Sudah Wafat, Guru Sekumpul Masih Ngajar di Pedalaman Papua Hingga Banyak yang Syahadat
Cari Judul Esai

Advertisement

Sudah Wafat, Guru Sekumpul Masih Ngajar di Pedalaman Papua Hingga Banyak yang Syahadat

M Abdullah Badri
Sabtu, 13 Juli 2019

haul guru sekumpul pada tahun 2015 menunjukkan kejadian aneh
Foto guru sekumpul. Surban putih. Sumber: istimewa.

Oleh M Abdullah Badri

SEKITAR haul ke 11 Guru Sekumpul tahun 2015, ada rombongan dari pedalaman parah di Papua, datang ke lokasi acara di Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan. Mereka bingung karena memang baru pertama kali datang ke luar pulau, dan keperluan yang mereka sendiri tidak tahu pasti seperti apa acaranya nanti.

"Acara haul ini sebetulnya kayak gimana?" Tanya mereka.

Mendengar ada rombongan haul, panitia acara menarik mereka mereka ke dalam makam Guru Sekumpul. Jumlahnya puluhan.

Baca: Kiai Said Rawuh ke Damaran, Kata Gus Baha': Benar-benar Keramat!

"Ini yang dihaul-i apa yah?" Tanya mereka, lagi, setelah ritual ziarah berlangsung sebentar. Mereka benar-benar tidak mengetahui maksud dan tujuan haul.

"Ini adalah acara peringatan kematian shahibul haul, yang setiap fotonya juga ada di tiap rumah," jawab panitia.

"Siapa namanya?"

"Guru Zaini".

"Orangnya seperti apa?" Makin penasaran saja panitia.

"Ayo mari sini".

Oleh panitia, rombongan dari Papua itu ajak ke beberapa warung yang ada di sekitar lokasi haul Guru Sekumpul, yang ada banyak foto Guru Sekumpul dijual dan dipasang di sana.

"Yang mana namanya Guru Zaini?"

"Ya ini".

Tiba-tiba rombongan tersebut langsung menangis dan mengucapkan syahadat bersama-sama. Foto yang ditunjukkan oleh panitia di warung-warung tersebut ternyata dikenal mereka sebagai guru yang mengajar akhlak dan kebaikan, di tanah kelahirannya, pedalaman Papua.

Mereka kemudian kembali ke makam lagi Guru Sekumpul dan meminta maaf. Baca: Anjing Masuk Masjid? Ini Sindiran Lucu dari Gus Muwafiq.

Guru sekumpul wafat pada 10 Agustus 2005 tapi menurut kisah nyata rombongan dari Papua tadi, beliau masih mengajarkan ketauhidan di bumi lain, dan memberi mereka ongkos berangkat perjalanan dan pulang kembali ke Papua, lengkap dengan ongkos konsumsi dan lain-lainnya.

***
Dari daerah Palangkaraya di pedalaman Dayak, yang dari Barito ditempuh perjalanan darat sekitar 2 hari, ditambah perjalanan nyepit (laut) selama sehari, ada serombongan orang yang sengaja datang ke acara haul. Saking jauhnya daerah itu dari pusat kota, sinyal dan ATM pun sulit ditemui.

Sinyal hape adalah harga mahal di daerah pedalaman tersebut. Namun, entah darimana sinyal datang, sebuah hape milik salah satu warga itu ditelpon oleh seseorang yang katanya sudah ditransfer uang sekian juta rupiah ke ATMnya agar dia bersama rombongan bisa berangkat ke Martapura, Banjar, Kalsel, untuk acara haul Guru Sekumpul.

"Intinya, saya dapat kabar dan dikasi uang untuk berangkat ke Sekumpul dalam rangka haul," kata dia kepada panitia, sesampainya dia ke lokasi acara haul yang ke-12.

Seperti cerita rombongan dari Pedalaman Papua, kelompok ini juga bingung dan bertanya-tanya ihwal acara haul dan tujuannya. Mereka menangis karena foto yang ditunjukkan oleh panitia persis seperti seorang guru yang selama ini bersama mereka di daerah asal, yang mengajarkan kabaikan dan akhlak.

Setiap tanggal 8,9 dan 10 Rajab, haul Guru Sekumpul disesaki jutaan umat Islam seluruh dunia dan yang menjadi tuan rumah adalah seluruh penduduk kota tersebut. Subhanallah. [badriologi.com]

Keterangan:
Cerita ini dituturkan oleh salah satu panitia tahunan Haul Guru Sekumpul, Kang Rasyid, pada Kamis malam, 4 Juli 2019, di Yogyakarta. 

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah