Islamnya Abu Bakar dan Ramalan Nasrani atas Kelahiran Nabi (Ngaji Ushfuriyah Bagian 9)

sebab masuk islamnya abu bakar
Sebab islamnya Abu Bakar ra. dan ramalan datangnya Nabi akhir zaman. Foto: ilustrasi istimewa. 
Oleh M Abdullah Badri

HADITS ke-enam Kitab Al-Mawâ’dlul Ushfuriyah membahas tentang keutamaan shalat Jum’at, fadilah mandi hari Jum’at yang disertai kisah-kisah inspiratif seputar ramalan akan datangnya Nabi akhir zaman, sayyidinâ wa maulâna Muhammadin shallallâhu alaihi wasallam. Ini teks haditsnya:

عن أبي نصر الواسطي قال سمعت أبا رجاء العطاردي يحدث عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه أنّ أعربياً أتى إلى النبيّ صلى الله تعـــالى عليه السلام فقال بلغني عنك أنــّك تقول من الجمعة إلى الجمعة ومن الصلاة إلى الصلاة كفَّــارة لما بينهنَّ لمن إجتنب الكبــائر قــــال رسول الله صلى الله عليه وسلم نعم ثمَّ زاد فقال الغسل يوم الجمعة كفّــارة والمشي إلى الجمعة كفــارة وكل قدمٍ منها كعمل عشرين سنةً فإذا فرغ من الجمعة أُجيز بعمل مِائتي سَنةٍ. روى هذا الحديث أبو بكر الصدّيق. 

Artinya:
“Dari Abin-Nashr Al-Washity, ia berkata: aku mendengar Aba Rajâ' Al-Utharidîy, dari Abu Bakar As-Shiddîq, yang bercerita tentang adanya seorang warga A'rabîy (pedalaman) sowan kepada Nabi Saw.,

“Kepada Nabi Saw., ia berkata, "ada (kabar) yang sampai kepadaku darimu (ya Rasul). (Kabar itu menyatakan) bahwa dari Jum'at ke Jum'at berikutnya, dari shalat ke shalat berikutnya adalah kaffârah (pelebur dosa) bagi orang-orang yang melakukan dosa besar, 

"Iya," jawab Nabi Saw. Nabi kemudian menambahkan, “mandi di hari Jum'at adalah kaffârah, berjalan untuk (shalat) Jum'at adalah kaffârah, dan setiap langkahnya seperti beramal 20 puluh tahun, dan ketika Jum'at usai, ia diberi pahala sepadan dengan (pahala) amalan 200 tahun". 

Tentang siapa sayyidinâ Abu Bakar ra., muallif Ushfuriyah kemudian menceritakan biografinya sebelum ia masuk Islam (zaman Jâhiliyyah).

Abu Bakar Masuk Islam

Dulu, tulis muallif, Abu Bakar ra. adalah seorang pedagang. Ia masuk Islam setelah mengalami sebuah mimpi yang dilihatnya saat berdagang di Negeri Syam.

Dalam mimpi tersebut, Abu Bakar ra. melihat matahari dan bulan bertempat di kamar tidurnya. Ia kemudian mengambil keduanya, menyatukannya, dan menaruhnya di dada, sebelum kemudian ia mengenakan ridâ' (pakaian Arab) miliknya.

Usai bangun tidur, ia kemudian bergegas menanyakan tafsir mimpinya tersebut kepada seorang Râhib (pendeta) Nasrani. Ia menceritakan apa yang ia lihat dalam mimpi, dan memintanya menafsiri mimpi tersebut.

"Dari mana kamu?" Tanya pendeta.

"Dari Makkah".

"Dari suku mana?"

"Dari Suku Taim," jawab Abu Bakar.

"Apa keperluanmu (di Syam)?"

"Bisnis dagang".

"Pada waktunya nanti, akan lahir seorang dari keturunan Hasyimîy yang dinamakan dengan Muhammad Al-Amîn. Ia berasal dari Suku Hâsyim dan merupakan Nabi akhir zaman. Andai tiada dia lahir, Tuhan tidak menciptakan langit, bumi dan seisinya. Tidak pula diciptakan Adam, para Nabi dan para Rasul. Ia adalah sayyid (pemimpin) dari para Nabi dan para Rasul, serta penutup para Nabi,

"Kamu akan menjadi bagian internal (perjuangan) Islamnya, serta menjadi wazîr (pembantunya) dan pengganti (khalîfah) setelahnya. Inilah tafsir mimpimu menurutku. Aku menemukan ciri dan sifatnya dari Kitab Taurât, Injîl dan Zabur. Aku menyatakan berislam dan (sengaja) aku simpan (keislamanku) karena takut pada orang-orang Nasrani," tandas pendeta.

Mendengar sifat-sifat Nabi Saw. dari pendeta tersebut, hati Abu Bakar ra. bergetar dan muncul kerinduan mendalam untuk menemui Nabi Muhammad Saw.

Sekembalinya ke Makkah, Abu Bakar ra. kemudian mencari Nabi Saw. Muncullah mahabbah (rasa cinta mendalam) pada Abu Bakar ra. setelah berkunjung dan bertemu Nabi Saw. Tiap saat ia tidak bisa menahan kehendak untuk selalu bisa bertemu dengan Nabi Muhammad Saw.

Lama bersahabat dengan Abu Bakar ra., suatu hari Nabi Saw. bertanya,

"Abu Bakar, engkau tiap hari datang kepadaku, duduk bersamaku, mengapa engkau tidak masuk Islam?".

"Jika engkau Nabi, pastinya engkau memiliki mukjizat," jawab Abu Bakar.

"Tidakkah cukup mukjizat mimpi yang kau lihat saat (berdagang) di Negeri Syam, yang juga ditafsiri oleh seorang pendeta serta kabar pengakuan islamanya?"

Deg. Mendengar jawaban Nabi Saw. tersebut, Abu Bakar ra. langsung mengucap syahadat.

أشهد أن لاإله إلا الله و أنّك رسول الله

Artinya:
“Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah, dan (aku bersaksi) sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah utusan Allah”. 

Ia masuk Islam dan menjadi muslim yang taat. Terbukti, Abu Bakar ra. kemudian menjadi khalîfah, pembantu setia Nabi Saw. bahkan sebelum Nabi Saw. hijrah ke Madinah. Demikian kisah dalam Kitab Al-Mawaidlul Uhfuriyah.

Esai berikutnya berjudul: Kisah Muallaf yang Terlunta-lunta di Zaman Malik bin Dinar (Ngaji Ushfuriyah Bagian 10). [badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini adalah dokumentasi Ngaji malam Kamisan (Wage), 2 Safarul Khair 1440 H/10 Oktober 2018

Klik untuk komentar
 
close
Banner iklan disini