Dulu Istilahnya Bukan Konten Kreator, Tapi Blogger -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Dulu Istilahnya Bukan Konten Kreator, Tapi Blogger

M. Abdullah Badri
Minggu, 11 Januari 2026
Flashdisk Ebook Islami

Jual Kacamata Minus
gambar kumpulan logo platform digital
Ilustrasi esai bukan konten kreator tapi blogger.


Oleh M. Abdullah Badri


SETELAH WA saya mati (padahal sudah disave 1500an orang), dan tidak ada berkomunikasi intensif dengan banyak orang sejak 22 Desember 2025, saya memiliki banyak waktu untuk menulis ebook, dolanan SUNO (aransemen musik sholawat dan syair Arab), men-desain grafis serta video di Canva, dan lainnya. 


Ada yang bilang, "sekarang jadi konten kreator yah!". 


"Saya konten kreator itu sejak 2012. Bahkan, sejak menikah, ma'isyah saya dari kreativitas digital," jawab saya. 


Dia tidak tahu kalau dulu saya pegang puluhan website, dimana ada satu website yang saya pegang sendiri pada 2015, saya isi kontennya sendiri sebanyak 1.500an judul dalam waktu 1,5 tahun (sampai 2017). 


Gara-gara ngeblog dan pegang web banyak, saya biasa ngoding pakai PHP, HTML, dan lainnya. Ini sudah saya pelajari zaman masih ramai Yahoo Messenger untuk diskusi (WA belum viral) dan Friendster masih meraja. 


Dulu tidak ada istilah konten kreator. Adanya blogger. Nah, saya ngeblog sejak 2007. Jejaknya ada. Blognya masih hidup. Konten kreator jadi istilah sejak banyak platform memiliki miliaran rakyatnya sendiri (WA diinstal 2 miliar, Telegram 1 miliar). 


Sebelum Facebook, IG, WhatsApp dan Podcast Youtube moncer -jauh sebelum Tiktok- konten kreator bisanya yang hanya menulis di blog. Disebut blogger. 


Sejak 2014, saya sudah habiskan puluhan juta untuk iklan di Facebook -sekarang Meta Ads. Keliru bila ada yang menyebut saya baru masuk dunia konten digital. 


Sejak saya mendirikan Duta Islam 2015, saya sudah dibayar 150an juta (sampai tahun ini). Baik dari Adsense Google maupun MGID. Saya baru ngitung kemarin. Hehe. 


Zaman kuliah (2006-2011), saya empat tahun hidup dari menulis di koran cetak. Sebulan pernah tembus menulis di koran hingga 18 kali. Itu rekor saya. Sebulan bisa dapat honor hingga 2-3 juta. Masih dapat dari kampus juga. Tahun 2011, saya putuskan berhenti. Tahun 2012, mulai intens ngeblog, membuat media sendiri. 


Sejak 2012, ma'isyah saya bukan dari koran cetak, tapi dari marketing digital. Jualan tanah tinggalan ayah, ya dari digital. Jualan apapun, termasuk buku dan laptop, sebelum ada Bukalapak, Tokped dan Shopee, ya lewat blogspot. 


Saya itu pemalu kalau jualan di pinggir jalan, tidak seperti istri saya, yang pede amat. 


Sejak menikah 2013, orang mengira saya punya tuyul. Padahal, tuyul saya itu digital. Tidak terlihat bekerja, tapi cukuplah. Ada satu produk yang sejak 2013 hingga sekarang masih bisa diambil cuannya. 


Konsep saya jualan adalah: 


  1. Cari barang murah,
  2. Barangnya mudah didapatkan,
  3. Banyak orang membutuhkan, lalu
  4. Jual semahal-mahalnya. 


Asal ada pasarnya, barang itu akan laku keras bila dikemas. Begitulah cara saya menghidupi keluarga. Karena saya punya website yang sampai sekarang masih dikunjungi 5-10K orang setiap hari tanpa posting, saya mengubah pembacanya menjadi pembeli. Dan ini efektif. Tanpa ngiklan. 


Karena itulah, untuk produk-produk digital yang saya jual seperti PDF, Ebook, dll, yang tidak boleh di-iklankan di Meta Ads, saya jual via website. Sekarang Meta Ads dan Shopee bisa jualan produk digital. Suatu kali, di tahun 2020-2023, sebulan dapat bersih 3 digit. Tapi ora ketok kerjo. Haha


Di musim AI ini, di tengah ngaji saya sudah jarang (padahal sudah jalan sejak 2018), saya kembali memasuki dunia digital. Betapa luasnya. Megilan. Saya kursus berbagai macam peluang baru hingga habiskan sekitar 2 juta. 


Dunia AI itu rumit. Tidak seperti dulu, dimana saya bisa men-scrap puluhan ribu akun Facebook hanya dengan sekali crack. Ganggu supaya grup WA hank pun mudah dengan sekali pos. Saya lakukan ini berkali-kali untuk stop grup yak nah. Hahaha. 


Kini, semua itu sudah tertutup. Ketat banget. Ingin punya landing page profesional saja sekarang kudu bayar registrasi. Dulu gratis semua. Di Canva, kalau ente tidak bayar, tidak bisa buka semua fiturnya secara bebas. Saya pun akhirnya memiliki puluhan aplikasi AI berbayar. Piye neh! 


Dulu, sebelum ada Capcut, Canva dan Insight, kalau saya ngedit video pakainya Vegas 11. Sekarang tidak begitu laku. Kini, semua serba instan. Sampai-sampai, membuat video joget Om Bahlil saja bisa pakai AI tanpa ijin. Akibatnya, Grok (buat video generate) dan X (eks Twitter) pun diblokir pemerintah. Hari ini tidak bisa saya akses. 


Akibat AI, kini banyak konten yang tidak berbasis realitas, tapi imajinasi. Sing nonton yo jutaan. Aneh tapi nyata. Konten dolanan sekarang lebih laku daripada konten reel.


Dunia telah bergerak dari yang ada ke yang tidak ada atau di-adakan. Imajinatif. Dan menurut penelitian, ini akan terus berlanjut. Diprediksi, pada 2030 nanti, transaksi produk digital (software, ebook, e-corse, e-money, dan e e e lainnya) akan tembus 2.500 trilun. Megilan. 


Yang tidak mengikuti, akan tertelan. Karena itulah, sejak saya tidak banyak komunikasi, saya kembangkan lagi: 


  1. Facebook Pro
  2. Ebook
  3. Adsense Youtube
  4. E-course, dll. 


Saya kembangkan pula followers Youtube, Facebook, Instagram, Tiktok, Channel WA dan Channel Telegram. 


Dan semuanya bisa dikerjakan dengan AI, asal tahu caranya. Saya sampai kursus puluhan kelas untuk tahu teksnisnya. 


Saya jeda lama dari digital sejak 2020 lalu. Saya jeda lama dari digital sejak 2020 lalu. Hanya saja, sejak tahun itu, saya berhasil mengumpulkan 26 ribu kontak nomor telepon (dengan scrap WA) dan 20an ribu alamat email aktif (dengan Drive).  


Kini, semoga saja bisa mengikuti musim munculnya ulama'-ulama' baru di dunia digital. Saiki zamane menthelngi ulama' ra tahu ngaji, ra nduwe murid, tapi pinter-pinter dewe: Chat-GPT. Cah iki ancen edan. Retinan! [badriologi.com]

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha