![]() |
| Menolak bertemu berarti menolak rekonsiliasi damai. |
Oleh M. Abdullah Badri
SOBAT, bila engkau dimusuhi saudaramu kandung atau temanmu, namun mereka menolak bertemu denganmu, lalu di belakangmu mereka menghinamu, maka, itu pertanda bahwa perdamaian sulit tercapai. Sebab, pertemuan adalah pintu awal menuju perdamaian. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin menyatakan:
اعْلَمْ أَنَّ أَصْلَ الصُّلْحِ لَا يَقُومُ إِلَّا عَلَى التَّلَاقِي وَالتَّفَاوُضِ
Terjemah:
"Ketahuilah bahwa dasar perdamaian tidak akan berdiri kecuali dengan pertemuan dan musyawarah".
Tidak mau salaman, menolak bertemu, menolak mencari fakta sebenarnya, adalah awal dari memutus silaturrahim. Dan itu haram. Bila terus dibiarkan, maka, permusuhan yang awalnya hanya bersifat lahiriyah menjadi batiniyah, kejeron. Kata Imam Hasan Al-Bashri:
الْفِتْنَةُ تَبْدَأُ صَغِيرَةً، فَإِذَا أُهْمِلَتْ كَبُرَتْ
Terjemah:
"Fitnah itu bermula kecil. Bila dibiarkan, ia menjadi besar".
Bila sudah terlalu dalam bermusuhan, lalu tidak ada dialog bersama, maka, untuk mencapai perdamaian, butuh moderator yang adil dan bijak.
Karena itulah, dalam Bahar Rojaz tiga bait, saya katakan:
أَبَى اللِّــقَا بَلْ فِى الْوَرَا هُوَ يُهِينْ :: لِخَصْمِهِ فَـلِلسَّلَامِ لَا يَقِينْ
"Dia menolak bertemu, tetapi di belakang sana, dia menghina lawannya, maka, tidak ada lah kepastian perdamaian".
رَفْضُ السَّلَامِ مِنْ أَبَى الــلِّــقَاءِ :: لِأَنَّهُ بـــِدَايَةُ الْعِـــدَاءِ
"Menolak damai bermula dari keengganan bertemu. Karena enggan bertemu adalah awal permusuhan".
لِكُلِّ طَرْفَيِ العِــدَاءِ مُنصِفٌ :: نَيْلَ السَّلامِ إِنْ يُـزَلْ فَأَسَفٌ
"Setiap dua pihak yang bermusuhan harus ada penengah yang adil untuk meraih perdamaian. Jika terhalang, maka yang tersisa hanyalah penyesalan".
SYARAH NADHOM
Bila saudaramu sesekali meminta rokok atau kopi padamu, ngobrol hangat denganmu, lalu tiba-tiba mereka tidak mau mengunjungimu karena marah, berarti, barangkali, di lain hari, mereka sudah menghinamu di belakangmu. Bisa jadi, dia sedang mengobarkan api permusuhan. Lazimnya, menolak berkomunikasi berarti berani mengumpat di belakang dengan sembunyi.
Menolak bertemu tapi suka mencari kekurangan orang lain di belakang, itu adalah tanda bahwa permusuhan sudah ditabuh. Mana ada musuh yang mau bertemu lawannya kecuali di medan perang dan saling menghabisi.
Kesiapan bertemu adalah prasyarat awal terjadinya ishlah (perdamaian). Dalam fiqih konflik, menolak bertemu disebut sebagai saddu abwabil ishlah (سد أبواب الإصلاح - menutup pintu perdamaian).
Seruncing apapun konflik, orang ahlussunnah selalu menjaga wal-jama'ah (berkumpul, bertemu, berkomunikasi). Bila ketidaksukaan, kemarahan atau kehasudan memunculkan sikap tidak mau bertemu, maka, itu termasuk ciri orang khawarij. Khawarij itu tega membunuh (menghilangkan nyawa atau menghabisi karakter).
Ngenengke (mendiamkan saudara) karena marah, di belakang, sudah pasti, lazimnya, bakal membunuh karakter, dan itulah ciri khawarij. Penghinaan sang pengecut selalu di belakang, sembunyi-sembunyi, dan mencari kawan. Inilah akar dari tertutupnya objektivitas dan kejujuran. Menghina dari belakang, kata para ulama', termasuk dalam kategori humazah-lumazah, sebagaimana firman Allah Swt:
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
Terjemah:
"Celakalah setiap pengumpat lagi pencela". (QS. Al-Humazah: 1).
