![]() |
| Sejarah dan jejak Mbah Shodiq Jago Wringinjajar. |
Oleh M. Abdullah Badri
Diketahui, Mbah Shodiq adalah salah satu pimpinan kelompok pasukan gerilya Pangeran Diponegoro yang dikenal ahli tasawwuf. Mbah Shodiq ini ulama' yang jejaknya jelas, tapi legal formalnya belum terlacak secara penuh. Diantara putra Mbah Shodiq ialah Qowa'id (leluhur Mbah Hamid Kajoran), Irsyad (dikenal jadug, leluhur ulama' NU di Jateng -sudah banyak terdata), dan Abdurrahman (keturunannya banyak yang mukim di Wringinjajar, Mranggen, Demak).
Cucu Mbah Shodiq yang dikenal beristri banyak dan kuat tirakat (riyadloh) ialah Thohir bin Irsyad bin Shodiq Jago. Disebutkan, Mbah Thohir selalu melanggengkan wirid "Ya Hayyu ya Qoyyum" sebanyak 11.111 kali setiap habis shalat hajat. Mbah Thohir melahirkan keturunan dari banyak istrinya, antara lain:
- Muhammad Shodiq
- Muhammad Hadi, Girikusumo
- Asiyah Ismail, Godho
- Sulaiman, Sindon
- Syarifah Abdullah, Sayung
- Hasanan Gaji, Guntur
- Syamsyuri, Ungaran
- Asnawi, Genuk
- Toyyib, Gunungpati
Julukan "Mbah Jago" muncul karena Mbah Shodiq dikenal sebagai pimpinan pasukan kompi dengan strategi perang yang mumpuni. Salah satu buktinya, rumah tinggal beliau berada di lokasi yang tidak mudah diendus musuh. Masuk ke dalam sekitar 500an meter gang setapak rungkut (rimbun) dari jalan raya umum yang biasa dilewati Belanda, dan masih berada di balik ndadah (dinding pelindung).
Jago juga dijadikan julukan masyarakat kepada Mbah Shodiq sebab dulu, di Wringinjajar, Mbah Shodiq melawan orang-orang yang masih suka mabuk dan adu jago. Untuk menghadapinya, selain dengan nasehat, Mbah Shodiq memiliki kemampuan linuwih menaklukkan dengan ilmu kenuragan, dimana yang kalah, harus mengaku kalah dan ikut jadi muridnya yang taat.
Bahkan, Mbah Shodiq juga pernah adu kesaktian seperti si gali pemilik ajian rawa rontek. Suatu kali, Mbah Shodiq memiliki jago yang konon asalnya adalah kayu. Setiap kali sabung dengan pecandu adu jago, ayamnya tidak pernah terkalahkan. Lha wong asline kayu kok. Disebutlah sebagai Mbah Jago. Asal sumber penamaan semuanya benar karena julukan bisa diambil dari banyak peristiwa penting terkait laku tokoh yang dijulukinya.
Nama jago juga disebut-sebut sebagai nama samaran. Di Wringinjajar, Mbah Shodiq hidup di lingkungan yang masih dipenuhi orang-orang yang suka mabuk dan hobi sabung ayam. Juru makam Mbah Jago berkisah, keplek di depan rumah itu masih sangat biasa terjadi. Bahkan, ketika ada anak lahiran, pestanya ya dengan keplek 7 hari 7 malam. Sebab penduduk hormat Mbah Shodiq dengan haul, lama-lama mereka yang memiliki kebiasan buruk malu dan keplek hilang dengan sendirinya.
Tinggalan Mbah Shodiq antara lain sumur tua, yang dulu dindingnya kayu dan di zaman Orba, sudah diganti dengan batu bata. Hingga sekarang, sumur ini masih berfungsi dengan baik dan dimanfaatkan oleh warga sekitarnya. Konon, siapa saja yang mandi di sana, insyaAllah kalis dari gangguan sihir (santet). Dulu, hanya sumur Mbah Jago yang tidak asin, sementara lainnya, banyak yang asin sebab dekat dengan lautan. Kini, sebab banyaknya hujan, sumur sekitarnya pun tidak lagi asin.
Salah satu tinggalannya yang lain adalah tanah ladu (cepat meresap), yang dulu digunakan untuk latihan pasukan militer. Karena itulah, struktur tanahnya agak tinggi dari tanah sekelilingnya.
Mbah Shodiq itu tergolong sosok ulama' yang tidak menampakkan keulamaannya. Ia disebut sebagai "orang alim ing laku". Orang alim laku sangat disegani oleh orang "alim ing lisan". Selain itu, Mbah Shodiq dikenal memiliki karakter "blobo", yakni pandai bergaul dengan masyarakat dan "pinter ngopeni wong" dengan memberi (nyah-nyoh).
Mbah Shodiq Jago dan leluhurnya adalah ahli lelono untuk syiar Islamm dari trah Tembayat. Beliau waliyullah, keturunan waliyullah, yang juga melahirkan waliyullah. Tiap masa, ada keturunannya yang menjadi kasepuhan umat serta penjaga wilayah, hingga kini.
Siapapun yang mengaku cucunya, bila khilaf dengan ajaran dan lakunya, maka, ia adalah Kan'an. Cucunya yang alim kok turu (tidur) tidak berjuang, kadang akan diperingatkan langsung lewat mimpi maupun isyarah. [badriologi.com]
Keterangan:
Semua kisah yang saya tulis ini bersumber dari Ustadz Sholihin, juru kunci Makam Mbah Jago, Wringinjajar, Mranggen, Demak.





