Agar Tidak Menjadi Miskin Amal (Ashabul A'rof) -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Agar Tidak Menjadi Miskin Amal (Ashabul A'rof)

M. Abdullah Badri
Jumat, 05 Juni 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren
apa itu ashabul arof menurut para ulama
Agar Tidak Miskin Amal di Akhirat.


Oleh M. Abdullah Badri


Dalam banyak hadits tentang bithoqoh (البطاقة), kartu amal surga, ada syarah yang menjelaskan bahwa kalak di hari ditimbangnya amal, ada golongan yang disebut sebagai ashabul a'rof (أصحاب الأعراف). Menurut Imam Al-Qurthubi dalam Kitab Tadzkirah (hlm. 736-737), mereka ini disebut sebagai orang miskinnya calon penduduk surga (مساكين أهل الجنة). 


Maksudnya, ketika amal mereka ditimbang, jumlah antara kebaikan dan keburukan mereka tidak ada yang lebih unggul. Taat jalan, maksiat yo jalan. Mungkin tabiat mereka di dunia seperti itu. Karena timbangannya sama, mereka masuk dalam tunggu masuk ke surga. Menunggu keputusan Allah Swt. Inilah ashabul a'rof. 


Jika ada yang menolong, mereka bisa masuk surga. Dan jika tidak ada yang menolong, mereka bisa masuk ke neraka. Menunggu nasib. Para ulama' berbeda pendapat, siapakah yang masuk dalam golongan ini kelak di hari pertimbangan amal? Diantara pendapat ulama', ashabul a'rof ialah: 


  1. Orang yang ikut jihad fi Sabilillah tapi di rumah, mereka durhaka kepada orangtua. Jihadnya jadi amal ketaatan, tapi sikap durhakanya jadi amal keburukan yang memberatkan. Amale bok. Imbang, antara yang baik dan yang buruk. 
  2. Orang-orang unggul di kalangan mukmin, yang sibuk dengan ketaatan diri sendiri tapi tidak mempedulikan kondisi masyarakatnya. Maksudnya, sibuk ibadah tapi tidak amar makruf nahi mungkar. Saya sederhanakan: wong ngalim tapi meneng weruh kemungkaran
  3. Para pemilik dosa-dosa besar dari kalangan ahli kiblat. Tauhidnya diterima, tapi untuk masuk surga, dia butuh syafaat. 


Silakan sampeyan orkesan, gendeng botol edan, ndemeni bojone wong, lalu, setelah itu antum naik haji-umroh ben ketok sholeh, rajin jama'ah, rajin ngaji ke majelis, tapi ingat lah ada golongan ini kelak, golongan yang untuk masuk ke surga butuh bantuan orang lain (ashabul a'rof). 


Bisa jadi -tapi saya tidak menghakimi- kiai-kiai yang taat memiliki pesantren dan santri tapi nganuni santrine sampe meteng, mungkin bisa masuk golongan ini. Amale akeh, dosane yo akeh. Tinggal lihat akhir hidup mereka saja. Kata Rasulullah Saw: 


إنما الأعمال بالخواتيم


Terjemah:

"Amal itu dilihat dari akhir (episode) nya". (HR. Bukhari dan Ahmad).


Saya sengaja melakukan kritik ke banyak fenomena sosial yang saya anggap kurang baik karena punya harapan bahwa apa yang saya lakukan bermanfaat banyak untuk keselamatan amal di dunia dan amal di akhirat. Aku moh dadi ashabul a'rof. Mugo-mugo ditompo Gusti Allah. 


Karena itulah, saya hanya mengingatkan, sebagai orang beragama dengan basis Sila ke-1 Pancasila (Ketuhanan Yang Maha Esa), sudah selayaknya kita mengurangi maksiat agar tidak menjadi ashabul a'rof kelak di hari mizan (timbangan). 


Tulisan iki mbok tompo lah, orak yo karepmu. Tapi, artikel ini saya tulis sebagai salah satu penjelasan dari hadits ke-14 Kitab Arba'in Buldaniyah tentang bithoqoh (البطاقة), yang bisa di pre-order di harga diskon. 


Saya posting ini karena kebetulan sedang sesuai konteks dan situasi saja. Saya menggunakan akun medsos selalu untuk tujuan yang saya harapkan, bukan untuk dokumentasi saja, tapi gerakan. Walaupun penuh dengan risiko. [badriologi.com]


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha