Selalu Berhitung Pahala Tanda Rahmat Allah Hilang Darinya
Cari Judul Esai

Advertisement

Selalu Berhitung Pahala Tanda Rahmat Allah Hilang Darinya

M Abdullah Badri
Jumat, 21 Juni 2019

lebih besar mana rahmat allah dengan amal ibadah kita
Selalu menghitung pahala atas amal ibadah kita cenderug menyingkirkan hadirnya rahmat Allah bila mencukupkan diri pada amalan-amalan lahiriyah. Foto: suasana Ngaji Morongpuluhan GP. Ansor Ngabul, 20 Juni 2019.

Oleh M Abdullah Badri

KARENA tidak percaya atas sampainya doa yang dikirim kepada mayit, ada sekelompok manusia yang menganut paham ekstrim tawar-menawar Allah Subhanahu wa Ta'ala agar layak menjadi penghuni surga.

Ia mencukupkan diri beramal banyak secara matematis dan material, agar pahalanya menumpuk, dan pahala itulah yang rencananya, kelak, akan ditawarkan kepada Allah Swt. sebagai makluk yang berhak mendapatkan balasan surga.

Dia melakukan itu karena tidak mau mengamalkan amaliyah yang sejak dari bentuknya saja sangat immaterial. Misalnya tahlilan, maulidan (untuk mendapatkan syafaat Nabi), haul (untuk tabarruk), tidak percaya wali Allah yang memiliki karomah, serta hal-hal lain yang dianggapnya bid'ah, tahayul, khurafat, syirik.

Dia hanya percaya atas pahala ibadah material yang dijanjikan Allah pahalnya, seperti sedekah harta, shalat, puasa, zakat, haji, dan semacamnya, yang seolah bila ditumpuk-tumpuk pahalanya, menjanjikannya surga. Dengan itulah dia merasa yakin dijamin masuk surga. Atsar sujud di jidat, dianggapnya tanda jaminan surganya itu kelak, di hadapan Allah.

Baca: Syarat Masuk Surga Tanpa Ibadah (Ngaji Ushfuriyah Bagian 3)

Orang Islam yang hanya percaya kepada amaliyah lahir itupun akhirnya berpendapat bahwa sedekah kepada mayit itu, misalnya, yang bisa sampai hanya yang sedekah dalam bentuk harta benda (صدقة المال).

Adapun sedekah bacaan (قراءة) seperti kirim surat Al-Fatihah, tahlil, tahmid, akan sia-sia. Golongan ini mensanadkan pendapat "anti kirim doa" kepada pendapat Imam Syafi'i yang berpendapat tentang tidak sampainya pahala qira'ah kepada si mayit, seperti terpraktik dalam tahlilan.

Padahal, jika mereka mau ngaji di Morongpuluhan Ansor Ngabul, mereka akan lebih mendalam mengetahui bahwa Imam Syafi'i pernah meralat pendapat tidak sampainya doa bacaan kepada mayit tersebut ketika beliau di Mesir.

Artinya, Imam Syafi'i memiliki qaul jadid (pendapat terakhir) yang menyebut sampainya pahala doa dan bacaan kepada orang yang sudah meninggal, dengan syarat: kita mengucapkan jelas alamat dikirimnya pahala doa dan bacaan kita dengan kalimat yang jelas, misalnya menggunakan kalimat "اللهم أوصل ثواب ما قرأناه الىــ" (Ya Allah sampaikanlah pahala bacaan yang telah kita baca kepada....) seperti umum dilafalkan oleh kiai-kiai NU ketika memimpin tahlilan.

Keyakinan tidak mempercayai amaliyah immaterial itu mirip sebuah kisah yang masyhur di kalangan para santri tentang adanya seorang 'abid (عابد/ahli ibadah) yang saat masuk surga, ditanya Allah begini:

"Kamu tahu, mengapa Aku memasukkanmu ke surga?" Tanya Allah.

"Tahu, karena amalku banyak, ya Allah," jawab si 'abid.

"Berapa lama kamu beribadah di dunia?"

"Puluhan tahun, ya Allah".

"Kalau begitu, kubalas amal ibadahmu 100 tahun saja sebagai penghuni surga. Setelah itu kamu di neraka selamanya. Bagaimana?"

Baca: Ahli Surga dan Neraka Masing-masing Mendapatkan 10 Cincin

Jawaban Allah membuat si 'abid diam. Jelas saja dia tidak akan mau dimasukkan ke neraka setelah jadi penghuni surga. Dia lupa bahwa berkat rahmat dan kasih sayang Allah saja lah dia menjadi penghuni surga. Amal ibadah kita tidak akan sebanding dengan balasan yang kelak diberikan oleh Allah, selamanya.

Karena itulah, adanya fenomena kelompok hijrah yang selalu memotivasi kelompoknya agar terus beribadah -tanpa dibarengi keyakinan bahwa semua amal ibadah yang kita lakukan semata karena rahmat Allah,- mereka cenderung bersikap sombong dengan menyalahkan orang lain di luar kelompoknya sehingga hanya amal ibadahnya sajalah yang dilihat dan dihitung sendiri dan diterima oleh Allah Swt.

Di mana rahmat Allah? Di mana mata nuraninya bila setiap melihat ibadah orang lain selalu lebih pandai menilai salah, dan hanya dia yang benar, lagi-lagi dengan cara menuduh bid'ah, kafir, sesat, tahayul, khurafat, dst. Sampai kapan? [badriologi.com]

Keterangan:
Uraian di atas adalah sebagian transkip rekaman keterangan penulis saat Ngaji Morongpuluhan GP. Ansor Ranting Desa Ngabul bertema "Makna Tahlil dan Dalilnya", yang terselenggara di Rumah Sahabat Muhammad Junaidi, Dukuh Jokosari, Rt. 04/04, Ngabul, Tahunan, Jepara, Kamis malam Jumat (20 Juni 2019). Dihadiri 34 anggota Ansor-Banser Ngabul dan 4 orang anggota PAC IPNU Kecamatan Mayong, Jepara.

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah