Sejarah Kronologis Terbentuknya GP. Ansor Banser NU Sebelum Kemerdekaan RI
Cari Judul Esai

Advertisement

Sejarah Kronologis Terbentuknya GP. Ansor Banser NU Sebelum Kemerdekaan RI

M Abdullah Badri
Minggu, 21 Juli 2019

sejarah banser zaman revolusi fisik hindia belanda
Suasana Majelis Ngopi Morongpuluhan GP. Ansor-Banser Ranting NU Desa Ngabul, Sabtu (20 Juli 2019) malam.

Oleh M Abdullah Badri

PADA usia 26 tahun, KH. Abdul Wahab Chasbullah pulang dari studinya di Makkah. Tepatnya pada tahun 1914 (lahir 31 Maret 1888). Hanya selisih dua tahun saja, Mbah Wahab mendirikan kelompok kritis bernama Tashwirul Afkar (تصوير الأفكار) bersama para kiai dan santri intelektual di masa itu. Dalam Taswirul Afkar inilah, Mbah Wahab merumuskan solusi bagaimana harus menjadi bangsa yang merdeka kelak.

Tashwirul Afkar terbentuk, salah satunya karena latar belakang dunia Islam di Timur Tengah yang saat itu ada dalam genggagaman kekuasaan kolonial Eropa. Mbah Wahab yang memang sadar politik internasional pun merespon hal itu dalam forum diskusi Taswirul Afkar. Utamanya setelah pengaruh pembaharuan Islam Timur Tengah juga merasuk ke Indonesia.

Tak cukup di situ. Setelah Tashwirul Afkar, organisasi Nahdlatul Wathan (نهضة الوطن/ Kebangkitan Tanah Air) juga dibentuk Mbah Wahab pada tahun 1916, bersama teman seperguruannya di Tebuireng dan Timur Tengah bernama Kiai Masykur.

Bila Tashwirul Afkar semacam kelompok kritis yang menggali ide, Nahdlatul Wathan adalah gerakan lanjutan Mbah Wahab dalam bidang pendidikan, pemberdayaan pendakwah Islam dan lainnya. Melalui Nahdlatul Wathan, Mbah Wahab mendirikan beberapa madrasah di beberapa daerah dengan sebagai basis gerakannya.

Untuk membakar semangat kebangsaan di madrasah itu, ada lagu wajib yang dinyanyikan sebelum kegiatan belajar mengajar, yang ditulis Mbah Wahab dalam bahasa Arab berikut ini selengkapnya:

ياَ لَلْوَطَنْ ياَ لَلْوَطَن ياَ لَلْوَطَنْ
Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon

حُبُّ الْوَطَنْ مِنَ اْلإِيمَانْ
Hubbul Wathon minal Iman

وَلاَتَكُنْ مِنَ الْحِرْماَنْ
Wala Takun minal Hirman

اِنْهَضوُا أَهْلَ الْوَطَنْ
Inhadlu Alal Wathon

اِندُونيْسِياَ بِلاَدى
Indonesia Biladi

أَنْتَ عُنْواَنُ الْفَخَاماَ
Anta ‘Unwanul Fakhoma

كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْماَ
Kullu May Ya’tika Yauma

طَامِحاً يَلْقَ حِماَمًا
Thomihay Yalqo Himama

Pusaka Hati Wahai Tanah Airku
Cintamu dalam Imanku
Jangan Halangkan Nasibmu
Bangkitlah Hai Bangsaku

Pusaka Hati Wahai Tanah Airku
Cintamu dalam Imanku
Jangan Halangkan Nasibmu
Bangkitlah Hai Bangsaku

Indonesia Negeriku
Engkau Panji Martabatku
Siapa Datang Mengancammu
Kan Binasa di bawah durimu

Oleh Belanda, lagu ini dibiarkan dan tidak dicegah meski ada kalimat "Indonesia" di dalamnya. Belanda tidak paham Bahasa Arab. Justru yang sempat dilarang Belanda adalah lagu "Indonesia Raya" ciptaan WR. Supratman yang dinyanyikan pertama kali pada tahun 1928 di forum Sumpah Pemuda. Belanda meminta supaya "Indonesia Raya" diganti menjadi "Indonesia Mulia". "Indonesia Bilady" ciptaan Mbah Wahab aman sentosa.

Baca: Mengapa Lirik Lagu Syubbanul Wathon Diterjemahkan “Afganistan Bilady”?

Sayangnya, di Nahdlatul Wathan ada perbedaan masalah furu'iyah, dimana para pengurusnya banyak yang terpengaruh sistem ideologi baru hasil bawaan sarjana Timur Tengah yang mudah menuduh bid'ah atas amaliyah tahlilan, talqin dan lainnya, serta tidak jarang menuduh kalangan ulama' saat itu sebagai penganut ajaran taqlid dan tidak mau berijtihad seperti dalam jargon yang terkenal hingga saat ini, yakni "Kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits".

Kiai Mas Manshur dan Kiai Masykur disebut-disebut sebagai tokoh di Nahdlatul Wathan yang terpengaruh paham modernis Islam dan berbeda dari praktik amaliyah furu'iyahnya dengan paham Islam ahlussunnah waljama'ah sebagaimana diamalkan oleh Mbah Wahab, -meski semuanya (konon) adalah satu perguruan dengan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, Tebuireng, Jombang.

Harusnya, Nahdlatul Wathan saat itu bisa jadi gerakan bersama di zaman bergerak (1912-1926) menuju Indonesia merdeka, mengingat gerakan para pemuda sudah muncul dimana-mana. Sayangnya, karena tidak sejalan secara aqidah, visi dan misinya, gerakan Mbah Wahab di Nahdlatul Wathan berhenti.

sejarah ansor banser sebelum kemerdekaan indonesia
Diagram tahun kronologis terbentuknya GP. Ansor sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.
Disusun oleh M. Abdullah Badri.

Pada tahun 1921, gagasan mendirikan gerakan khusus pemuda semacam Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Minahasa, Jong Celebes, dan lainnya, yang saat itu sudah ada pengaruh gerakan luasnya di Nusantara, Mbah Wahab ikut mendirikan perhimpunan pemuda pada tahun 1924, yang kemudian diberi nama Syubbanul Wathan (شبان الوطن/ Pemuda Tanah Air), dengan Abdullah Ubaid (Kawatan) sebagai ketuanya, Thohir Bakri (Peraban) sebagai Wakil Ketua, dan Abdurrahim (Bubutan) sebagai sekretaris.

Awalnya, anggota Syubbanul Wathan hanya berjumlah 65 orang dan memiliki gerakan kepanduan (sebagaimana kecenderungan himpunan pemuda saat itu) yang diberi julukan oleh Mbah Wahab dengan sebutan Ahlul Wathan (Pandu Tanah Air). Mereka yang ikut kepanduan inilah kelak disebut dengan BANOE (Barisan Ansoru Nahdlatul Oelama). Syubbanul Wathon, dengan demikian, adalah wadah awal (embrio) atas berdirinya Ansor-Banser di kemudian hari.

Penulis berkeyakinan, para pemuda dan remaja yang tergabung dalam Syubbanul Wathan ini sepertinya ada yang terlibat (atau setidaknya sadar gerakan) atas munculnya puncak Gerakan Kebangkitan Nasional (Sumpah Pemuda) tahun 1928. Selisihnya hanya empat tahun dihitung dari lahirnya Syubbanul Wathon.

Baca: Salah Kaprah Memaknai Bid'ah dalam Hadits Kullu Bid'atin Dhalalah

Sejak Syubbanul Wathan berdiri 1924, dengan jumlah anggota yang masif di beberapa daerah, Nahdlatul Oelama' (NO) berdiri tepat pada 31 Januari 1926, di Surabaya. Nama nahdlah disarankan oleh Kiai Mas Alwi (sudara Kiai Mas Manshur) yang juga pernah aktif di Nahdlatul Wathan atas ajakan Kiai Masykur.

