Wiridan Khusyuk, Dilempari Batu Tetangga, Eh....Disebutnya dari Jin Penunggu
Cari Judul Esai

Advertisement

Wiridan Khusyuk, Dilempari Batu Tetangga, Eh....Disebutnya dari Jin Penunggu

M Abdullah Badri
Jumat, 19 Juli 2019

cara mendapatkan batu akik keramat
Ilustrasi batu yang "disembah". Foto: istimewa.

Oleh M Abdullah Badri

ADA-ADA saja jenis manusia di dunia. Seorang bernama Syahid (bukan nama sebenarnya) mengaku kepada warga di sebuah desa (masih di Jepara) kalau dia adalah murid seorang istimewa yang berhasil menjadi seorang tabib dan bisa menyembuhkan banyak penyakit, lahir maupun batin.

Orang kurus, berambut gondrong dan saat menjadi menantu salah satu warga desa tersebut pada tahun 2015an, dia seolah mendeklarasikan diri sebagai yang layak mendirikan jama'ah "Roso Sejati", dengan ritual rutin shalat Tasbih serta Manaqib.

Baca: Naik Haji dengan Harta Karun Haram, di Makkah Kena Adzab Jadi Ular Berkapala Manusia

Baginya, spiritualitas bernama "roso" selalu terkait dengan hal-hal mistis, misalnya: uang bisa dia kendalikan dari alam ghaib serta jenis-jenis pusaka miliknya selalu dianggap memiliki daya linuwih. Terang saja para jama'ah yang diajak ke "paseban"nya banyak bertanya-tanya, soal kemampuan Syahid, yang konon dianggap sakti.

Suatu kali Syahid berujar kalau di sungai sebelah rumahnya ada sebuah batu bertuah yang tidak akan mampu diangkat oleh siapapun saking keramatanya. Ia sesumbar kepada warga desa; siapa saja yang mampu mengangat batu seukuran kursi duduk itu akan diberi uang masing-masing 100 ribu.

Mendengar tantangan tersebut, empat orang warga siap membuktikan pengakuan Syahid atas batu tersebut. Diangkatlah batu itu, dan dengan mudah dapat diletakkan di depan rumah Syahid. Mau tidak mau, Syahid terpaksa harus membayar mereka semua. Sudah tekor ratusan ribu, kesaktiannya justru melemah di hadapan warga, karena si batu terbukti bisa diangkat juga kan.

Tapi Syahid beruntung. Batu yang menurutnya keramat tersebut kini sudah ada di halaman rumahnya, yang akhirnya sering dia jadikan tempat bertapa, wiridan dan semedi. Biasanya ia melakukan giat "spiritual" tersebut bersama salah seorang yang pernah percaya penuh atas semua qaul dan manqul-nya. 

Sejak batu keramat tersebut ada di halaman rumah Syahid, beberapa warga menyaksikan Syahid sering bersila atau terlihat seperti orang menyembah, bersama seorang murid, hingga melewati tengah malam.

Ada yang yang usil. Seorang pedagang kucingan yang pulang di atas jam 2 malam sengaja ngerjain Syahid. Karena dekat dan bertetangga dengan syahid, si penjual nasi kucingan itu melempar sebuah batu ke arah Syahid dan satu orang muridnya itu, yang tengah wiridan khusyuk.

"Brakkk!". Lemparan batu jatuh tepat di hadapan mereka berdua.

"Allaahu akbar. La Ilaha IllaAllah. Subhanallah". Ucap Syahid, keras-girang dan menyebut kalau batu itu pemberian Allah berkah keramat batu kali (sugai) yang menurutnya keramat itu.

"Kamu terus tasbih saja. Ucap takbir terus," kata Syahid, matanya masih tertutup. Sementara murid di sampingnya makin ketakutan, bulu kudunya merinding tinggi, "kamu teruskan, nanti aku cari batunya buat kamu," tambah Syahid, masih merem-melek mripatnya, meneruskan khusyuk.

Sementara Syahid girang, di ujung sana, si penjual nasi kucingan itu menahan tawa yang sulit terhenti. Keesokan harinya, tersiar kabar Syahid mendapatkan batu keramat, dan si murid yang ikut wiridan malam itu, suatu hari, ikut tertantang pula membuktikan kesaktian Syahid.

Baca: Bisu Empat Tahun Gara-gara Melihat Kiai Afif Zubaidi Terbang di Atas Panci

"Kiai, ini batu akik bertuah tidak?" Tanya dia ke Syahid. Dilhatnya sebentar akik tersebut. 

"Oh, ini bertuah. Ada jin penunggunya. Ini akik berasal dari tempat keramat di desa ini. Siapa yang mendapatkannya?"

"Saya kiai," jawab sang murid, dengan dahi berkernyit.

Ia bergumam, "Wong iki aneh. Akik saya beli di pasar dari Mbah Sutopo beru kemarin kok bisa ngarang bertuah yah dia. Ini cincin kan mainan kaca," sambil tertawa. Hahaha.

Saking sering menampakkan "kesaktian"nya, Syahid pernah mempunyai pasien yang sekarat, datang dari luar desa, minta disembuhkan karena dokter sudah pasrah. Dibawa ke rumahnya, si pasien tidak diberi ruqyah atau obat generik maupun herbal, melainkan didengarkan ayat Al-Qur'an seharian via kaset.

Ya jelas meninggal lah si pasien itu. Ia datang sudah dalam kondisi lemah, tidak bisa diberi obat apalagi konsumsi air (habis operasi). Syahid justru makin sakti karena sebelum meninggal, pasien itu sudah diramal olehnya "tidak akan lama".

Untung keluarga pasien menerimakan nasib dan takdir-Nya. Syahid selamat. Dan saat cerita ini dibuat, dia sedang sibuk mengobati pasiennya di Semarang. Kita doakan semoga sembuh ya kawan-kawan! Al-Fatihah. Doakan keduanya, supaya sehat semua. Amin! [badriologi.com]

Keterangan:
Esai cerita ini dibuat dari hasil obrolan ringan antara sahabat Ansor di sebuah makam punden dusun yang pada Jumat, 19 Juli 2019, merayakan haul tahunan.