![]() |
| Gambar saya ini dibuat Chat GPT. Sebagai ilustrasi zaman saya sehari bisa habis 6 jam untuk mentelengi website. |
Oleh M. Abdullah Badri
KEMARIN, ada yang heran tidak percaya ketika saya bilang kalau saya punya website dengan pengunjung harian antara 5-10 ribu kali tanpa rutin posting bulanan, apalagi mingguan. Blas. Postingku sak karepku dewe!
Dia tidak percaya karena situs berita online dimana dia pernah bekerja di sana hanya memiliki view kurang dari 2K. Padahal, jurnalisnya banyak. Membayarnya pun butuh puluhan juta. Dia dibayar UMR.
Saya memahami itu. Sebab pada tahun 2017 hingga 2000, saya punya 7 orang tim redaksi yang semuanya dibayar oleh donatur tanpa saya kurangi donasinya karena bagian saya cukup ambil untung dari Google Adsense, antara 2-4 juta tiap bulan. Maklum jumlah pembaca harian kala itu di situs saya mencapai 20-200 ribu sehari.
Ada yang saya minta posting 3 kali sehari (2 orang), 1 kali sehari (1 orang), 2 kali sehari (1 orang), ada pula 1 orang yang saya minta nyekel Instagram (karena saya tidak paham bahasa anak muda waktu itu). Selain itu, ada yang saya minta untuk membuat desain Thumbnail Youtube dll, sekali sehari. Saya tidak main di Tiktok karena saat itu saya benci Tiktok. Isine cah wadon njoget. Suweriiik poll.
Karena pengalaman inilah, saya pernah diminta oleh orang NU Jepara untuk mengembangkan website NU Jepara (tahun 2015-2019 saya aktif di situ) dengan mendirikan Media Center agar ranting-ranting NU bisa kirim rilis kegiatan rutin ke admin setiap saat tanpa dibayar.
"Tidak semudah itu Fergusso".
Ora gampang mengaktifkan orang lain mau menulis. Apalagi tidak dibayar. Saya mengelola website bisa habis puluhan juta tiap bulan untuk operasional. Saya memastikan, komunitas website tanpa anggaran akan mati cepat. Ini rumus. Bukan tebak-tebakan.
Nah, ketika saya masih masih aktif menggarap website itulah, saya memiliki strategi memperkaya konten teks paling banyak dicari dan tahan lama ditayangkan oleh mesin pencari. Konten ini ada ribuan.
Saya pernah menyarankan hal serupa ke teman yang memiliki web berita. Tapi gak dilakoni. Akhirnya, dia mengakui salah strategi. Berita itu ada umurnya. Kalau situs berita tidak dilengkapi konten awet, ya wassalam.
Karena ribuan konten awet, walaupun ditinggal, website saya masih dapat kunjungan rutin ribuan kali sehari. Google itu memiliki algoritma yang ramah blogger. Konten tidak viral hanya sesaat (3-7 hari saja), tapi seterusnya.
Ribuan pengunjung itulah yang saya ubah jadi calon pembeli produk yang saya tawarkan, sampai sekarang. Sejak 2013. Bayangke, wis 12 tahun. Awet. [badriologi.com]





