Anak Yatim Menangis, Segera Turuti Saja!
Cari Judul Esai

Advertisement

Anak Yatim Menangis, Segera Turuti Saja!

M Abdullah Badri
Senin, 09 September 2019

sifat dan karakter anak yatim menangis minta dibelikan mainan
Saat kumpul bersama keluarga tahun 2012 usai Bapak meninggal dunia. Foto: dokumen pribadi.

Oleh M Abdullah Badri

SEPENGALAMAN saya, karakter anak yatim itu keras kepala dan manja. Apa yang dimau, kudu keturutan. Itulah yang saya lihat dari Aziz, adik ke-10.

Sepeninggal Bapak pada Oktober 2012, bocah manis, tampan dan lucu itu, bak seorang raja, yang jika kamauannya tidak dituruti, bisa menangis tanpa henti berjam-jam hingga keturutan.

Ada ratusan jenis mainan di rumah yang numpuk tak terpakai. Hingga kini saya belum tahu mengapa karakter bocah itu berubah drastis sejak menjadi Yatim.

Pernah suatu kali ia merengek nangis ke saya minta dibelikan helm kecil seperti temannya yang lain. Ibu tak ada uang. Saya yang juga kebetulan ada uang berat saya sisihkan karena ada rencana saya pergunakan untuk suatu keperluan,

Namun, saya harus mengiyakan namun dengan menunda waktu menuruti agar dia lega dan berhenti menangis. Baca: Rahasia Gus Baha' Tidak Mau Salaman dengan Seluruh Santri Damaran Kudus

Apa yang terjadi? Iya, Aziz berhenti menangis, namun ia berganti menagih saya terus-menerus. Siang-malam, hingga hari berikutnya ia selalu bilang: ndi kak helm-e? (mana kak helm-nya?)

Tak betah ditagih seperti pengutang bank, saya langsung keluar cari barang yang diminta adik saya yang keras kepala itu.

Tiga pasar saya kelilingi. Baru ketemu pada malam harinya di sebuah toko terletak dekat Pasar Jepara Kota. Saya kira harganya ratusan ribu, ternyata hanya Rp. 40 ribu. Pulang ke rumah berhasil membawa helm. Alhamdulillah.

Sungguh senang hatinya. Saya juga, tentu. Stop dech ditagih colector paling mungil, Aziz. Apa yang kemudian terjadi, tak saya duga sebelumnya. Beberapa saat kemudian, dia mengundang beberapa teman bermainnya. Pamer. Dia pakai helm untuk perang-perangan dengan teman-temannya.

Yang paling repot, dia ujug-ujug punya kebiasaan baru, yakni suka jalan-jalan diantar pake motor. Katanya, punya helm kalau tidak buat jalan-jalan eman-eman. Hahaha…

Kemanapun, ia pakai helm itu. Kalau dipakai oleh kakak-kakaknya, langsung dimarahi. Ke sekolah PAUD, ia pakai. Ke maqbarah Bapak, ia kenakan. Hingga makan pun, kadang juga kepalanya ber-helm. Jan tenan adik yang satu ini. [badriologi.com]