7 Tahapan Mengapa Tertawa Berlebihan (Terbahak) Dilarang dalam Islam
Cari Judul Esai

Advertisement

7 Tahapan Mengapa Tertawa Berlebihan (Terbahak) Dilarang dalam Islam

M Abdullah Badri
Sabtu, 11 Mei 2019

larangan tertawa terbahak-bahak menurut islam
Larangan tertawa terbahak-bahak dan saling menertawakan. 
Oleh M Abdullah Badri

HADITS tentang larangan tertawa terbahak-bahak, terutawa bagi wanita, sudah banyak diungkap dalam kitab hadits yang masyhur. Namun, dalam artikel kali ini, larangan tertawa berlebihan sebagaimana dalam Islam juga diungkap oleh sahabat Rasulullah, Sayyidina Umar bin Khattab ra.

Menurut beliau, orang yang hidupnya terlalu banyak tertawa atau guyon, hatinya bisa mati. Tahapannya diungkapkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab ra. dalam mutiara kalimat berikut ini:

  1. Orang yang banyak tertawa, sedikit wibawanya,
  2. Orang yang menghina manusia, maka ia akan dihina kelak, 
  3. Orang yang sering melakukan suatu pekerjaan, maka, dia akan dikenal berprofesi sesuai pekerjaannya itu,
  4. Orang yang banyak bicara, banyak pula potensi terjatuh (dalam kesalahan), 
  5. Dan siapa saja yang banyak terjatuh dalam kesalahan, sedikit pula sifat malunya, 
  6. Orang yang memiliki sifat malu, sedikit pula wira'inya (sikap hati-hatinya), 
  7. Dan orang yang sedikit sekali sikap hati-hatinya, hatinya akan mati. 

Dalam mengurai tahapan larangan tertawa berlebihan tersebut, Syeikh Nawawi al-Bantani memberikan penjelasan bahwa orang yang terllau banyak tertawa dia tidak akan disegani oleh orang lain dan tidak pula mendapatkan penghormatan dari orang lain. Pasalnya, tertawa secara berlebihan adalah aktivitas yang meremehkan harga diri.

Dari Abu Dzar, Rasulullah Saw. bersabda:

إ يـــا ك و كثرة الضحك فإنه يميت القلب و يذهب بنور الوجه

Artinya:
"Jauhilah terlalu banyak tertawa karena ia akan membuat hati kalian mati dan menghilangkan cahaya wajah".

Orang yang hilang cahaya wajahnya jelas akan mudah diremehkan orang lain karena unsur keseganan seseorang itu dimulai dari aura wajah yang sangat meyakinkan. Karena itulah, orang yang banyak tertawa, dan hilang nur wajahnya, dia akan mudah mendapatkan perlakuan direndahkan orang lain.

Baca: 7 Golongan yang Mendapat Perlindungan Allah di Hari Kiamat

Terkait hal ini, Nabi Muhammad Saw. bersabda:

المزاح استدراج من الشيطان واختداع من الهوى 

Artinya:
"Guyon atau banyak bercanda yang tidak penting adalah bujuk rayu setan dan bentuk keterbujukan dari hawa nafsu".

Apa yang disabdakan oleh Nabi Saw. di atas sangat benar dan memang demikian adanya. Buktinya, tertawa kadang dimulai dari hal-hal yang indah karena menjalin keakraban. Tapi, jika tertawa itu berlebihan dan berlanjut terus menerus tanpa manfaat, tertawa bisa menjatuhkan kita pada sikap saling menertawakan dan merendahkan.

Tertawa Berlebihan Dapat Mematikan Hati


Dalam sebuah syair. Imam Al-Mawardi melukiskan akibat tertawa berlebihan dalam sebuah ungkapan syair begini:

إن المزاح بدؤه حلاوة #  لكنما أخره عداوة
يحتد منه الرجل الشريف # و يجتري بسخفه السخيف

Artinya:
"Awal mula tertawa sesungguhnya bisa dimulai dari hal-hal indah, tapi kadang bisa berakhir pada sikap saling bermusuhan. Dalam tertawa berlebihan, orang mulia bisa (terpancing) ikut bersikap marah, sementara (dalam kemarahan orang alim itu), orang-orang bodoh (tidak berpendidikan, kurang akal) menemukan ruang (ikut menikmati)".

Karena itulah, Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah haditsnya memperingatkan kita agar menjaga diri tidak terlalu banyak bicara dalam hal-hal yang tidak ada manfaatnya di sana.

Nabi mengatakan, "Sesungguhnya, yang paling banyak dosanya besok di hari kiamat adalah mereka yang terlalu banyak omong atas hal-hal yang tidak berfaedah".

Baca: 7 Akibat Buruk Menjadi Orang yang Pelit dan Kikir

Dan ingatlah, orang yang terlalu banyak bicara dan tertawa berlebihan, dia akan banyak terjatuh pula dalam kesalahan. Akibat banyak melakukan kesalahan itulah yang akhirnya membuat dia makin sedikit memiliki sifat malu. Padahal, kata para hukama' (ahli kebijaksanaan),

من كســــــاه الحيـــــاء ثوبه لم ير النــــــــــاس عيبه

Artinya:
"Siapa saja yang pakaian (hati)nya adalah malu, maka, orang lain tak akan mudah menemukan aibnya".

Para ahli Ilmu Balaghah juga menyatakan,

حيـــاة الوجه بحيـــاءه كما إن حيـــاة الغرس بمـــــاءه 

Artinya:
"Nur kehidupan wajah seseorang itu bisa diukur dari sifat malu dirinya, bagaikan tanaman yang hidup karena sumber airnya".

Shaleh bin Abdul Quddus menulis indahnya sikap malu dalam sebuah syair penuh mutiara berikut ini,

إذا قل مــــــاء الوجه قل حيـــــــاءه # ولاخيرفي وجه إذا قل مــــــــاءه
حيـــــــــاءك فاحفظه عليك وإنمـا #  يدل على فعل الكريم حياءه

Artinya:
"Kala wajah sedikit airnya, sedikit pula sikap malunya. Dan tidak ada kebaikan pada wajah yang kandungan airnya sedikit (tidak berseri-seri). Jagalah dirimu agar selalu memiliki sifat malu. Orang disebut mulia karena sifat malu".

Akibat sedikit memiliki sifat malu pula, kita akan kehilangan sifat wira'i sedikit demi sedikit. Wira'i adalah sikap hati-hati tidak mau melakukan kegiatan syubhat karena khawatir terjatuh dalam keharaman.

Baca: NU dan Generasi yang Diburu Informasi

Tahapan selanjutnya, bila sifat wira'i makin hilang, kita tidak akan mudah menerima pitutur luhur (mauidhah hasanah) dari orang lain. Merasa diri paling benar atas semua yang kita lakukan, yang jelas hal itu adalah indikasi munculnya qoswatul qalb (hati mengeras). Sementara, sifat itu adalah sifat yang paling jauh dari hidayah Allah Swt.

Demikianlah uraian atas 7 tahapan larangan tertawa berlebihan, terbahak-bahak karena bisa mengakibatkan qoswatul qalb. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat demikian. IlaAllah al-musta'an.

Artikel ini saya terjemahkan dari Bab As-Suba'i (tujuh-tujuh) dalam Kitab Nasha'ihul Ibad Listi'dadi Yaumil Ma'ad karya Imam Ibnu Hajar Al-Asyqalani, yang disyarah oleh Syeikh Nawawi al-Bantani. Diposting usai ngaji posonan tiap sore bersama warga desa, Kamis (10 Mei 2019/4 Ramadhan 1440 H). [badriologi.com]