"Kenapa pakai nama nahdlah (bangkit), bukan jamiyyah saja?" Tanya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari kepada Kiai Mas Alwi.

"Karena tidak semua kiai memiliki jiwa gerakan dan kebangkitan, kiai. Ada yang hanya ngurus pondok dan mushalla saja, kiai," demikian kira-kira dialog singkat yang terjadi, kala itu.

Praktis sejak NO berdiri para pemuda yang tergabung dalam Syubbanul Wathan dan para tokoh yang pernah aktif di Nahdlatul Wathan sibuk dalam organisasi baru yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Haysim Asy'ari dan KH. Wahab Chabullah tersebut.

Untuk menghidupkan kembali Syubbanul Wathan, pada tahun 1931, Kiai Abdullah Ubaid berinisiatif mendirikan Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama (PPNU) yang diubah namanya menjadi Pemuda Nahdlatul Ulama (PNU) pada tahun 1932.

Baca: Banser Bubarkan Pengajian? Ndasmu!

Kalau itu, baik PPNU maupun PNU belum masuk bagian struktural NU pusat. Baru pada Muktamar ke-9 di Banyuwangi, departemen yang khusus mengurus pemuda itu disahkan sebagai bagian resmi NU, dengan nama Ansoru Nahdlatul Ulama' (ANO), tepat pada 10 Muharram 1353 H/24 April 1934. Tanggal inilah yang diperingati sebagai hari lahirnya, dengan Ketua (KH. M. Thohir Bakri), Wakil Ketua (KH. Abdullah Ubaid) dan sekretarisnya: H. Achmad Barawi & Abdus Salam.

Pada tahun 1934 inilah syiir yang kini dikenal dengan sebutan Syubbanul Wathan, dipopulerkan kembali dan sejak diijazahkan KH. Maimoen Zubair pada tahun 2012, riwayat dari KH. Zubair (setelah digubah menjadi lirik yang menarik dari KH. Yahya Cholil Staquf dan diberikan kepada Ketum PP GP. Ansor Nusron Wahid) menjadi wajib setiap ada kegiatan NU.

Pada Kongres kedua ANO di Malang tahun 1937, muncul departemen semi militer yang dinamakan Barisan Nadlatole Olama, disingkat BANOE (yang kini populer disebut Banser: Barisan Ansor Serbaguna), kelanjutan dari Ahlul Wathan zaman masih menggunakan nama Syubbanul Wathan. Sayangnya, ketika Jepang menjajah, baik ANO maupun BANOE diberangus.

Pasca revolusi fisik (1945-1949), ANO diubah namanya menjadi Gerakan Pemuda Ansor (GP. Ansor). Gagasan mengaktifkan ANO ini datang dari aktivis Ansor Surabaya bernama Chusaini Tiway, yang kemudian direspon oleh Menteri Agama RIS saat itu, yakni KH. Wahid Hasyim, ayah Gus Dur.

Hingga kini, nama GP. Ansor dan Banser yang pada tahun 1965 harus berhadapan dengan kader-kader Partai Komunis Indonesia. Sejarah ini akan penulis lanjutan dalam esai berjudul: Meluruskan Sejarah Perang Saudara PKI-Banser 1965. [badriologi.com]

Keterangan: 
Artikel ini adalah dokumentasi ocehan penulis saat diskusi rutinan di Majelis Ngopi Morongpuluhan GP. Ansor-Banser NU Ranting Desa Ngabul, Sabtu malam, 20 Juli 2019, di rumah Sahabat Nafron, Ngabul Rt. 03/03, Tahunan, Jepara, Jawa Tengah. Esai selanjutnya, berjudul: Kecintaan Nabi Kepada Para Sahabat Anshor - Rijalul Ansor NU Kuat Menyontoh?