Kopi Cinta Tarakan dan Buah Lai Nunukan, Kalimantan Utara -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Kopi Cinta Tarakan dan Buah Lai Nunukan, Kalimantan Utara

M Abdullah Badri
Sabtu, 31 Agustus 2019
Flashdisk Ebook Islami

Jual Kacamata Minus
buah lai kalimantan hanya bisa dinikmati di nunukan dan tarakan
Saat memulai perjalanan dari Tarakan ke Nunukan, 30 Agustus 2019.
Masih asyik di speedboad sebelum macet. Foto: Kevin. 

Oleh M Abdullah Badri

SESAMPAINYA di Bandara Juwata, Tarakan, Kalimantan Utara pada Jumat (30 Agustus 2019) sekitar pukul 10.00 WITA, tim harusnya langsung menuju Pelabuhan Liem Hie Djung untuk melanjutkan perjalanan ke Nunukan dengan speedboad. Sayang, karena kuota penuh, akhirnya rombongan saya harus kembali ke bandara lagi menunggu giliran speed berikutnya, di ruang VIP tamu bandara. Dan disuruh “mojok” oleh Mbak Deo, komandan pasukan.

Daripada bengong, penulis mencari tempat ngopi bersama Mas Eko Kuntadhi dan Kevin. Diantar oleh sopir travel bernama Alung, kami bertiga menuju tempat ngopi yang dikenal dengan sebutan “Aseng”, milik warga Thionghoa yang sudah dicintai warga Tarakan selama puluhan tahun.

Karena Kevin minta diantar bertemu Romo Antonius Andri Atmaka, OMI. di Gereja Santamaria Emakulata yang memiliki arsitektur khas Suku Dayak, kami akhirnya sampai di Kedai Aseng berdua saja. Saat itulah ada suguhan kopi senilai Rp. 35.000-40.000, yang disebut dengan nama “kopi cinta”. Saya  dan Mas Eko memesan kopi tersebut karena penasaran.

Mas Eko menerima tawaran “kopi cinta” dengan campuran telur. Sementara saya tidak. Kata sopir Alung, kopi itu bahaya. Lha kok? Iya. Konon bisa membuat yang lemes jadi kekar dan kuat. Haduh. Dan ternyata, ada yang lebih kuat dari “kopi cinta”. Apa itu? Kopi Jantan. Kopi jenis ini haram dikonsumsi oleh lelaki yang tidak beristri. Kata Alung lagi.

Kami mengira, kopi itu memiliki rasa khas. Ternyata tidak. Rasanya seperti kopi biasa dicampur susu manis. Kalau Anda pernah mencicipi coffee mix, nah, mirip-mirip itulah rasanya. Harganya saja yang lumayan mahal, namun laris. Jumat siang itu, kami harus mengantri untuk mendapatkan tempat duduk, hanya untuk sekadar ngopi. Saking larisnya.

Baca: Barokah [Dalil] Puasa Hari Kelahiran yang Melintas Agama

Tarakan memang dikenal sebagai kabupaten yang penduduknya cinta kopi, sampai ada julukan “kopi cinta” segala di Kedai Aseng itu. Siangnya saja ramai begitu, bagaimana di malam hari yah. Mall di Jakarta saja, kata Mas Eko yang asli Jakarta, tidak seramai kedai kopi “Aseng” di Tarakan.

Awalnya, dututupnya pintu kedai siang itu saya mengira akan ditutup. Ternyata tidak. Saat numpang ke toilet, puluhan orang di bagian belakang kedai saya lihat masih santai ngopi dan makan secara berkelompok. Selidik punya selidik, pintu ditutup pemilik took untuk menghargai umat Islam yang sedang ibadah Jumatan. Apa Jakarta demikian?

Diam-diam penulis saya dengan kultur toleransi yang terbaca. Masjid di depan Kedai Aseng itu tetap khusyuk dibuat jamaah Jumatan meski pelayananan pembelinya tetap khusyuk di dalam juga, melintas agama, umur dan gender. Wajar bila gubernur Kaltara mendapatkan penghargaan sebagai pemimpin provinsi paling toleran nomor tiga di Indonesia setelah DKI Jakarta dan Jateng.

Kopi cinta membuat penulis dan Mas Eko mabuk ngobrol sampai sekitar pukul 13.00 WITA. Kevin menelpon supaya kami balik dan dia minta dijemput kembali karena sebentar lagi akan menyeberang ke Nunukan. Saat menyeberang inilah, saya merasakan perjalanan harian warga Kaltara yang amat melelahkan.

Hampir 4 jam kami di tengah laut, di dalam speed, yang mecet mesinnya hingga berkali-kali. Namun, perjalanan itu terbayar setelah rehat mandi sejenak dan shalat jama’ qashar Maghrib-Isya’ di Hotel Sumber Mulia, sebelah Hotel Laura milik Ibu Bupati Nunukan. Sejenak, kami diminta komandan pasukan segera merapat ke Resto Bamboe Kuning untuk makan malam bersama Menteri Kominfo Rudiantara, Gubernur Kaltara dan Bupati Nunukan, lengkap dengan seluruh jajaran terkait masing-masing.

Saat makan malam inilah penulis disuguhi buah yang mirip durian oleh salah satu rombongan dari Jakarta. Nama buah itu adalah Buah Lai. Buah ini hanya tumbuh dan bisa dinikmati di Nunukan. Kata sopir, Mas Emil, kulit Buah Lai mirip durian, yang berduri dan memang harus dibelah untuk memakannya.

Pohonnya pendek, tapi rimbun. Daunnya juga mirip daun pohon durian. Cuma isinya saja yang lebih tipis dari durian Ngabul Jepara meski wanginya juga hampir mirip dengan buah durian kebanyakan. Dan tidak terlalu manis menyengat di lidah. Sayangnya, saat sopir penulis pinta antar ke toko Buah Lai, tidak ada yang buka di malam itu. 

Ia janji mengantarkan ke took bua lai paginya, tapi tulisan ini sudah keburu ditulis. Cerita selanjutnya, baca lanjut yah. [badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini adalah dokumentasi perjalanan penulis dari Tarakan ke Nunukan dalam agenda "Garuda di Dada, Malaysia di Depan Mata".

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha