Mengajak Musuhan Adalah Pengecut Sejati -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Mengajak Musuhan Adalah Pengecut Sejati

M. Abdullah Badri
Selasa, 18 November 2025
Flashdisk Ebook Islami

Jual Kacamata Minus
sifat dasar pengecut adalah suka mengajak musuhan
Mengajak musuhan termasuk perbuatan adu domba.


Oleh M. Abdullah Badri


JIKA kamu mengetahui bahwa saudara kandungmu atau orang lain tidak menyukaimu, lalu dia mengajak orang lain untuk memusuhimu, maka, iya, tidak salah lagi, dialah pengecut tulen yang kalah. Dalam syair bahar Rojaz, saya katakan:  


وَمِنْ صِفَاتِ الْخَاسِرِيْنَ أَنَّهُ :: يَدْعُوْ لِيَبْغُضَ أَخُوْهُ خَصْمَهُ

"Salah satu ciri pecundang yang kalah adalah mengajak saudaranya untuk membenci musuhnya".


SYARAH NADHOM

Bila hati sudah dilimpahi kebencian, kedengkian dan kemarahan kepada orang lain, maka, pemilik hati busuk itu tidak akan ridlo bila dia sendirian membenci, mendengki dan marah. Kata ulama' salaf: 


صاحب الهوى لا يرضى أن يكون وحده


Terjemah:

"Pemilik hawa nafsu tidak akan puas bila hanya sendirian". 


Penyembah hawa nafsu (مَنِ اتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ هَوَاهُ) tidak akan tenang bila orang lain tidak mengikuti angkara murkanya. Dia merasa terhina bila orang lain tidak mengikutinya. Namanya juga pecundang (الخاسر). Dia tidak akan berani menghadapi lawan atau musuhnya sendirian. Selalu cari balakanca. 


Pecundang itu lemah hati. Makanya, untuk menghadapi lawan, dia tidak mau bertatap muka langsung, tapi menyebarkan fitnah, keburukan atau aib musuhnya kepada orang lain, agar orang ikut menghasud dan membencinya walaupun tanpa argumentasi yang jelas dan kokoh. Bila dia berhasil, maka, puaslah dia dan merasa menang. 


Bagi pecundang, hasud dan membenci tanpa keterlibatan orang lain adalah kelemahan. Dia merasa kuat bila pendapatnya mendapatkan banyak pengikut. Padahal, pada hakikatnya, dia memiliki banyak kekurangan dan keburukannya sendiri. 


Hanya saja, karena takut terungkap, pecundang menutupi aibnya sendiri dengan menyalahkan orang lain agar orang-orang seirama dengannya, baik atas nama darah (keluarga) atau perbedaan madzhab (pemikiran). Dia sangat mencintai perbedaan dengan orang lain. 


Ada 6 hal yang mendorong manusia mau mengajak kawannya mengikutinya dalam berhasud atau marah: 


  1. Su'udhon (buruk sangka). 
  2. Bodoh (atas akibat perbuatannya).
  3. Interpretasi (ta'wil) yang keliru atas orang lain.
  4. Kemarahan (ghodhob). 
  5. Butuh pembenaran. Dengan mengajak orang lain untuk ikut membenci, hatinya akan merasa bahwa apa dipikirkan dan dilakukannya adalah benar. Dia butuh pembenaran karena secara psikologis dia dalam kondisi kalah. 
  6. Gagal komunikasi. Dia awalnya mungkin ingin menjalin hubungan dengan yang dibencinya, namun, karena gagal, maka, dia tidak bisa menghadapi masalahnya sendiri lalu mengajak orang lain untuk mendistorsi dan mencemarkan citra baik orang yang dia benci. 


Membangkitkan kebencian kepada orang lain adalah bagian dari sifat namimah (adu domba) yang memiliki implikasi dua dosa, yakni dosa membenci dirinya sendiri dan dosa merusak kebaikan hati saudaranya yang diajak. 


Yang awalnya tidak membenci, namun, karena diberitahu tentang keburukan musuhnya, maka dia mulai membenci orang yang ditarget citra buruknya itu. Persaudaraan akhirnya hilang akibat su'udhon, kebodohan, ta'wil keliru, kemarahan pribadi, butuh pembenaran atau karena gagal berkomunikasi. 


Selain disebut namimah (adu domba), mengajak orang lain untuk ikut membenci kawannya sendiri adalah tindakan dhalim yang akan ditanggungkan dosanya kepada pihak mengajak. Tidak ada hati selamat yang sanggup merusak hati orang lain. Kebencian hanya disebarkan oleh pemilik hati yang gelap (مظلم) dan penganiaya. Imam Syafi'i pernah mengatakan: 


لأن تلقى الله بذنوبٍ ما بينك وبينه خيرٌ من أن تلقاه وقد حملتَ ظُلم الخلق


Terjemah:

"Lebih baik menemui Allah dengan dosa-dosamu sendiri, antara kamu dan Dia, daripada menemui-Nya sambil menanggung ketidakadilan orang lain".


Bagaimana tidak dhalim, sementara mengajak orang lain untuk membenci senyatanya bisa memutus hubungan keluarga, hubungan sosial dan menebar perpecahan. Kata Ibnu Katsir, itu semua adalah sifat dasar orang munafik yang sangat lemah hati. Karena itulah, sabda Rasulullah Saw: 


ألا أخبركم بأفضل من درجة الصيام والصلاة والصدقة؟ إصلاح ذات البين


Terjemah:

"Maukah aku beritahukan kepadamu tentang sesuatu yang lebih baik daripada pahala puasa, salat, dan sedekah? Yaitu mendamaikan antar manusia". (HR. Abu Dawud). 


Ada dua hal yang paling bisa mendorong orang lain untuk mengikuti sebuah permusuhan, yakni hasud dan marah. Keduanya membutakan kebenaran yang akhirnya tidak bisa mengenali nilai mahal sebuah persaudaraan dan perdamaian (إصلاح ذات البين). [badriologi.com


Keterangan:

Syarah kedua nadhom di atas adalah bagian dari kumpulan Nadhom Sururun Nasho'ih, yang suatu kali akan saya kumpulan jadi kitab nadhom bersyarah bahasa Indonesia.

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha