Sugi Nur "Samijo"

Sugi Nur
Dalam perpisuhan yang keseringan itu, Sugi tidak hanya mengkritik person dalam tubuh NU. Ia sangat berani mengutuk langsung NU sebagai NU, yang disebutnya tidak punya akidah jelas seperti bus umum (siapa saja bisa ikut numpang).

Oleh M Abdullah Badri

"INI video orang mana, Gus," begitu tanya Abah Habib kepada saya via WhatsApp, kemarin sore.

"Sakit dia bah, aslinya Jawa Timur, tapi sekarang di Palu. Mantan dukun dan pendakwah kubur," jawab saya sekenanya, sesuai pengetahuan.

Entah untuk bertabayun atau hanya ingin ngeshare video Sugi Nur Raharja, saya tidak paham niat Abah Habib.

Saya menyebut Sugi sakit karena ia menyatakan sudah keluar dari NU dan mengibaratkannya seperti bus umum yang tidak jelas akidahnya.

Di banyak video, Sugi ini terlihat berhasrat betul kalau sedang mencaci NU. Berhasrat juga menghina Presiden. Mimiknya penuh murka. Medeni (menakutkan).

Tapi hasrat bertabayun dengannya, selalu dianggap sebagai akting. Tidak pernah mau selesai dia. Bagaimana tidak, usai tabayun, kambuh lagi cara dia mencaci-maki NU dan Banser dengan sebutan iblis, lalu misuh-misuh, dan lainnya. Sakit betulan, bukan?

Tubuhnya sih sehat, hati dan pikirannya "penuh nafsu" seperti sosok yang digambarkan dalam tembang Jawa (tonton video saya di bawah ini) sebagai "Samijo", yang berhasrat sekali merengkuh mangga sesaat setelah melihat ada pohon rimbun penuh mangga, bukan karena dia butuh, diminta tolong atau perlu memetik.

Melihat banyaknya mangga, dalam cerita tembang itu, "Samijo" mengajak temannya, si "Kuncung", ikut memanjat. Dari atas pohon, "Samijo" jatuh karena ranting pohon patah. Hasrat ingin menikmati buah mangga harus tertunda akibat luka sebab ketidak hatian-hatian saat memetik buah (menek ma' trincik). Temannya si "Kuncung" pun ikut jatuh (tibeng siti).

Saya kuatir, Sugi akan berakhir seperti "Samijo". Jatuh dan luka karena tidak hati-hati mengambil langkah (ma' trincik), terutama saat sumpah serapahnya diumbar ke publik. Mungkin, misuh adalah sunnah baginya, walau di tengah maulid Nabi. Sangat innalillah.

Dalam perpisuhan yang keseringan itu, Sugi tidak hanya mengkritik person dalam tubuh NU. Ia sangat berani mengutuk langsung NU sebagai NU, yang disebutnya tidak punya akidah jelas seperti bus umum (siapa saja bisa ikut numpang).

Padahal, setahu saya, Sugi mengaku NU sejak dia bernafsu menghardik NU. Dia mengaku NU untuk menghabisi, bukan memperbaiki.

Sejak itulah dia seperti simbol "Samijo", yang hanya menggunakan NU sebagai bus umum pribadinya. Sekali lagi, hanya untuk memetik rimbunnya mangga di atas pohon rindang dan subur bernama NU.

Kalau hanya luka sih bisa disembuhkan. Jika kualat, siapa yang menyembuhkan? Kualat adalah penyakit yang tak bisa dideteksi oleh ilmu lahir maupun maziyyah bathiniyah. Wali, kiai maupun dukun jadug pun tidak akan mau mengurusi orang kualat sebelum selesai efek kualatnya di dunia.

Ada seorang tokoh kampung di Piyungan sana, pernah menyatakan diri keluar dari NU karena benci. Begitu dia menandatangani surat pernyataan, tak lama kemudian malah gila, sakit jiwa betulan. Ini kualat.

NU tidak butuh kita masuk atau keluar. Kiai di NU itu bukan lulusan lembaga milik NU, tapi lulusan pengakuan masyarakat. Tidak ada sertifikat ke-kiai-an atau ke-gus-an. Itu adalah gelar kehormatan.

Gelar "Gus" yang disetting agar laku ngaji di kalangan NU, pada waktunya nanti tidak perlu diletakkan oleh penyandangnya, hanya karena ia membenci. NU tidak butuh gelar gus settingan.

Apa dikira kalau keluar dari NU lalu NU meminta gelar gus ditarik kembali? Pulsa saja kalau kesedot sulit kembali kok. Haha.

Dia sendiri yang kasi gelar kok repot menyerahkan gelar itu kepada Banser. Sak karepmu. NU bebas, pakai gelar kiai, ajengan, ustadz, intelektual, akademisi, tuan guru, gus, kang, mas, pak lek, bu lek, sak kudumu.

Saya sarankan jangan ikuti ajaran Sugi. Ingatlah simbol "Samijo" yang mengajak temannya "Kuncung". "Samijo" jatuh, "Kuncung" juga jatuh ke tanah. Tanah itu apa, artikan sendiri saja yah! [badriologi.com]


Lokasi nembang: Bu-D Kafe: Jl. MT Haryono No.10, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah 50511 (0811-290-450). Dekat dengan Kantor Pos Ungaran, ini Peta Maps Bu-D Kafe:

Advertisement

Klik untuk komentar