Imam Al-Asnawi bahkan heran (تعجب) dengan alasan Ibnu Rif'ah ini. Kok bisa dianggap sah yah? (Al-Iqna' Jilid 2, hlm: 570).

Keterangan:
Artikel ini belum selesai. Belum menjawab langsung pertanyaan. Diteruskan sesempatnya. 
Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Kitab Makna Pesantren