Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlash
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlash

M Abdullah Badri
Rabu, 17 Juli 2019
Loading...

makna kata esa dalama bahasa sanksekerta
Keutamaan membaca Surat Al-Ikhlash dalam Kitab Al-Mawâ’idlul Ushfuriyah

Oleh M Abdullah Badri

DALAM hadits ke-16 Kitab Al-Mawâ’idlul Ushfuriyah, yang dimuat muallif adalah tentang keutamaan Surat Al-Ikhlâsh. Terdiri atas 4 ayat, 15 kalimat dan 74 huruf. Berikut ini hadits tentang keutamaan membaca Surat Al-Ikhlâsh:

عن علي ابن أبي طالب كرّم الله وجهه أنّه قال قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم من قرأ قل هو الله أحد إلى أخرها بعد صلاة الفجر عشر مرّات لم يصِل إليه ذنب في ذالك اليوم وإن جهد الشيطان. 

Artinya:
“Dari Ali bin Abi Thalib karramallâhu wajhah, Nabi Saw. bersabda, "barang siapa membaca 11 kali Qulhuwallâhu Aẖad hinga akhir, usai shalat Fajar (Subuh), maka ia tidak akan terjatuh dosa walau setan berupaya penuh (menggodanya)".

عن أبيّ ابن كعب رضي الله تعالى عنه عن النبي عليه السلام قال من قرأ سورة الإخلاص مرّةً واحدةً أعطي من الأجر كمثل أجر مائة شهيدٍ. 

Artinya:
“Dari Ubai bin Ka'ab meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, "barang siapa membaca satu kali (saja) Surat Al-Ikhlâsh, baginya sebuah pahala seperti (besarnya) pahala 100 orang syahid".

عن أنس ابن مالك رضي الله تعالى عنه عن النبي صلى الله تعالى عليه السلام قال من قرأ قل هو الله أحد مرّةً واحدةً فكأنَّما قرأ ثلث القرأن ومن قرأهــا مرّتين فكأنما قرأ ثلثي القرأن ومن قرأها ثلاث مرّات فكأنما قرأ القرأن كله ومن قرأها إحدى عشرة مرةً بنى الله تعالى له بيتا فى الجنة من ياقوتة حمراء. 

Artinya:
“Dari Anas bin Malik, Nabi Saw. bersabda, "barang siapa membaca Qulhuwallâhu Aẖad satu kali, maka seakan-akan ia telah membaca sepertiga Al-Qur'an. Dan barang siapa membaca dua kali maka ia seperti telah membaca dua-pertiga Al-Qu'an. Barang siapa membacanya hingga tiga kali, maka ia seperti sudah membaca Al-Qur'an secara utuh. Dan barang siapa membacanya 11 kali, Allah Swt. membangun dia sebuah rumah di surga, terbuat dari Yâqut berwarna merah".

Asbâbun Nuzul Surat Al-Ikhlâsh
Adapun asbâbun-nuzul (sebab turunnya) Surat Al-Ikhlâsh ini, sebagaimana diriwayatkan dari perkataan Ubay bin Ka'ab, Jâbir bin Abdullah, Abul 'Âliyah, As-Syu'bîy dan Ikrimah radliyallâhu anhum ajma'în, adalah dimulai dari peristiwa berkumpulnya orang-orang Kafir Makkah.

Dikisahkan, Amir bin Tufail, Zaid bin Qais dan lainnya mendatangi Nabi Saw. dan mereka berkata, "Hai Muhammad, beritahukanlah kami sifat Tuhanmu. (Terbuat) dari emas, perak, besi atau tembaga? (Karena) tuhan kami terbuat dari unsur tersebut".

Nabi Saw. menjawab: "Aku adalah utusan Allah Swt. Allah Swt. tidak menyerupai apapun, dan aku tidak mengatakan suatu pernyataan karena kehendak nafsuku sendiri".

Turunlah kemudian surat Al-Ikhlâsh, dan Nabi Saw. bersabda (sesuai wahyu Allah Swt.),

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. (سورة الإخلاص)

Artinya:
"Katakanlah, Dia (Allah) adalah Maha Esa. Allah tumpuan segala harapan. Dia tidak berketurunan dan diperanakkan. Dan tidak ada yang setara dengan-Nya". (QS. Al-Ikhlash: 1-4).

__________________

Tentang asbâbun-nuzulnya, bisa Anda simak lebih rinci dalam uraian esai Asbâbun Nuzul Surat Al-Ikhlâsh. Tapi, dalam bab ini, kiranya perlu disertakan penjelasan tentang keutamaan Surat Al-Ikhlâsh. Mengapa membaca surat tersebut begitu istimewa sehingga dengan membacanya, sekali saja, menyamai pahala membaca sepertiga Al-Qur’an?

Dinamakan Al-Ikhlâsh (murni) karena kandungan ayatnya dimaksudkan untuk memurnikan secara jernih dan benar-benar murni tentang bertauhid kepada Allah Swt. Lihatlah, ayat-ayat tersebut berisi penuh ihwal cara beriman atas sifat-sifat Allah Swt., dimulai dengan ayat pertama yang bermakna “Dia (Allah) adalah Maha Esa”.

Makna Kata Esa


Terjemahan kata Esa dalam ayat di atas, bisa diditerjemahkan sebagai “Yang Maha Tunggal”, seturut dengan arti kata “أَحَدٌ” dalam ayat di atas. Orang Jawa memaknai kata tersebut dengan makna: suwiji (tunggal). Dengan pengertian ini, Esa bermakna tidak memiliki kesinambungan numeral angka, baik sebelum maupun sesudahnya.

Berbeda dengan pilihan (terjemahan) kata Eka, yang bilangan selanjutnya adalah Dwi (2), Tri (3) dan seterusnya. Jika “أَحَدٌ” dimaknai sebagai “Maha Eka”, jelas bertentangan dengan konsep tauhid kepada Allah Swt., sebagaimana ayat selanjutnya yang menjelaskan lebih detail.

Ini berbeda dengan ungkapan “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam sila pertama Pancasila. Kata Esa dalam sila tersebut, makna terdalam yang lebih sesuai adalah “Dia”. Jika diterjemahkan, sila itu berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Dia (Lebih Maha Tahu atas segalanya daripada gambaran akal manusia tentang Dia)”.

Jika Esa dimaknai sebagai “أَحَدٌ”, maka Pancasila tentu tidak akan diterima oleh semua golongan agama. Para pendiri bangsa senyatanya menggunakan kalimat Esa di sila pertama Pancasila atas makna asal kata Esa, yakni Etad, yang dalam Bahasa Sanksekerta artinya suchness (tidak serupa apapun), as this (seperti inilah) atau as it is (seperti itulah dia).

Esa dalam makna asal Etad inilah yang jelas ada dalam setiap konsep ketuhanan dalam agama apapun. Di kalangan pengamal tarekat, wirid yang menunjuk sikap diri mengakui “Dia (Tuhan) yang Maha Lebih Tahu tentang Diri-Nya sendiri” adalah lafadz “ya huw, ya huw, ya huw/Ya Dia, ya Dia, ya Dia”.

Dalam Islam sendiri, konsep meng-Esa-kan Allah Swt. (membelajari kenyataan benar/ẖaq bahwa Allah Swt. adalah Maha Esa) ada larangan untuk mempelajari langsung tentang Dzat Allah Swt. Akal tidak akan mampu berpikir tentang tindakan Allah Swt. yang memang hanya bisa dipahami dari kabar-kabar yang disabdakan Nabi Saw., baik dalam hadits maupun Al-Qur’an.

Akal manusia hanya sebatas bisa mengenal bahwa Allah Swt. memiliki sifat wâjib (20), jâiz (1) dan mustaẖîl (20), yang kemudian dikenal ulama ahli tauhid ahlussunah waljamâ’ah dengan aqâ’id seket (akidah 50) serta nama-nama agung lainnya yang ada dalam asmâ’ul husnâ (99 nama agung Allah Swt.).

Kata Ahad (أحد) pun memberikan petunjuk bahwa Allah itu Maha Tunggal dalam sifat-Nya, perbuatan-Nya, dan dzat-Nya. Jadi, misalkan ada yang berpikir bahwa Allah Swt. mewujudkan manusia dengan sifat “maujud”-Nya, dan mengatur alam ini dengan sifat “rahmat”-Nya saja, maka Allah Swt. akhirnya bisa disebut lemah karena membutuhkan sifat-sifat tersebut secara berbeda dalam situasi dan kondisi yang berbeda pula, sebagaimana manusia, yang ia wajib disebut lemah karena tidak akan bisa menjadi dokter, misalnya, kalau tidak mengusai ilmu kedokteran terlebih dahulu, dan dalam waktu yang sama ia jelas tidak mungkin mengusai ilmu-ilmu lain yang membutuhkan kemampuan akademis yang sama.

Allah Swt. tidak demikian. Sifat, perbuatan dan dzat-Nya Maha Ahad, Maha Tunggal. Karena Allah Maha Tunggal, Dia adalah tumpuan segala harapan, tempat segala meminta dan tempat segala keluh kesah. Hal itu terungkap dalam ayat selanjutnya: الله الصمد (Allah tumpuan segala harapan).

Makna الصمد disebut sebagai tumpuan harapan karena Allah Swt., atas segala kesempurnaan yang Dia miliki, tidak ada celah (lobang kekurangan) atas Diri-Nya. Berbeda dengan manusia, yang ia bisa menjadi titik pemecah masalah saat sedang tertutup segala celah kekurangannya.

Birokrat bisa juga disebut صمد (tanpa “al ma’rifat”) saat dia, misalnya, sedang berkuasa penuh dan berjaya sekali pengaruhnya. Andaikata dia terkena kasus korupsi, atau OTT, ia artinya sedang bercelah, dan dengan demikian, ia tidak صمد lagi. Satu-satunya dzat yang menjadi tumpuan segala harapan hanyalah الصمد, karena Dia tidak pernah bercelah, selamanya.

Jika Allah Swt. tidak bercelah, artinya Allah Swt. jelas tidak membutuhkan pembantu atau keturunan. Ayat selanjutnya لم يلد ولم يـــولد (Dia tidak berketurunan dan diperanakkan) tegas meneguhkan ayat sebelumnya. Jika Allah Swt. diturunkan dari nenek moyang, berarti ada celah akan lahirnya keturunan, yang dalam tradisi manusia, anak tidak selalu menuruni karakter bapak secara utuh. Allah Maha Suci dari segala hal tersebut. Dan tidak akan disebut Esa jika tidak demikian.

Kata لم sebelum kata يلد dalam ayat di atas menunjukkan makna lampau. Di masa lalu, ada sebagian kelompok manusia yang deklarasi menyembah tuhan yang menurut anggapannya memiliki keturunan, meski dikonsepkan menjadi satu kesatuan (trinitas).

Nah, susunan ayat di atas secara tersirat membantah asumsi adanya tuhan yang beranak dan diperanakkan. Seolah-olah tuhan mereka adalah wâlid/والد (orangtua biologis), sementara anak biologisnya, ولد/walad-nya, ada dan ikut “disembah”.

Surat Al-Ikhlâsh ayat ke-3, juga sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan silsilah ketuhanan dari orang-orang Kafir Makkah kepada Nabi Muhammad Saw., yang redaksi lengkapnya begini:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مُحَمَّدُ ، انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ 

Artinya:
“Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, orang-orang musyrikin berkata kepada Nabi Saw, “Wahai Muhammad sebutkan kepada kami tentang nasab Tuhanmu.” Maka Allah Swt. menurunkan firman, yang artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad) Dia lah Allah Yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.” 

Lihatlah, dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan Al Hakim itu, yang dipakai adalah redaksi انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ (silsilahkanlah kepada kami nasab Tuhanmu!), sementara di redaksi lain —termasuk dalam Kitab Al-Mawâidlul Ushfuriyah— menggunkan kalimat صِفْ لَنَا رَبَّكَ (beri tahu kami sifat Tuhamu!).

Pertanyaan orang-orang kafir di atas terkait dengan konsep ketuhanan yang sudah ada kala itu (dari petunjuk diksi kata لَمْ), di mana Tuhan yang disembah seolah ada yang beranak dan diperanakkan. Surat Al-Ikhlâsh menjawab gamblang sehingga, ayat terakhir menyimpulkan dengan firman pamungkas,

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya:
“Dan tidak ada yang setara dengan-Nya”. 

Allah Swt. tidak setara dengan konsep ketuhanan yang tidak Maha Esa. Yang Esa hanya Dia, karena dia tidak berketurunan dan tidak pula diperanakkan. Karena itulah, Dia adalah tumpuan segala harapan (الصَّمَدُ).

Menurut Abdullah Ibnu Abbas ra., (الصَّمَدُ) artinya adalah tidak memiliki lubang (kekurangan), tidak (membutuhkan) makan dan minum. Andai Allah Swt itu memiliki kekurangan, maka, dia (akhirnya) membutuhkan kepada sesuatu yang lain.

Padahal, kenyataan membuktikan, Allah Swt. tidak membutuhkan segalanya. Justru semua makhluk membutuhkan-Nya.

Makna (الصَّمَدُ) ini juga ada yang mengartikannya sebagai (لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ), yang artinya, Dia tidak butuh berketurunan hingga keturunan mewarisi kekuasaan, serta tidak memiliki orang tua (nenek moyang/pendahulu) yang mewariskan (kekuasaannya).

Makna (وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ) adalah tiada pembanding, lawan dan (apalagi) yang menyerupai Allah Swt. serta tidak ada yang merintangi-Nya. Apapun itu.

Walhâsil, Surat Al-Ikhlâsh membincang utuh tentang ber-tauhid kepada Allah Swt. Inilah sebabnya mengapa membacanya satu kali saja setara dengan membaca sepertiga Al-Qur’an mengingat isi daripada keseluruhan Al-Qur’an adalah tauhid, syariat dan akhlak. Al-Ikhlâsh menjadi puncak bagian isi Al-Qur’an tentang tauhid tersebut, mengenalkan sebagai Yang Maha Esa.

Semasa hidupnya dulu, Nyai Ratu Kalinyamat paling suka mewirid Surat Al-Ikhlâsh hingga setidaknya 21 kali dalam sekali duduk. Maka, bagi Anda yang suka ziarah ke Makam Nyai Ratu Kalinyamat di Mantingan, Jepara, hendaknya menghadiahkan bacaan Al-Ikhlâsh kepada beliau. InsyâAllah wusẖûl. Wallâhu a’lam. [badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini adalah dokumentasi Ngaji malam Kamisan (Pon), 7 Rajab 1440 H/13 Maret 2019. 


Loading...