Aksi Wali Paidi Beraki Rumah Warga; Disebut Gila Kuadrat
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

Aksi Wali Paidi Beraki Rumah Warga; Disebut Gila Kuadrat

M Abdullah Badri
Senin, 02 Desember 2019
Loading...

siapa wali paidi? apakah masih hidup
Patroli Wali Paidi edisi ke-8

Oleh M Abdullah Badri

SELAIN mantan perempuan malam (Baca PWP edisi ke-7), tamu lain saat Wali Paidi masih koma di rumah sakit menemui Yik Lukman di Kafe Paidi lalu sedih dan menceritakan pengalaman pertamanya bersama Paidi, seperti di bawah ini:

Sejak laki-laki muda itu muncul, ia acap membuat resah warga kampung tempat aku lahir. Dicari-cari warga karena kerap buang air besar sembarangan di halaman rumah. Habis buang hajat, gundukan kotoran dibiarkan begitu saja, lalu pergi entah ke mana. Tetanggaku menyebut dia gila kuadrat.

Tidak semua halaman warga dijadikan toilet oleh laki-laki gondrong dekil itu. Hanya beberapa. Aku yang baru pulang kampung karena hampir 20 tahun di perantauan, sekolah dan kuliah di Semarang, tidak bisa mendeteksi rumah warga kampung seperti apa yang biasa ia jadikan halamannya sebagai toilet, kecuali dapat cerita dari Bakir, tetangga depan rumah, yang biasa kupanggil “Lek”.

“Ia gila tapi berpola,” kata Lek Bakir, aku masih bertanya-tanya, “apa yang dia cari di kampung kita?”Bakir malah kembali bertanya. Siapa laki-laki tersebut?

Dia selalu muncul di siang hari saat warga sibuk bekerja, atau lewat tengah malam saat sunyi, sepi. Tapi banyak warga yang sering melihatnya tampak duduk di teras bangunan makam leluhur desa, Mbah Joko. Diam-diam, dari makam Mbah Joko inilah aku mulai membuntutinya, tapi gagal. Jika sampai di pertigaan itu, ia selalu hilang ditelan angin.

“Kamu tidak perlu mencari tahu aku, kamu adalah temanku, dunia dan akhirat!”

Suara itu membangunkankan lamunanku. Tidak ada sumber arah, tapi suaranya jelas. Orang di sampingku, yang ada di warung kopi langganan saja tidak mampu mendengar apapun kecuali lebat hujan, yang sebetulnya juga menghalangiku mendengar seksama atas apapun, termasuk bising mesin motor.

“Kang, minta rokok boleh?”

Ya Allah, ini orang apaan sih, kok tiba-tiba saja nodong rokok. Aku membuntuti, ternyata aku yang dibuntuti. Batinku. Lumayan gemetar aku melihat sorot matanya. Seperti guruku di Kudus, tajam tapi tidak hendak menerkam. Wajahnya lusuh, namun kelopak hitam matanya sangat khas. Hitam di matanya sebening kelereng, menenggelamkan putih mata.

Aku mudah mengenali laki-laki itu sebagai dia yang aku cari dari pakaian yang dikenakan. Kaos putih, celana hitam, gemuk, hitam dan gondrong. 

“Untuk apa kamu mencari saya?” 

“Bukan saya kang yang mencari jenengan, tapi warga juga resah”.

“Untuk apa resah? Karena aku jadikan rumahnya sebagai toilet? Seperti ini!” Ia bergegas mengambil payungku, menyelinap ke sebelah kiri warung, lalu kencing dan berak. Ya Allah.

Aku mencegahnya, tapi baunya sudah terlanjur mengganggu orang-orang yang menikmati nasi bungkus di sebelah. Mereka bloke’an . Anehnya, ia kembali ke tempatku tanpa cebok, ngobrol seperti tak terjadi apa-apa dan pesan kopi manis panas. Pelanggan warung yang lain sangat tahu laki-laki itulah yang menyebabkan bau tak sedap, tapi tetap saja mereka hanya melongo. Tidak ada yang marah, bahkan banyak yang meneruskan santapan, sambil ngopi, merokok, dan jagongan.

“Lanjutkan saja makanmu, mereka tidak akan marah karena aku melakukan yang kau lihat kotor karena tugas dan niat menebar kasih sayang,” ujarnya.

“Kasih sayang?”

“Iya”.

“Bukannya justru menebar kebencian?”.

“Hahahaha”.

Tawanya membuatku merinding. Seketika, orang-orang di warung serempak menyorotkan pandangan ke laki-laki yang berpenampilan gila itu, gila kuadrat, menurut orang kampungku. Ia menoleh sejenak, menghisap rokok dalam-dalam, lalu menikmati kopi manis buatan Sugeng, sahabatku yang buka warung kopi malam.

“Aku berak di dekat sini karena warung temanmu ini terlalu laris,” terangnya, “Sugeng jualan di depan lapangan ini karena jalan utamanya banyak dikunjungi anak-anak muda yang trek-trekan di jalan hampir tiap malam,” ia berhenti sejenak, aku masih ragu dia gila sungguhan. Ngomongnya tertata.

“Urusannya apa dengan berak sembarangan?”.

“Kamu coba lihat ke tempat aku ngising  tadi,” perintahnya, “Sekarang!” Bentaknya mendadak.

Sendok kecil yang sejak tadi aku buat mainan ngudek-ngudek  kopi, kusingkirkan. Langkah kaki mengikuti perintahnya, meski agak sedikit takut, walau sebenarnya ogah dan jijik. Diguyur hujan, kotoran laki-laki itu lenyap ditelan banjir selokan. Setengah gelap, dengan payung, aku melihat tepat lokasi ngisingnya. Kotorannya tidak ada, tapi sesuatu lain yang nampak.

“Bawa ke sini jika sudah ada,” teriaknya dari warung, “cepat!”.

Aku bawa saja barang itu, persegi empat dari janur kuning. Tidak tahu isi di dalamnya, tapi genggaman tanganku merasakan ada yang dibungkus. Seperti kain atau tumpukan pasir.

“Apa ini, kang?”

“Kamu buka saja!”

Masyaallah, aku mengira isinya kotoran, ternyata batu, tanah, jarum tajam, serabut kecil-kecil, serpihan kaca, dan lainnya, entah aku tak tahu menyebutnya apa.

“Itu bentuk fisik orang-orang yang hasud ingin warungnya Sugeng sepi. Karena sudah menjadi tugasku, semua itu aku suruh kamu yang ambil, tapi tidak usah kamu tunjukkan ke Sugeng, agar dia tidak was-was bekerja di warung ini,” gilanya sudah tidak nampak, “aku sengaja menolong dia dengan menonatifkan jin-jin suruhan orang berpenyakit hati sirik, dengki, serakah, agar rejeki dia mengalir terus,” jelasnya.

“Menonatifkan?”

“Jin itu ada yang kafir, yang punya misi buruk menyesatkan manusia dengan cara melukai manusia lainnya, caranya macam-macam: ada yang bisa disuruh menutupi mata orang lain agar warung Sugeng kelihatan tutup, sehingga sepi pembeli. Ada yang disuruh membuat nasi atau isi dagangan warung cepat basi sehingga tidak laku. Salah jika aku membantu?”.

“Bukan salah kang, tapi caranya kok begitu?”

“Aku pakai cara seperti itu agar tidak diketahui orang. Agar ikhlasnya si Sugeng tidak terganggu. Toh orang macam temanmu ini tidak percaya hal-hal yang tidak nampak karena dia fokus ibadah. Aku tidak perlu bertele-tele menjelaskan seperti dukun-dukun khodam itu kepada Sugeng karena aku dianggap gila, yang dalam hukum apapun, kelakuannya tidak mukallaf ,” tambahnya.

“Jenengan sebut kerja beribadah dan gilanya sampeyan memang disengaja?”

“Hahahah. Hahaha..”

Kembali dia menertawankan pertanyaanku. Padahal, dalam dunia pewarta, pertanyaan yang terkait dengan pernyataan adalah hal wajar. Aku jadi minder gara-gara tertawanya yang berkali-kali.