Dulu, para sahabat Rasulullah Saw selalu menggelar pertemuan bila terjadi salahpaham. Mereka menjalankan perintah Al-Qur'an fa-ashlihu (فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ - Maka damaikanlah antara dua saudaramu! [QS. Al-Hujurāt: 10]). Menolak dipertemukan berarti menolak perintah Allah Swt dalam praktik.
Kata para ulama', kunci salam atau ishlah (perdamaian) adalah berucap salam. Siapa yang memulainya, berarti dialah yang berniat damai. Yang menolak menjawab, hatinya keruh. Nabi Saw sudah mengingatkan supaya kita sering-sering menebar salam. Beliau Saw bersabda:
أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
Terjemah:
"Sebarkanlah salam di antara kalian". (HR. Muslim).
Ulama' menafsirkan, termasuk salam ialah kesediaan untuk bertemu dan menjalin kontak sosial. Menolak salam berarti menolak rekonsiliasi, dan itulah awal dari berkembangnya permusuhan.
Dalam Syarah Muslim, Imam Nawawi mengatakan:
تَرْكُ الرَّدِّ وَتَرْكُ لِقَاءِ الْأَخِ مُؤْذِنٌ بِتَفَاقُمِ الْعَدَاوَةِ
Terjemah:
"Tidak menjawab salam dan tidak mau bertemu saudara adalah tanda berkembangnya permusuhan".
Jika mau bertemu, pasti ada salam sapa dan dialog. Mengapa? Karena tahapan ishlah itu adalah: dialog → nasihat → pertemuan → ishlah. Dalam ilmu komunikasi, pertemuan adalah sarana paling efektif meredakan permusuhan.
Nah, agar komunikasi berjalan lancar di tengah permusuhan yang berselancar, sebaiknya ada moderator atau penengah. Kata Imam Al-Ghazali:
لا يَقُومُ الصُّلْحُ إِلَّا بِوَاسِطَةٍ عَادِلَةٍ
Terjemah:
"Perdamaian tidak akan tegak kecuali dengan perantara yang adil".
Yang paling penting, moderator harus berperan sebagai penyampai pesan saja, dengan bahasa komunikasi yang baik dan menenangkan kedua belah pihak. Biasanya, moderator berasal dari pihak ketiga. Misalnya, di keluarga, yang menjadi moderator adalah orang yang lebih tua. Pak Lek, Pak Dhe, atau lainnya. Jangan yang lebih muda.
Sebagaimana kata Ibnu Rajab Al-Hambali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam, menjadi moderator adalah ibadah, karena itu, butuh niat yang tulus. Kata Ibnu Rajab:
إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ إِذَا صَحَّتِ النِّيَّةُ
Terjemah:
"Mendamaikan manusia adalah ibadah besar bila niatnya baik".
Bila tidak didasari niat yang baik dan komunikasi yang adil serta menenangkan, peran moderator justru akan menimbulkan siklus dendam baru yang mengeras menjadi kebencian permanen sampai mati. Sebab, ketika berkonflik, orang selalu melihat kesalahan lawannya dan tidak pernah melihat kesalahannya sendiri.
Seberapun besar kamu berbuat baik di masa lalu kepada saudaramu, bila kebencian sudah mendarah daging, akan hilang tak berbekas. Kebencian menghilangkan penghormatan bahkan kepada orang yang lebih tua sekalipun. Inilah tragedi.
Dalam syair, saya membahasakan kegagalan moderator itu dengan kata أسف (penyesalan atau tragedi). Saya hanya berdoa, sebagaimana niat Rasulullah Saw dalam berdoa dengan teks di bawah ini:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ
Terjemah:
"Ya Allah, perbaikilah hubungan di antara kami, satukanlah hati-hati kami, tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan". (HR. Tabrani).
Wallahu a'lam. [badriologi.com]
Keterangan:
Syarah tiga nadhom di atas adalah bagian dari kumpulan Nadhom Sururun Nasho'ih, yang suatu kali akan saya kumpulan jadi kitab nadhom bersyarah bahasa Indonesia.





