Kegelisahan KH Hasyim Asy'ari Sebelum Mendirikan Nahdlatoel Oelama (NO)

Puluhan peserta Majelis Morongpuluhan Ansor Ngabul, 20 Januari 2019. Foto: pribadi. 
Oleh M Abdullah Badri

TAHUN 1330 H (1912 M), beberapa negara Timur Tengah mengalami perubahan sketsa politik ideologi massif hingga para mahasiswa di negeri Hindia Belanda ikut menyambut dengan gempita. Organisasi gerakan Islam yang anti pemerintah kolonial Belanda mengalami transisi, dari ideologi ahlussunnah menuju apa yang oleh Kartini disebut sebagai era baru, atau bahasa sekarang adalah modernisme.

Tahun-tahun Indonesia bergerak ini, KH. Hasyim Asy'ari dikisahkan pernah kedatangan seorang tamu yang menyebut Indonesia sudah ada aliran sesat. Kepada KH. Hasyim Asy'ari, aliran yang dimaksud tersebut katanya tidak menggunakan doa qunut saat shalat Subuh. Mendengar cerita tersebut, Mbah Hasyim hanya tersenyum.

"Mas Darwis toh (KH. Ahmad Dahlan)? Itu bukan aliran sesat. Muhammadiyah itu taqlidnya manhaji, bukan qauli seperti kita," terang Mbah Hasyim, yang sama sekali tidak memiliki keresahan atas munculnya organisasi Islam seperti Jamiyatul Khoir, Syarikat Islam (SI) dan juga Muhammadiyah, yang sudah ada dan memiliki pengikut banyak waktu itu. Keresahan tersebut menjadi keprihatinan tersendiri terutama ketika KH. Wahab Chasbullah sering sowan kepada Mbah Hasyim.

Tahun 1924 M, bersamaan dengan jatuh Arab Saudi ke tangan Raja Najed, KH. Wahab Chasbullah kian fokus mengkai perkembangan gerakan Islam dunia dalam kelompok bernama Tashwirul Afkar (Potret Pemikiran). Di wadah tersebut, Kiai Wahab merespon kondisi Timur Tengah yang mulai mengalami pergeseran dari sunni ke ideologi wahabi. Kiai Wahab khawatir jika perkembangan pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab (wahabisme) yang berkembang menjadi ideologi negara akan mengancam kesatuan umat Islam.

Melalui Tashwirul Afkar, Kiai Wahab menunjukkan betapa kebijakan negara baru bernama Saudi Arabia itu mengancam tradisi ahlussunnah wal jama'ah yang sudah berlangsung lama selama ribuan tahun. Misalnya, Arab Saudi mulai berani melarang tradisi bermadzhab karena dianggap menjadikan umat Islam mundur ke belakang. Makam Kanjeng Nabi Muhammad Saw. juga hendak dibongkar, yang jelas akan menimbulkan kerusuhan berskala internasional jika tidak dicegah dengan segera.

Mereka menganggap Makam Nabi Muhammad Saw. bisa menimbulkan kesyirikan sehingga perlu dibongkar. Demikian pula tradisi bermadzhab di kalangan umat Islam. Jargon kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits terbukti mengancam keutuhan dan kesatuan umat Islam seluruh dunia karena dimaknai secara literatif, tesktualis, dan tentunya, meterialistis. Ya, saya sebut materialitis karena semua hal yang terkait dengan agama dituntut secara rigit harus berdasar materi dan referensi tanpa melihat maghza dan makna konteksnya.

Makam Nabi Muhammad Saw. hendak mau dibongkar karena mereka menganggap bahwa pasca wafatnya Nabi, status Nabi Muhammad Saw. sudah tidak sama dengan status beliau ketika masih hidup. Pasca wafat, Nabi Muhammad sama kedudukannya dengan umat Islam lain yang juga layak dibongkar.

Paradigma liberal dan materialistis inilah yang menjadi lanskap pemikiran besar ideologi wahabi hingga saat ini, dimana semua pendakwahnya sering melakukan kerja-kerja menuntut dalil meski sudah ditunjukkan, mereka pun tidak akan mau mengikuti. Seolah semua tradisi ahlussunnah wal jamaah yang sudah berjalan ribuan tahun adalah salah dan perlu diluruskan agar "kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits".

Suasana Majelis Morongpuluhan GP. Ansor Ngabul. Foto: pribadi. 
Kegelisahan atas hadirnya idelogi baru yang mengklaim memperjuangkan tauhid (tapi dengan mengafirkan dan membunuh ulama') di negara baru hasil sokongan Inggris tersebut membuat Kiai Wahab prihatin. Sebagai sesepuh ulama' di Jawa dan Madura dengan 2000-an santri dari penjuru Nusantara, KH. Hasyim Asy'ari dimohon restunya membentuk sebuah organisasi. Tapi pinta Kiai Wahab tidak langsung diiyakan oleh pendiri Pesantren Tebuireng tersebut.

