Dilarang Doktor Islam-Sejuk Komentari Ceramah "Goblok"-nya Gus Miftah
Cari Judul Esai

Advertisement

Dilarang Doktor Islam-Sejuk Komentari Ceramah "Goblok"-nya Gus Miftah

M Abdullah Badri
Minggu, 05 Mei 2019

doktor lulusan maroko dari ponpes balekambang
Screenshoot video Gus Miftah yang dishare di WA Grup Islam-Sejuk (06/05/2019). Foto: pribadi. 
Oleh M Abdullah Badri

SAYA tidak meminta bisa masuk ke WAG bertajuk "Islam Sejuk - Damai" yang dikelola oleh seorang doktor penceramah aktif di berbagai provinsi. Tiba-tiba saja nomor saya masuk ke grup tersebut pada 13 Maret 2019, dan akhirnya, pada malam 1 Ramadhan 1440 H atau 6 Mei 2019 (Ahad malam sekira pukul 09.00), saya dikeluarkan dari WAG tersebut.

Kata doktor lulusan Maroko tersebut, di WAG itu berkumpul banyak doktor dan profesor. MasyaAllah jumlah anggotanya, dimana hingga saat catatan ini saya tulis, masih ada 135 nomor yang tergabung di sana, yang tiap hari, tersebar pamflet pengumuman sang doktor mengisi kegiatan pengajian di berbagai kota di Indonesia.


Saya menikmati dinamika WAG itu meski memang tidak aktif berargumen. Namun, pada Ahad malam 1 Ramadhan 1440 H itu, ada yang musti perlu saya klarifikasi ketika salah satu anggota grup menshare video Gus Miftah Yogyakarta, terkait ceramahnya yang mengomentari adanya ustadz anyaran yang menurutnya tidak berilmu tapi berani mengomentari MUI dan kebijakan Nahdlatul Ulama' (NU).

Baca: Sakit Bergilir Karena Menunda Nadzar Ziarah ke Makam Sunan Muria

Mereka ini dikritik Gus Miftah dengan istilah "Goblok". Pak doktor admin WAG yang juga pengurus di PBNU dan PWNU Jateng itu kemudian membuat komentar atas video Gus Miftah yang dishare tersebut, dengan kalimat ini:

"Sama kasarnya. Buktinya "gus miftah", ini kluar kalimat GOBLOG. Tak patut keluar kalimat GOBLOG. dari mulut orang yg ngaku juru dakwah. 

Video kasar kok di share.

Saya TIDAK menemukan ilmu dari video ini. Yang ada hanya sama sama CACI MAKI. TAPI MERASA BENAR.

Sedang trend. Kls video SALING CACI MAKI.  Kok viral".

Sampai di sini, saya hanya membaca, seperti saat-saat sebelumnya. Sebagai doktor Ushulul Fiqh, wajar beliau mengingatkan. Saya setuju. Tapi, tidak hanya sampai di situ, beliau justru menambah komentarnya lagi di bawahnya, masih tentang video tersebut. Begini komentar beliau:

"Video Kasar seperti ini. Kok viral dikalangan orang NU. Buktinya kasarnya "gus miftah", orang lampung ini kluar kalimat GOBLOG di atas panggung pula. Tak patut keluar kalimat GOBLOG. dari mulut orang yg ngaku juru dakwah. 

Saya TIDAK menemukan ilmu dari video ini. Yang ada hanya sama sama CACI MAKI. TAPI MERASA BENAR.

Sedang trend. Kls video SALING CACI MAKI. Kok viral. Ada yg salah dalam cara pandang warga NU".

Respon yang Melebar

Kalimat "Sedang trend. Kls video SALING CACI MAKI.  Kok viral. Ada yg salah dalam cara pandang warga NU" itulah yang kemudian memantik saya untuk berkomentar singkat, "biasa mawon". Tapi beliau membalas saya dengan ucapan-ucapan begini:

"Jangan cemari bulan romadhon. Dgn berpikir. Perkataan kasar(kalimat goblok)
 Di anggap bukan kmaksiatan"

"Jadi rumus sampeyan.

Klw ada yg kasar di balas kasar? 
Ada yg mncaci di balas mncaci?

 Ah sedih sekali jika rumusnya bgitu. 
(Sama sama memposisikan diri dengan TUKANG hujat tukang caci)

 Resiko sosialnya. Nnti generasi NU itu. Kehilangan akhlak karimah.(pengagum pnceramah tukang caci maki). 

Tidak Lagi menjaga tradisi kiyai NU yg lemah lmbut dalam berdakwah".

Saya dianggap membela Gus Miftah, dianggap pula punya rumus. Duh. Saya bingung menanggapi tuduhan komentar kiai doktor tersebut karena yang saya tanggapi bukan saya, tapi komentarnya, "Ada yg salah dalam cara pandang warga NU". Karena sudah melebar dan saya tidak mau berpolemik, saya hanya komentar begini:

"Ngapunten, saya masuk (grup, red.) kayaknya ada yang masukin. Saya hanya bilang, biasa mawon dengan istilah yang dipakai".

Baca: Hutang Lunas dengan Berbakti Kepada Orangtua

Bila saya dianggap setuju menggunakan cara-cara caci maki ala Sugi Nur, nah, itu yang salah kaprah. Akhirnya, daripada berpendapat salah, tidak berpendapat juga disoal, saya beri tambahan komentar begini:

"Baiklah kalau tidak boleh berpendapat. Saya diam saja sambil mantau dakwah sejuk jenengan Gus," tulis saya.

Sebelumnya, saya sudah menulis bahwa tidak hanya Gus Miftah yang menggunakan kalimat goblok,

"Bukan hanya Gus Miftah yang bilang goblok, Kiai Said juga pernah gunakan kalimat itu. Silakan sekalian dikomen. Hehe"

"Saya sendiri kurang sreg dengan Mafia Shalawat dan Gus Miftah. Tapi biasa mawon. Hehe".

Tapi, oleh beliau, saya dibalas begini,

"Ya karna comen sampeyan dukung orang orang yg berkata KASAR di anggap lumrah. 
Jadi ya silahkan cari group lain  tuk comen itu"

"Visi misi dakwah saya. Menyebar kesantunan dan lemah lembut. Dalam berdakwah"

"Di awal Saya hanya mengingatkan. Jauhi caci maki ATAS Nama dakwah. ITU saja.

 TAPI sampeyan ke mana MANA KOMENNYA".

Sebetulnya, saya hanya ingin berkomentar kalau ada yang kurang pas dalam kalimat beliau yang terkesan menyalahkan warga NU atas viralnya video Gus Miftah tersebut, seperti tertuang dalam kalimat beliau, "Ada yg salah dalam cara pandang warga NU".

Bagi saya, itu adalah tuduhan salah target.

Baca: Petugas KPPS yang Meninggal Korban Tumbal Politik?

Apakah Gus Miftah jadi ukuran cara pandang warga NU? Buktinya apa? Apakah dia pengurus NU? Bukankah kalimat "goblok" juga pernah dipakai oleh KH. Said Aqil Siraj dalam konteks kritik pedasnya kepada mereka?

Apakah Pak Doktor berani mengkritik Kiai Said sekalian, tanpa pengecualian Gus Miftah saja? Mengapa hanya Gus Miftah yang dia kritik, dan lalu, yang dijadikan sasaran kok warga NU? Kenapa?

Ada yang salah kah dengan cara pandang sang doktor admin WAG Islam-Sejuk?

Sayang, sebelum saya berpendapat lebih jauh di dalam grup, saya sudah dileft-kan tanpa permisi. Dari grup Islam-Sejuk, saya kok tidak sejuk sih, malah jadi sumuk. Haha. Daripada tidak tersampaikan, dokumen ini saya tulis, sebagai pengingat buat saya dan pembaca. Begitu. [badriologi.com]

gus miftah terbaru 2019 lucu, gus miftah ceramah, gus miftah prabowo, gus miftah youtube, gus miftah ramadhan, gus miftah abdul somad

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah