Biduan Norak Zaman Now -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Biduan Norak Zaman Now

M. Abdullah Badri
Kamis, 02 Juli 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren

biduan dangdut sekarang berpenampilan norak
Biduan norak zaman now.

Oleh M. Abdullah Badri


Kata sumber saya, biduan dangdut orkesan sekarang beda dengan biduan zaman dulu. Bila dulu pakai rok panjang, kini, roknya makin digerogoti hingga sekilan. Norak. Jongkok sedikit ono sing thongok-thongok. Didemik ora oleh, ambil foto dilarang, tapi dipamerke. Ngewohi


Pas ngibing, jendal-jendil meh ngambung ya dianggap lumrah. Anane ngumbar ngurat. Dulu sih masih malu-malu, sekarang? Ah mboh. Terus, dimana seninya? Ya ora ana. EO saja yang menyebutnya seni dan mengguncang kawula muda, sebagaimana diolah dalam berita. Ngguncang otek warase?


Itulah yang membuat budaya -saya tidak setuju orkes disebut budaya- keluar dari pakemnya. Yang awalnya hiburan, justru jadi ajang potensi syahwat dan reseh. Ojinger suka datang ke orkesan karena salah satunya ada tontonan buka aurat biduan yang "dihalalkan" di lokasi. 


Bukan hanya orkesan, wayangan desa yang dicampur orkesan juga rawan banyu gendeng. Acapkali sebelum atau sesudah wayangan, ada orkesan. Pas wayangan sih tentram, tapi begitu ngibing orkesan dibuka, botol gendeng mulai digenggam dan itu tanpa malu, di hadapan tokoh masyarakat yang diundang. Wayangnya sejam, kadang hanya satu lakon saja, tapi orkesannya bisa dua jam lebih. Inilah yang keluar pakem.


Nasidahan juga sama. Awal dibuka isinya nasidahan atau gambusan, begitu malam mulai temaram, penonton teriak ingin dangdutan. Saat inilah suasana mulai mencekam. Bodho maksiat mulai dibuka pintunya. Ngombe wis ora isin. Ngibing mulai ora aturan. Misuh ya biasa. Gemboran ala wong edan pun lumrah. Pokoke bodho.


Saya pernah diundang oleh petinggi ke acara wayangan, tapi begitu sudah ada yang teriak minta dangdutan, langsung pamit. Suasana wis ra enak dinikmati. Tidak modern dan tidak slow lagi kalau sudah seperti orkes dangdutan. Demit mulai muncul di otak yang ingin banyu gendeng ditenggak.


Khomr disebut khomr karena dalam bahasa Arab artinya menutupi. Yang ditutupi akal. Yang muncul setan. Akhirnya, ghodhob (marah) mudah tercapai meskipun dimulai dari hal sepele, dan itu dianggap keren. Keren ko ngendi? Apakah ini pakem budaya? Apakah ini seni? 


Pikiren pakai akal ati. Ra usah teko orkesan. Ora ana manfaate. Blas. Dari dulu pembelaannya hanya meningkatkan ekonomi. Paling untung secara ekonomi ya EO nya dan penjual banyu gendengnya. Ojing bisa kena risiko besar seperti pernah saya tulis di esai berjudul "Aku Menolak Orkes Kamu Tidak Setuju, Baca Ini!". [badriologi.com]

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha