Wali Paidi Duel Carok Lawan 7 Orang Jihadis
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

Wali Paidi Duel Carok Lawan 7 Orang Jihadis

M Abdullah Badri
Selasa, 03 Desember 2019
Loading...

kisah pendekar silat nu melawan jihadis wahabi
Patroli Wali Paidi - 9

Oleh M Abdullah Badri

BEGITU banyak orang-orang yang datang ke Kafe Wali Paidi saat masih dirawat di rumah sakit. Mereka membawa kenangan cerita sosok yang nyeleneh dan tidak terdeteksi identitas keturunannya itu. Hampir tiap hari sejak Wali Paidi ditembak polisi gadungan misterius, kisah perjuangan Wali Paidi terkuak di hadapan Yik Lukman, yang selalu menemui ngopi dan ngudud tamu-tamu.

Ngakunya benama Ndero, alias Derohman atau Abdurrahman. Seorang sopir truk dan bus berasal dari Boyolali. Ia kenal Wali Paidi bermula dari dari sebuah terminal di Sragen. Waktu itu, kata Ndero, wajah Wali Paidi masih hitam, kurus, tapi tetap berambut panjang dekil. Ndero sangat ta'dhim ke Wali Paidi sejak mengetahui kesaktiannya.

Suatu kali, Ndero berkisah, Wali Paidi bersama rombongan anak ngamen menghentikan sebuah truk bermuatan durian yang dikemudikannya. Ternyata Paidi ingin membeli durian itu seharga Rp. 5000.

"Siapa yang mau coba Pak, durian saya beli 15 ribu ditawar 5 ribu," kata Ndero, berkisah ke Yik Lukman.

Ndero waktu itu tidak menyangka kalau ucapannya berbuah kerugian besar. Ia berkata, "boleh lah kamu beli semua durian ini satu truk, tapi syaratnya kamu harus menerima lemparan durian ini dengan kepalamu," begitu.

"Duh, ternyata disanggupi Wali Paidi," lanjut cerita Ndero.

"Paidi melakukan betul?" Tanya Yik Lukman.

"Semua yang saya lempar diterima dengan kepala dengan rambutnya yang gondrong itu. Kepala Wali Paidi tidak benjut babar blas. Hanya rambutnya yang rontok sedikit," terang Ndero.

Bangkrutlah Ndero. Ucapannya berbuah kerugian nyata. Sejak itulah dia selalu brekomunikasi dengan Wali Paidi sampai sekarang. Ia berguru, begitu juga dengan kawan-kawan seprofesinya.

Banyak kawan-kawan Ndero yang sungkan sejak Wali Paidi dituduh menjadi penyebab kecelakaan di jalan, dan dipenjara. Padahal banyak saksi mata melihat Paidi tidak bersalah.

Ceritanya, kata Ndero, teman-teman sesama sopir pernah melihat Wali Paidi jatuh tersungkur ditabrak ibu-ibu lagi belajar naik motor. Jatuhnya tidak sembarangan, unik. Kepalanya terjungkal, tapi dari jauh banyak sopir di dekat terminal itu yang melihat ada semburat api berbunyi "cliriiit..." begitu, seperti las besi yang sedang digunakan.

Akal sehat akan meyakini kepala Wali Paidi bakal remuk. Nyatanya tidak. Lagi-lagi hanya rambutnya saja yang terlihat seperti terkena bakaran api. Dahsyatullah. Anehnya, Wali Paidi yang ditabrak, tapi keluarga penabrak malah menuduh Paidi yang membuat si Ibu jadi meninggal di RS, hingga akhirnya dipnejara beberapa bulan.

Sejak itulah preman-preman teman Ndero takluk dan selalu mendengar nasehatnya jika dia main ke terminal itu. "Termasuk saya Pak Lukman," kata Ndero.

Orang-orang yang melihat kecelakaan itulah yang pernah diajak Wali Paidi nyegat truk durian Ndero suatu kali. Nah, saat dia sudah dekat Wali Paidi inilah cerita duel dengan kelompok jihadis terjadi.

Ceritanya dimulai dari persitiwa pembangunan mushalla di kampung Legit yang dikenal abangan, masih tetangga kecamatan dengan Ndero. Wali Paidi membangun mushalla tersebut bersama warga dengan susah payah selama empat bulan. Begitu rampung, pengelolaan mushalla diserahkan penuh kepada warga kampung. Wali Paidi kembali menjadi musafir.

Dua tahun berjalan, Wali Paidi mendengar kalau mushalla bernama Al-Hijrah itu dikuasai oleh minhum, kelompok yang biasa membid'ahkan maulid tapi paling suka menggunakan acara maulid untuk provokasi. Acara-acara berjanjenan, tahlilan, yasinan, ditiadakan. Ditelponlah salah satu pimpinan mereka oleh Wali Paidi.

Bukannya meminta maaf dan mengembalikan hak warga, mereka justru menantang. Ndero akhirnya diajak menemui mereka ke lokasi oleh Wali Paidi. Berdua mereka berangkat dari sebuah terminal tempat Wali Paidi biasa mangkal, pakai angkutan bus.

"Anehnya Pak, Wali Paidi selalu turun dari bis dan berganti bis lain tiap 10 kilometer," kata Ndero ke Yik Lukman, "karena jaraknya 10 kilometer dari pangkalan bus, saya dan Wali Paidi berganti bus hingga 10 kali," lanjutnya.

"Biar apa?"

"Mboten ngertos".

"Setelah sampai di dekat lokasi, saya diminta lari," kata Ndero.

"Lari kemana?"

"Ya pokoknya lari sekencang-kencangnya, ke arah berlawanan dari kampung mushalla yang dituju Wali Paidi. Saya juga diminta kembali ke tempat asal dua hari lagi," terang Ndero.

Dua hari kemudian setelah Ndero diminta lari Wali Paidi, Ndero menuruti, kembali menyusul. Telapak kakinya berdarah seperti terluka sayatan pedang. Ndero membawa Paidi ke Puskesmas, tapi ditolak halus Wali Paidi.

"Sudah, ini risiko saya," kata Wali Paidi ke Ndero kala itu.

"Kenapa niku Mas Paidi?"

"Biasa. Luka habis pencak dengan tujuh orang jihadis yang tidak mau ngalah keluar dari mushalla kita itu," jawabnya.

Jadi, sejak dua hari Ndero diminta lari dan lalu ngumpet di rumah temannya, Wali Paidi sedang ditantang pencak atau carok oleh tujuh orang. Tiap tengah malam, kata Wali Paidi, mereka ngajak duel di dalam ruang mushalla. Wali Paidi sendirian, mereka bergantian tujuh orang.

Tetangga tidak ada yang tahu karena tiap ada yang luka dan tumbang atau menyerah kalah, langsung dievakuasi secepatnya keluar kampung mushalla. Demikian kesepakatan yang disetujui antar Wali Paidi dan perompak mushalla itu. Wali Paidi jelas menang karena dia keluar masih bernyawa meski luka di bagian telapak kaki. 

"Itu oleh-olehnya," kata Wali Paidi ke Ndero.

Bungkusan plastik warna hitam dibuka oleh Ndero. Betapa kegetnya. Ada potongan telinga manusia dan jari-jari tidak lengkap, selang-seling warna kulitnya dan panjang pendeknya.

Mereka kalah. Wali Paidi bertaruh nyawa demi mempertahankan mushalla warga kampung yang susah payah dibangun.

"Ini nyata Pak Lukman," kata Ndero.

"Jarene iki nyata Dul. Tulisan yo, tapi jengen asline gantinen Wali Paidi," Yik Lukman memanggil Dul Badri.

"Siap yik! Judulnya nanti Wali Paidi Duel Carok Lawan 7 Orang Jihadis". Hahaha. [badriologi.com]

Bersambung...

Keterangan:
Ini adalah serial Patroli Wali Paidi (edisi 9). Rampung ditulis Selasa Subuh, 3 Desember 2019 - 04.16 WIB.  

Loading...