Syarat Masuk Surga Tanpa Ibadah (Ngaji Ushfuriyah Bagian 3)

syarat masuk surga tanpa ibadah kepada allah
Ilustrasi rahmat Allah berupa hujan
Oleh M Abdullah Badri

APA ada yang mendapatkan anugerah masuk surga meski tanpa ibadah? Ada, karena hal itu merupakan hak prerogatif Allah. Jangan batasi iradah (kehendak) Allah SWT. dengan ibadah hamba-Nya. Itu sama saja memaksa Allah memasukkan mereka ke surga karena rajin ibadah. Ibadah tidak bisa membeli surga, kecuali dengan syarat utamanya: ber-tauhid dan tidak ber-muqnith (putus asa) dari rahmat Allah.

Sekalipun rajin ibadah, tapi membuat orang lain justru terkikis harapannya kepada rahmat Allah, ya jelas dimurka oleh hamba-hamba-Nya dan Allah sendiri. Itulah ulasan sederhana atas hadits Kanjeng Nabi yang artinya: “penjahat yang masih memiliki harapan atas rahmat Allah itu lebih dekat kepada Allah SWT daripada ahli ibadah yang muqnith (putus asa)”, sebagaimana ditulis Kitab Ushfuriyah dalam hadits kedua-nya, yang diriwayatkan dari Sahabat Ibnu Mas’ud r.a.

Syaikh Muhammad bin Abu Bakar, penulis Kitab Ushfuriyah menjelaskan hadits itu dengan hikayat seorang laki-laki yang pernah hidup di masa lalu, dimana kala masih hidup, ia sangat rajin sekali beribadah.

Untuk memperbanyak pahala, tulis penulis kitab, ia sampai kepayahan menjalani hidup. Ibadahnya rajin, tapi sayang, dia memiliki satu peringai buruk, yakni suka membuat orang lain berputus asa atas rahmat Allah.  

Begitu meninggal, ia menagih janji-janji Allah atas pahala yang sempat dia kumpulkan selama hidupnya di dunia, “di mana engkau tempatkan aku nanti ya Allah?” Tanyanya. “Neraka,” jawab Allah kepadanya.

“Lalu, dimana semua pahala amal ibadah dan kelelahanku (beribadah) selama ini?”

“Kamu telah telah membuat manusia lain berputus asa pada-Ku ketika masih hidup di dunia. Maka, sekarang Aku pun membuatmu putus harapan dari-Ku”. 

Tiket Masuk Surga


Kisah kedua terkait hadits di atas juga disertakan penulis kitab. Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a, ada seorang yang selama hidupnya tidak pernah melakukan kebajikan kecuali satu hal, yakni ber-tauhid; mengakui sedalam-dalamnya bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.


Kepada keluarganya, ketika sudah mati ia berpesan agar tidak dimakamkan atau dikubur, melainkan dibakar tubuhnya hingga menjadi debu. Padahal ia adalah umat Kanjeng Nabi Muhammad. Satu wasiat yang sangat bertentangan dengan syariat, namun keluarga tetap saja memenuhi permintaan tersebut.

Persis sesuai wasiat, keluarga akhirnya membawa abu bakaran tubuhnya tersebut ke laut, di hari angin sangat kencang, gunanya agar debu tercecer tak bersisa sama sekali. Disangka, dengan melakukan hal itu Allah akan melepasnya. Ternyata tidak. Allah tetap bisa menggenggam ruh yang jasadnya tercecer jadi debu itu.  

“Kenapa kamu melakukan hal itu (bakar jasad setelah mati)?” Tanya Allah kepadanya.

Makhofataka (takut kepada-Mu, ya Allah),” jawabnya di alam sana.

Alasan khauf (takut pada Allah) itulah yang membuatnya diterima, dihapus segala dosanya, meski seumur hidup tidak pernah melakukan kebajikan kecuali hanya menyimpan tauhid kepada Allah SWT.

Ia takut karena berharap tidak akan disiksa. Itulah rahmat. Itulah yang namanya tidak berputus asa. Tauhid adalah praktik gampang di lisan, tapi galak di pendalaman sukmawi. Dan jika sudah merasuk dalam hati tiap hamba-Nya, simbol huruf dan kalimat thayyibah pun tidak bisa cukup mewadahi makna terdalamnya.

Mencukupkan diri merasa sudah mendapatkan rahmat Allah paling yes dengan cara menuduh-nuduh musibah sesama manusia sebagai siksa Allah adalah petaka diri. Apalagi mengaitkan gempa dan tsunami di Palu 30 September 2018 lalu dengan status tersangka seorang dukun dan praktisi hipnosis.

Di mana tauhid-nya? Di mana hati nuraninya yang berpengharap rahmat Allah? Padahal itulah syarat masuk surga. [badriologi.com]

Sekian, dan akan berlanjut edisi “Kisah Wali Allah di Zaman Nabi Musa yang Disia-siakan Penduduknya (Ngaji Ushfuriyah Bagian 4)”. Edisi sebelumnya, baca: Burung Emprit Sayyidina Umar (Ngaji Ushfuriyah Bagian 1) dan Ngrenteg yang Terarah (Ngaji Ushfuriyah Bagian 2)

Ngaji Malam Kemisan, 10 Dzulhijjah 1439 H/22 Agustus 2018
Advertisement

Klik untuk komentar