“Kamu kalau bodoh itu jangan murokkab , kang. Hahaha,” ia masih tertawa. “Edan tenan wong iki,” batinku.

“Aku ora edan, aku ora edan, kuwe sing edan,” perkataan dia membuatku tercekat. Diam. Ia sorotkan pandangan ke aku, aku menoleh ke kiri, mengalihkan muka. Rokokku terus kuhisap. Kopi kembali kuminum. Sedikit takut juga akhirnya. “Ini orang apa sih benernya?” Kembali aku membatin.

“Aku makhluke Gusti Allah. Aku usaha supaya tetap menjadi umat Muhammad,” lagi, aku tercekat. Suaranya penuh tegas. Nyaliku untuk bertanya dan melanjutkan penasaran makin ciut. Dua kali dia mencegat isi batinku. 

“Ngaji lagi kang, semua pekerjaan kalau diniatkan ibadah, maka ia jadi hitungan taat kepada Allah. Bahasa Kanjeng Nabi “kam min amalin yatashowwaru bi a’malid dunya fayashiru bihusnin niyyat min a’malil akhirah/ banyak kegiatan yang jika dilihat seperti pekerjaan duniwai, tapi kemudian jadi amal akhirat karena niatnya yang bagus”. Sugeng ini niatnya untuk cari nafkah, dan aku sangat mencintai dia karena dia mencintai Rasulullah, dan bukannya itu juga ibadah?”

“Mencintai Rasulullah?”

“Iya, tanyakan saja ke Sugeng, dia sering tutup warungnya kalau ada Maulidan yang dihadiri Habib Syeikh bin Abdul Qadir di kota ini. Aku bertugas menjaga para pecinta Nabi Muhammad agar tetap bisa menjaga hatinya tidak diliputi serakah, iri dan dengki. Kalau aku bilang warungnya disalahi orang, dia tentu ingin tahu siapa orangnya dan akan membalas perbuatannya. Hatinya jadi kotor,” ia seperti ceramah. Sementara aku hanya mendengarkan. Kata batinku dibaca semua.

“Biarkan aku saja yang tahu siapa orang yang iri atas kerja kerasnya bangun warung kopi malam. Aku juga berharap, kotoranku bisa jadi penanda bahwa bala’ di jalan ini tidak akan memakan korban. Beberapa hari lagi ada kecelakaan di jalan dekat warung Sugeng ini, anak-anak trek-trekan tabrakan, dan warung Sugeng kayaknya bakal kena,” lanjutnya, lalu pamit.

***

Tiga hari kemudian, apa yang dikatakan laki-laki itu benar-benar terjadi. Malam itu, Sugeng bersama seorang rewang  warungnya, Jaiz, selamat dari kecelakaan yang melibatkan dua motor trek-trekan. Kata beberapa saksi yang aku temui, motor yang dikendarai hampir mengenai warung Sugeng. Tapi seperti terhalang oleh tembok besar dan tinggi sehingga kembali terpental. Dan, tembok itu, katanya, tepat di tempat laki-laki misterius itu membuang kotoran sembarangan.

“Kotoran kok bisa jadi tembok yah. Hahahaha. Terus kotoran di halaman rumah tetanggaku jadi apa? Hahaha. Ah emboh,” batinku.

Beberapa tetangga yang halaman rumahnya dijadikan toilet menyebut berak laki-laki itu bukan kotoran, tapi tanda. Ada pula kotorannya dianggap anugerah. Yang menyebut tanda, indikasinya pemilik rumah akan mendapatkan jodoh untuk anaknya. Kotoran adalah permula. Yang menyebut anugerah, pemilik rumah konon segera mendapatkan kemuliaan dunia.

Sejak itulah, aku menuduhnya sebagai Wali Paidi. Wali yang minta sangat untuk dipaidho, dicaci-maki, tidak ingin dikenal, alias "humul".

Demikian cerita si tamu ke Yik Lukman. [badriologi.com]

Loading...