Garuda di Dada, Malaysia di Depan Mata
Cari Judul Esai

Advertisement

Garuda di Dada, Malaysia di Depan Mata

M Abdullah Badri
Sabtu, 31 Agustus 2019

foto menkominfo rudiantara dalam pelayanan televisi digital analog
Menkominfo Rudiantara saat jumpa pers di Nunukan, Jumat malam (30 Agustus 2019).

Oleh M Abdullah Badri

ITULAH kalimat yang diucapkan gubernur Kalimantan Utara, H. Irianto Lambrie, saat memberikan keterangan pers bersama Menkominfo Rudiantara Jumat malam (30 Agustus 2019) di Resto Bamboe Kuning, Nunukan, saat "Program Layanan Televisi Digital dari Pinggiran" dimulai esok harinya, Sabtu 31 Agustus 2019.

Nunukan yang hanya berbatasan sejauh pandangan mata dengan pulau yang berbatasan wilayahnya dengan Malaysia (Ambalat) itu, sering diserang sinyal dari negeri jiran tersebut. Saat menelpon misalnya, tiba-tiba saja pulsa habis kesedot karena terkena roaming internasional dari Malaysia. Sinyal hape masuk tanpa ijin di tengah menelpon.

Dulu, bahasa yang sering digunakan oleh rakyat Kalimantan Utara dominan Melayu Malysia. Bukan karena mereka tidak mencintai Bahasa Indonesia, tapi karena setiap hari program-program televisi yang beredar di Nunukan, Tarakan dan sekitarnya adalah bikinan negeri Ipin-Upin berasal. Untuk menikmati siaran tivi Indonesia, mereka harus membeli parabola dan prasarana lainnya.

Di Nunukan, dulu, kata gubernur Irianto, ringgit Malaysia lebih laku dijadikan alat transaksi daripada rupiah. Sekali lagi, hal itu bukan karena tidak mencintai rupiah tapi disebabkan oleh banyaknya transaksi makanan dan perdagangan lainnya banyak yang berasal dari negeri seberang.

Bukti mereka masih “Garuda di Dada” adalah tumbuhnya kesadaran hidup toleransi beragama, yang meskipun banya suku menghuni di sana, tetap rukun dan damai hingga mendapatkan penghargaan dari Kementerian Agama sebagai provinisi yang berhasil merawat kebhinnekaan. Padahal, provinsi tersebut masih bisa dibilang baru. Kaltara adalah wilayah pemekaran dari Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada tahun 2012.

Baca: Mencari Nama Channel Dakwah yang Unik - Bersama Santri Mlandang

Sebagai penduduk asli, warga Suku Tidung dan Suku Dayak hidup berdampingan dengan damai. Pada tahun 2016 lalu, Kaltara pun disebut gubernur menyabet gelar sebagai wilayah dengan tingkat nasionalisme tinggi. Sayangnya, hingga saat ini, warga Kaltara masih butuh biaya mahal dalam melakukan giat transportasi dan komunikasi.

Bayangkan, untuk menuju rapat saja misalnya, mereka harus menggunakan speedboad berjam-jam untuk menyeberangi pulau, dan biayanya bisa mencapai jutaan sekali jalan. Saat penulis menuju Kabupaten Nunukan dari dermaga Tarakan saja harus membutuhkan waktu 3,5 jam menggunakan speed yang macet masinnya di tengah laut hingga lebih dari lima kali.

Diakui oleh gubernur Irianto, hidup di Kalimantan Utara memang mahal transportasi. Mereka juga boros berkomunikasi. Utamanya ketika musim Pilkada. Kata gubernur, warganya paling suka berselancar di medsos. Apalagi di musim Pilkada. Pulsa banyak terkuras habis. Karena itulah dia menyarankan kepada warga Kaltara agar berhemat pulsa.

Kebebasan bermedia sangat dijamin. Buktinya, puluhan media di wilayah yang berpenduduk sedikit tersebut bebas mengekspresikan giat jurnalisme masing-masing. Menurut gubernur, ada dana 50 milyar yang dikeluarkan pemerintahannya untuk pembinaan jurnalistik para pewarta lokal di Kaltara. Meski berada di wilayah terluar Indonesia, Kaltara terdepan menjamin kebebasan pers. 

Melihat potensi besar di tengah banyaknya keterbatasan itulah Menkominfo Rudinatara menjadikan Nunukan (dan Jayapura) sebagai wilayah diterapkannya program televisi digital mulai dari Pinggiran.

Rudiantara sadar, Nunukan tidak menjadi prioritas penyelenggara servis seluler dan jaringan internet mengingat posisinya yang dianggap kurang menguntungkan secara bisnis. Pemerintah hadir untuk warga Kaltara dengan penyediaan saluran tv analog menjadi tv digital yang “bebas dari semut layar” karena sinyal yang tidak lancar.

Dan lagi, tidak ada konsep berlangganan dalam pelayanan BAKTI oleh Kominfo tersebut, sebagaimana layanan televisi berbayar, yang di Nunukan sendiri bertarif antara 30-35 ribu/bulan. Hanya dengan membeli alat Set Top Box sekitar 300an ribu, warga Nunukan bisa menikmati jernihnya televisi digital seterusnya.

Mendengar keterangan tersebut, gubernur Kaltara jelas mengucapkan syukur dan berterimakasih berkali-kali. Harapannya, warga Nunukan di kemudian hari tetap ber “Garuda di Dadaku Meski Malaysia di Depan Mataku”. [badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini adalah dokumentasi penulis dalam jumpa pers di Nunukan, 30 Agustus 2019 bersama Menkominfo Rudiantara, Gubernur Kaltara, H. Irianto Lambrie dan Bupati Nunukan, Hj Asmin Laura.