Mengapa Gus Muwafiq Tidak Segera Mendirikan Pesantren? Ini Kata Gus Dur
Cari Judul Esai

Advertisement

Mengapa Gus Muwafiq Tidak Segera Mendirikan Pesantren? Ini Kata Gus Dur

M Abdullah Badri
Senin, 03 Juni 2019

bagaimana cara mengundang gus muwafiq ngaji
Gus Muwafiq pernah mendapatkan pesan dari Gus Dur agar tidak segera mendirikan pesantren karena diminta fokus mendidik masyarakat pedesaan.
Oleh M Abdullah Badri

BANYAK orang bertanya mengapa KH. Ahmad Muwafiq tidak segera mendirikan pondok pesantren sebagaimana para kiai salaf NU lainnya melakukan? Padahal, ratusan orang berminat sejak lama menjadi santri beliau.

Bagi Gus Muwafiq, mendirikan pesantren itu bukan perkara mudah. Terutama untuk menjaga eksistensi dan keberkahan santri-santrinya.

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, sebelum mendirikan Ponpes Tebuireng misalnya, beliau harus tirakat selama 3 tahun. Begitupula Ponpes Ploso, ada tirakat puasa hingga 65 tahun untuk memberkahi puluhan ribu muridnya hingga bermanfaat dan ilmunya menyebar ke se-antero Nusantara.

Gus Muwafiq harus menunggu titah langit untuk mendirikan sebuah pesantren. Sebelum benar-benar memutuskan ada pesantren yang diasuh, cukuplah bermukim di sebuah perumahan di Jombor, Jogja bersama beberapa khadim yang keluarga. Sepertinya baru beliau, yang meskipun populer sebagai kiai-nya Presiden RI, tetap tingggal di rumah sederhana.

Baca: Bela Somad, Saya Debat Dua Jam dengan Gus Muwafiq

Sudah lama KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berpesan agar Gus Muwafiq tidak tergesa-gesa mendirikan pesantren. Bahasa Gus Dur waktu itu adalah, "jangan cepat-cepat mendirikan gotha'an (kamar santri). Didiklah orang-orang desa yang membutuhkan ilmu agama," demikian kata Gus Dur.

Hal itu benar-benar diikuti oleh Gus Muwafiq hingga sekarang. Diketahui, Gus Muwafiq tidak pernah menolak undangan ceramah ngaji kepada siapapun yang mengundang. Hanya santri yang menyusun jadwal beliau saja yang harus menolak demi menjaga kesehatan tenaga beliau.

Suatu ketika usai ngaji di sebuah desa, Gus Muwafiq berujar, "Saya tidak bisa menolak undangan ngaji terutama dari kalangan muda NU. Tapi urusan jadwal diserahkan kepada santri yang nderekke beliau setiap hari, yang terpaksa harus mentata jadwal," tandasnya,

Beliau pantang menolak hadiri ngaji di waktu luang (di luar urusan kenegaraan) karena nderekke perintah Gus Dur "agar jangan menolak diundang untuk mendidik masyarakat", beberapa tahun sebelum Gus Dur wafat.

Baca: Cerita Gus Muwafiq Setop Kesaktian Para Pendekar “Pasukan Berani Mati” Gus Dur

Tak heran bila Gus Muwafiq sendiri sering tidak pulang ke rumah di Jombor hanya karena memenuhi penggilan ngaji ke beberapa tempat. Paling cepat beliau itu pulang sepekan sekali. Itu pun sebentar. Misal pulang malam jam 3 dini hari, besok jam 10 pagi sudah berdakwah lagi.

Meskipun begitu, kini, kata beberapa sumber yang saya temui, Gus Muwafiq akan mendirikan Pondok Pesantren sesuai perintah ahlis sama'. Utamanya setelah ada perintah mendirikan masjid seperti masjid Demak Kuno dengan rencana luas lahan 50 hektar. [badriologi.com]

Keterangan:
Substansi esai di atas saya tulis berdasarkan keterangan langsung dari Gus Muwafiq sendiri, istri beliau, santri-santri yang nderekke setiap hari dan beberapa teman lama beliau.