Koin Amal NU Ngabul yang Tak Terjaga
Cari Judul Esai

Advertisement

Koin Amal NU Ngabul yang Tak Terjaga

M Abdullah Badri
Sabtu, 30 Mei 2020

Dolar dari download buku
kotak amal masjid yang hilang penjagaan
Ilustrasi koin kotak amal NU. Foto: istimewa.

Oleh M Abdullah Badri

SETIAP bulan, koin itu selalu diambil oleh relawan. Sekali kumpul bisa mencapai jutaan rupiah. Aturan tasharrufnya, koin yang terkumpul akan diberikan untuk membantu giat pendidikan, kesehatan dan sosial keagamaan.

"Enak ya jadi pengurus NU. Tiap bulan ambil koin tanpa kami tahu laporannya," komentar itu membuat sesak nafas relawan. Dia berhenti mengambil tiap jelang Lailatul Ijtima'. Lalu, kotak koinnya digebuk dengan palu, lalu isinya diserahkan kepada tetangga untuk membeli rokok.

Koinnya yang terkumpul, kita yakin ditashrrufkan, tapi publik menggugat. Ini koin publik. Wajar butuh dipublikasikan. Bukti hukum harus diketahui luas. Sayangnya, karena tidak dilakukan, amal sosial itu berhenti tanpa konfirmasi. Relawan stop.

Koin Surga
Kotak koin itu sebetulnya berhadiah surga. Bagaimana tidak. Hanya mengumpulkan sisa belanja 500-1000 perak bisa membantu warga yang membutuhkan, untuk membantu bayar uang semester, uang berobat dan giat sosial lainnya, seperti perbaikan rumah.

Hanya yang mengikuti Lailatul Ijtima' lah yang mengetahui laporan giat di atas. Selebihnya tidak tahu bila tidak bertanya. Andai saja ratusan kotak surga itu dijaga, amal baik akan terus meluas dan diamini kebaikannya. Bahkan berkembang membantu sesama lintas agama, ras dan kelas.

Agar tidak ada kalimat "enaknya jadi pengurus NU" seperti ungkapan di atas, beberapa poin di bawah ini bisa dijadikan nalar bergerak dan berjamiyyah.

Baca: Cara Mudah Agar Bisa Berkurban Kerbau Setiap Tahun

Pertama, koin itu tersebar bukan hanya di kalangan pengurus NU saja. Artinya, karakter donatur koin berbeda-beda. Mereka adalah massa. Bukan kader. Ini harus jadi catatan.

Kedua, relawan adalah kader NU. Digertak pemimpinnya bisa teguh. Lha wong kader kok. Tapi, begitu digertak donatur koin, ia bisa nderedek karena merasa punya tanggungjawab.

Ketiga, agar ada laporan bulanan, akumulasi koin hendaknya dihabiskan dalam sebulan. Relawan diberi ruang usul jalan tasharrufnya kepada siapa. Dia paham lingkungan dimana dia menarik koin. Dialah yang diprioritaskan memberi nama tentang siapa yang membutuhkan dana koin untuk membantu kesehatan warga lingkungannya, pendidikaannya, atau giat sosial lainnya.

Keempat, bekali relawan koin dengan sekertas LPJ kecil-kecilan. Isinya adalah foto bukti penyaluran bantuan selama sebulan itu, berikut keuangannya dalam tabel yang bisa dibaca donatur untuk bekal dia semangat mengumpulkan koin di bulan berikutnya.

Format bekal kertas LPJ paling baik adalah berbentuk buletin empat halaman (1 lembar bolak-balik), yang bila difotocopy cukup habis Rp. 200/lembar. Isinya adalah artikel islami (hlm. 1-2), berita beserta foto kegiatan (hlm. 3), tabel keuangan LPJ koin (hlm. 4).

Buletin itu dikerjakan oleh tim mandiri yang berkoordinasi dengan penerima donasi di Lailatul Ijtima'. Buletin itulah yang dibawa relawan saat mengambil koin tiap bulan. 

Keenam, agar semangat, tiap akhir tahun donatur diberi kalender gratis berisi foto-foto hasil giat penyaluran donasi. Mereka bakal makin percaya menjadi donatur tetap dan makin yakin beramal dengan koin. Siapapun itu.

Dengan begitu, koin tetap berhadiah surga dan publik tidak menggugat. Lima poin di atas saya kira rasional dan wajar. Semoga amal baik koin terjaga dan tidak termasuk dalam syiir Arab ini:

رَكِبْتُمْ سَفِيْنَةً هَلَكْتُمْ بِحَارَهَا # فَكَيْفَ بَلَغْتُمُوْ نَجَاةً بِلاَ بَلاَ

"Engkau naiki kapal, tapi hancurkan lautannya # Lalu, bagaimana bisa sampai (ke tujuan) dengan selamat tanpa bala'".

Sedekah itu tolak balak. Koin itu sebetulnya untuk tolak balak. Mengapa timbul balak "enaknya jadi pengurus NU"? Kudu diududi sik ben tenang balak e, ndoro! [badriologi.com]

Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Kitab Makna Pesantren