Mbah Hasyim khawatir jika terbentuknya organisasi baru justru akan memecah belah umat Islam Bumiputera yang sedang bergerak melawan Belanda. Tahun 1909, atau 10 tahun sejak berdiri (1889), Tebuireng sendiri pernah dibakar habis semua bangunan dan kitab-kitab para santrinya oleh Belanda. Mbah Hasyim sering membuat fatwa yang membuat Belanda kelimpungan. Misalnya, Mbah Hasyim pernah mengeluarkan fatwa haram berangkat haji dengan naik kapal milik Belanda. Akibatnya, banyak para calon haji mengurungkan niat karena dawuh Mbah Hasyim tersebut.

Waktu itu, Mbah Hasyim memang sosok ulama yang paling berpengaruh di Jawa Timur, -selain KH. Cholil Bangkalan dan KH. Nawawi Sidogiri. Hampir semua kiai yang mendirikan pesantren di periode awal zaman bergerak abad 20 adalah murid-murid Mbah Hasyim yang jelas memiliki jaringan santri melintasi Jawa-Madura, bahkan luar Jawa. Ketaatan ribuan santri itulah yang membuat Belanda makin tidak suka dengan sosok Kiai Hasyim.

Ormas Baru

Jika ormas Islam baru didirikan, Mbah Hasyim kuatir akan memecah belah jaringan kiai-santri yang sudah terbangun luas. Sebagai guru waskita dan mukasyafah, KH. Cholil Bangkalan mengetahui kegelisahan muridnya tersebut, Kiai Hasyim. Mbah Cholil kemudian mengutus murid mudanya bernama As'ad Syamsul Arifin (Situbondo) untuk mengirimkan sebuah tongkat. Ia berjalan kaki dari Bangkalan ke Tebuireng, Jombang. Padahal, As'ad sudah diberi dua logam koin uang untuk dijadikan biaya transportasi.

Saat menerima tongkat tersebut, Kiai Hasyim bertanya, "pesan apa lagi yang disampaikan guru saya Kiai Cholil?" As'ad menjawab, "ayat ini kiai". Kemudian As'ad muda membaca Surat At-Thoha ayat 15-23 di hadapan Kiai Hasyim.

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى (١٧) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (١٨) قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى (١٩) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (٢٠) قَالَ خُذْهَا وَلا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الأولَى (٢١) وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَى (٢٢) لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى (٢٣) اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (٢٤) قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي (٢٥) وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (٢٦) وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي    (٢٧)


Artinya:
17. “Apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?”
18. Dia (Musa) berkata, "Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.”
19. Allah berfirman, "Lemparkanlah ia, wahai Musa!"
20. Lalu (Musa) melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.
21. Dia (Allah) berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula
22. Dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih (bercahaya) tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain,
23. Untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar,
24. Pergilah kepada Fir'aun; dia benar-benar telah melampaui batas.”
25. Dia (Musa) berkata, "Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku,
26. dan mudahkanlah untukku urusanku,
27. dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku.

Melihat makna ayat, tongkat dan ayat yang dipesankan Kiai Cholil sebetulnya adalah sebentuk dukungan agar tidak takut dan khawatir karena dengan niat tulus, sebuah tongkat -seperti kisah Nabi Musa as.- bisa menjadi mukjizat untuk mengalahkan orang dhalim seperti Fir'aun. Ayat itu adalah sebuah spirit perjuangan agar mudah ditempuh segala urusan yang menghalangi jalan Allah Swt.

Karena kekhawatiran yang mendalam (khosyah), Kiai Hasyim lagi-lagi belum memutuskan usulan Kiai Wahab untuk segera membentuk organisasi baru, agar tongkat itu, ketika "dilemparkan" langsung menjadi mukjizat menjelma "ular besar" sebagai tanda kebesaran Allah Swt.

Kiai Hasyim memang dikenal sebagai ulama yang tidak sembarangan memutuskan perkara. Beliau itu ulama yang khariq (berbeda) penguasaan ilmunya dengan para kiai di Jawa-Madura saat itu yang kebanyakan mengajar fiqih, ubudiyah, tarekat dan ilmu alat. Kiai Hasyim itu ahli hadits. Penguasaan ilmu hadits beliau diakui oleh gurunya yang mengajar di Makkah, yakni KH. Mahfudz At-Tarmasi (Tremas). Sanad ilmu hadits Kiai Hasyim didapatkan lewat Kiai Mahfudz ini.

