![]() |
| Nadhom jangan mengemis jika sudah diusir. |
Oleh M. Abdullah Badri
SUATU kali, ayah saya berpesan: "jika kamu tidak diminta, jangan merengek meminta meskipun dalam perkara penting". Kalimat itu benar-benar membekas hingga menjadi karakter.
Sulit bagi saya untuk menggelar ngaji rutin tanpa dimulai dari permintaan orang-orang yang membutuhkan. Jika saya ngaji, dan pesertanya rajin datang, ya tetap ngaji. Bila mereka tidak datang, tak akan pernah saya menanyakannya atau komplain. Itu hak mereka.
Hanya saja, ayah berpesan, "ketika kamu dibutuhkan, haram bagimu menolaknya". Namun, jangan sekali-kali menciptakan kebutuhan yang merepotkanmu karena hal itu dekat dengan hawa nafsu. Kalimat ayah itu membuat saya merasa tenang hingga kini, bahkan senang, bila tidak dilibatkan dalam sesuatu yang menurut orang lain, saya sudah seharusnya terlibat di sana walau penuh dengan kerepotan.
Dalam bahar Rojaz, saya katakan:
لَا تَتَوَسَّلْ إِنْ طُرِدْتَ لَا تُلِحْ :: إِذْ كُنْتَ لَمْ تُدْعَ اقْبَلَنْ فَتَسْتَرِحْ
"Jangan mengemis jika engkau sudah disingkirkan (diusir). Jangan maksa-maksa ikut jika tidak diundang. Terima saja, maka, engkau akan tenang".
إِذَا تَحَقَّقَتْ لَكَ الْأَمَانِي :: زَالَ نَشِيطُكَ عَلَى التَّـمَنِّي
"Jika (segala) keinginanmu selalu tercapai, maka, semangatmu untuk berharap pudar".
SYARAH NADHOM
Banyak diantara kita yang marah bila dalam sebuah pesta besar atau kepengurusan organisasi atau lainnya, kita tidak dilibatkan. Seolah, kita terhina karena merasa ditinggalkan. Ada seorang kakak perempuan yang dirinya tidak dilibatkan dalam walimah nikah sampai dia tega mendiamkan adiknya yang kelak menikah itu selama dua bulan, karena merasa tua.
Secara syariat, melalaikan peran yang lebih tua dalam walimah adalah su'ul adab. Toh demikian, harusnya si kakak tidak menanggapinya dengan marah, mendiamkan, tidak menyapa dan tidak peduli. Justru ketika marah dan ingin dilibatkan, dia akan jatuh dalam kehinaan. Kalau sudah disingkirkan, jangan merengek meminta diterima kembali. Itu menghinakan. Demikian pula, bila tidak diundang, jangan memaksa datang. Terima saja kenyataan. Bila masih memaksa, itu sama saja mengemis belas kasih, dan sangat menghinakan. Firman Allah Swt:
وَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهٖ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ
Terjemah:
"Kemulian itu milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin". (QS. Al-Munafiqun: 8)
Sungguh, bila kau memaksa terlibat (dalam urusan penting) atau memaksa datang ke halaqah yang engkau tidak diundang, mata-mata orang lain yang diundang akan menusukmu. Kata para ulama salaf:
مَن جَلَسَ فِي غَيْرِ مَجْلِسِهِ أُنْكِرَ عَلَيْهِ
Terjemah:
"Barang siapa duduk di selain majelisnya (diundang), dia akan diingkari".
Engkau akan tersiksa bila merasa terhina kala ditinggalkan dalam urusan penting. Itu sama saja bergantung kepada makhluk. Siapa saja bergantung hatinya kepada makhluk, kata Ibnul Qoyyim, pasti bakal disiksa oleh dirinya sendiri (عُذِّبَ به ولابد).
