Innalillah, Dosen Bahasa Arab UIN Sebut Buku Alfiyah Sebagai Kumpulan Wirid
Cari Judul Esai

Advertisement

Innalillah, Dosen Bahasa Arab UIN Sebut Buku Alfiyah Sebagai Kumpulan Wirid

M Abdullah Badri
Rabu, 05 Juni 2019

alfiyah ibnu malik mp3 kampus uin
Salah satu bait dalam Kitab Alfiyah Ibnu Malik yang biasa dijadikan standar mempelajari Ilmu Nahwu di kalangan santri senior se-Nusantara. Tapi masih ada dosen UIN yang tidak kenal kitab karya Syaikh Ibnu Malik tersebut.

Oleh M Abdullah Badri

JUDUL di atas tidak mengada-ada. Benar banget. Cerita seorang dosen bergelar M.Ag yang mengajar bahasa Arab di salah satu kampus UIN di Indonesia diceritakan oleh pelakunya langsung saat saya bertemu dengannya pada Sabtu malam (31 Mei 2019).

Sebut saja nama mahasiswa sang dosen itu adalah Yusuf, bukan nama sebenarnya. Saat masih menjadi mahasiswa aktif jurusan Bahasa Arab pada awal 2000an, dia sering jadi rujukan para dosen ketika menarkib (menyusun sesuai kaidah) kalimat Bahasa Arab di kelas.

"Sudah benar ini mas?" Kata sang dosen di tengah menulis kalimat Arab pada blackboard.

"Nggih, sudah betul," jawab Yusuf saat di kelas.

Maklum, dia hafal nadham Alfiyyah 1000 bait karena di pondoknya sana, Banyuwangi, santri zaman itu tidak akan naik tingkat ngajinya bila tidak hafal Alfiyah Ibnu Malik secara sungsang maupun tartib.

Baca: Santri KH Hasyim Asy’ari Lawan Satu Truk Preman Belanda

Menurutnya, sang dosen bukannya sering salah ketika menarkib kalimat dalam Bahasa Arab, tapi karena dia kurang pede saja sehingga tiap kali ngajar dan ada Yusuf di kelas, selalu saja menoleh sebentar agar sesuai dengan dalil naqli-nya dari Alfiyah, Umrithi maupun Jurumiyah.

Meski hafal nadham Alfiyah dari baris per baris dan bait per bait, Yusuf tidak pernah hafal jumlah. Dia mengetahui kalau huruf مِنْ, إلى, عَن, على dan seterusnya adalah huruf Jaar. Tapi ketika ditanya, berapa huruf Jaar dalam Alfiyah, dia tidak hafal jumlahnya.

Gara-gara itulah dia kesulitan menjawab pertanyaan dalam ujian semester yang selalu menanyakan jumlah-jumlah huruf, awamil dan jenis-jenis, yang dia tidak mungkin menghafalkannya tanpa mengetahui bagaimana praktiknya.

Saat tes Bahasa Arab, Yusuf pun nekad membawa buku nadham Alfiyah Ibnu Malik yang dicetak tipis dan sangat mini, ditaruh dalam saku bajunya. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab mudah oleh Yusuf hanya dengan membuka bait-bait Alfiyah Ibnu Malik yang dia hafal letak dan maknanya.

Sang dosen yang sekaligus mengawasi giat semesteran di kampus UIN tersebut mengetahui gelagat nyontek si Yusuf. Dia hampiri Yusuf, mendekat ke kursinya. Yusuf jelas kikuk dan malu bila ketahuan. Secara, dia alumni Ponpes Banyuwangi yang dikenal sebagai pesantren alat.

"Apa itu yang kau bawa?"

"Buku, Pak," jawab Yusuf sekenanya.

Diambilnya buku kecil Alfiyah Ibnu Malik dari tangan Yusuf. Dibolak-balik. Dibaca. Yusuf sudah mulai siap mendapatkan hukuman dikeluarkan dari kelas.

"Oh, buku kumpulan wirid yah?"

"Nggih, Pak. Betul".

Baca: Mengapa Gus Muwafiq Tidak Segera Mendirikan Pesantren? Ini Kata Gus Dur

"Oh, ya sudah, wiridnya dilanjutin nanti pas habis semesteran yah!"

"Siap, Pak!"

Gara-gara dosen yang tidak mengenal khazanah kajian ilmu alat santri Nusantara, Yusuf selamat dari hukuman dan nilai semesterannya istimewa: A meski tidak belajar.

Hari gini masih ada dosen M.Ag yang mengajar Bahasa Arab tanpa kenal Alfiyah Ibnu Malik, lalu mahasiswanya kenal apa? Innalillah tsumma Na'udzubillah. [badriologi.com]