Saking hati-hatinya, menurut penuturan murid bernama KH. Muhith Muzadi, Kiai Hasyim tidak membolehkan secara etik untuk menyebut hadits Rasulullah Saw. tanpa menyebut dulu sanad riwayatnya dari siapa hingga sampai kepada Rasulullah Muhammad Saw. Jadi, jika mengutip hadits dengan hanya mengucap "qala Rasulullah", hal itu tidak dibolehkan. Dan indahnya, Mbah Hasyim selalu hafal riwayat hadits yang beliau kutip saat mengajar Bukhari dan Muslim, baik saat pasanan ngaji Ramadhan atau saat dawuh kepada santrinya.

Meski mengikuti tarekat Qadiriyah Naqsyabadiyah, saking hati-hatinya pula, Mbah Hasyim memilih diam saat berbicara tarekat, yang saat itu sensitif jika dibincang kepada umum. Beliau juga mengkritik cerdas tradisi haul dan perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. dalam salah satu kitabnya. Padahal, banyak orang paham, figur ulama' yang saat itu giat memopulerkan haul dan dan maulid adalah gurunya sendiri, Kiai Cholil Bangkalan.

Kiai Hasyim juga mengharamkan penggunakan kenthongan meski beliau juga menulis mubahnya hukum menikah (tidak sunnah), kecuali sudah menata niat dengan baik (ditulis dalam salah satu kitab karangan beliau juga). Semua itu dilakukan karena Kiai Hasyim adalah sosok yang sangat hati-hati. Hal yang lumrah bagi ulama' hadits, yang tidak sembarang menerima hujjah kecuali jelas sanad dirayah dan sanad riwayahnya. Jika ada masalah yang dianggap kurang pas dibicarakan, beliau memilih diam dan tidak sembarang melakukan kritik tanpa alasan.

Lama tidak ada kabar organisasi baru yang berdiri, Kiai Cholil mengirim kembali As'ad Syamsul Arifin bertemu Kiai Hasyim. Kali ini mengantarkan sebuah tasbih, dengan pesan supaya Kiai Hasyim membaca wirid "Ya Jabbar ya Qahhar", yang artinya, duhai Yang Maha Memaksa dan Maha Pemaksa. Sebuah wirid yang di kalangan para santri dikenal sebagai wirid tolak balak atau doa menolak segala hal yang potensial mengancam dan merugikan.

Tahun 1926, Mbah Hasyim akhirnya baru "bertasbih" dan "mengangkat tongkat" Kiai Cholil. Kegelisahan Kiai Hasyim mulai menemukan solusi sejak di kalangan Bumputera saat itu muncul polemik yang cenderung memecah belah. Terutama setelah adanya fatwa dari Muhammadiyah yang menyatakan "lebih baik shalat Id di lapangan". Hal yang menurut hadits dan ulama' fiqih kurang pas.

Komite Hijaz, yakni kumpulan kiai yang akan diutus ke negeri Hijaz (nama lama Arab Saudi) dibentuk di rumah KH. Wahab Chasbullah atas restu KH. Hasyim Asy'ari. Tujuannya untuk menghadap kepada Raja Saud agar tradisi bermadzhab tetap diperbolehkan, situs bersejarah tidak diberangus dan meminta supaya pemerintah Saudi mengumumkan biaya haji setiap tahun kepada umat Islam dunia.

Mereka yang berkumpul antara lain adalah KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Asnawi (Kudus), KH. Mas Alwi, Syaikh Ghana'im Al-Misri (Mesir), KH. Nawawi (Sidogiri), KH. Ridwan Abdullah, dan kiai-kiai lain dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Madura.

Tempat terjadinya pembentukan Komite Hijaz itu di rumah Kiai Wahab yang ada di Kertopaten, Surabaya. Dan tanggal terbentuknya adalah 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M. Tanggal itulah yang kemudian dikenal sebagai hari lahir ormas baru bernama Nahdlatoel Oelama (NO). Kegelisahan Mbah Hasyim tertuang di momen tersebut. Sayangnya, sebelum NO atau NU berdiri, Kiai Cholil sudah wafat ila rahmatillah 1925 M. Al-Fatihah! [badriologi.com]

Keterangan: 
Konten tulisan ini diambil dari beberapa sumber bacaan buku dan artikel yang disusun penulis berdasarkan collecting personal memory. Disampaikan dalam Majelis Morongpuluhan GP. Ansor Ngabul, Ahad malam, 20 Januari 2019, pukul 21.30 - 23.00 WIB. Di rumah Sahabat Kohar, Dukuh Jokosari, Rt. 04 Rw. 04, Ngabul, Tahunan, Jepara, Jawa Tengah. Diikuti oleh 40an Sahabat Ansor-Banser Ngabul.

Klik untuk komentar
 
close
Banner iklan disini