Bahwa tidak semua keinginan kita selalu dikabulkan persis sesuai request kita. Banyak sekali harapan yang tidak terwujud karena orang itu ngotot dengan doanya. Dia meminta mobil misalnya, namun, karena terus ngotot harus memiliki mobil, tidak mau kalau tidak mobil, dia tidak diijabah. Andai dia menerima wujud mobil dalam bentuk sepeda, tanpa ngotot memiliki mobil, dia akan diberi lebih oleh Allah Swt.
Kadang, ketika kita dihirman (dihalangi) atas permintaan, ketika itulah, dia sedang diberi oleh Allah Swt dengan sesuatu yang layak dan lebih baik dari permintaan yang dipinta. Demikian petuah Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari.
Sudah, kalau tidak dituruti Allah Swt, tidak diberi, dihalangi, terima saja. Justru itulah yang membuatmu menjadi baik. Kata ulama' salaf:
من طال أمله ساء عمله
Terjemah:
"Siapa saja yang panjang berangan, perangainya buruk".
Memang demikian. Jika kita memiliki angan-angan besar dan tidak tercapai, biasanya akan nekad dan bahkan mencari kambing hitam menyalahkan orang lain, mendiamkan saudara, menyakitinya, bahkan tega membunuh karakternya. Itu yang dimaksud buruk perangai (ساء عمله).
Sekali lagi, tidak semua hal sesuai harapan dan persis dengan keinginan kita. Justru ketika keinginan kita tercapai, keinginan lain akan muncul. Begitu terus tanpa akhir. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mengatakan begini:
إنّ نفسي تاقت إلى الزواج، فلما تزوجت تاقت إلى الإمارة، فلما نلتها تاقت إلى الخلافة، فلما نلتها تاقت إلى الجنة
Terjemah:
"Jiwaku mendambakan pernikahan, dan ketika aku menikah, ia mendambakan kepemimpinan, dan ketika aku mendapatkannya, ia mendambakan kekhalifahan, dan ketika aku mendapatkannya, ia mendambakan surga".
Justru ketika semua keinginan kita terkabul, syahwat menginginkan harapan lainnya, tanpa pernah padam. Allah Swt sudah memastikan bahwa:
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
Terjemah:
"Mereka mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan". (QS. Al-Fajr: 20).
Mereka itu siapa? Ya kita, manusia. Butuh dihargai, itu harta. Butuh dituakan, itu juga harta. Tanpa kontrol, semua itu akan menjadikan amal kita buruk (ساء عمله). Justru ketika kita sedang dihina, disingkirkan, atau tidak tercapai hajat, saat itulah kita diberi waktu oleh Allah Swt untuk mendekat dan khusyu' berharap pada-Nya. Kata Allah Swt:
إنَّ الله إذا أحبَّ قوماً ابتلاهم
Terjemah:
"Ketika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka".
Pada tahapan ini, latihlah ridlo bila kau disingkirkan oleh temanmu, kerabatmu, keluargamu, kolegamu, dan siapapun itu. Sebab, engkau sebetulnya sedang diuji cinta oleh Sang Maha Pengasih. Jika demikian, maka, engkau bisa tenang, seperti saya ungkapkan dalam syair dengan kata khusus: فَتَسْتَرِحْ (engkau akan tenang).
Bila sudah tenang, semangatmu untuk meminta kepada-Nya, tak akan pernah padam. Minta kepada manusia, lama-lama pasti akan ditolak. Manusia yang terus diminta akan bosan dan kesal, beda dengan Allah Swt. Sering keturutan akan melemahkan jiwa juang dan mewariskan sikap malas dan merapuhkan semangat. Gampang putus asa juga. Maka, relakan saja bila kau dihina! [badriologi.com]
Keterangan:
Syarah kedua nadhom di atas adalah bagian dari kumpulan Nadhom Sururun Nasho'ih, yang suatu kali akan saya kumpulan jadi kitab nadhom bersyarah bahasa Indonesia.





