Tamu yang Seperti Raja ke Tuan Rumah -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Tamu yang Seperti Raja ke Tuan Rumah

Badriologi
Kamis, 22 Oktober 2020
Jual Kitab Kuning Pethuk

Dolar dari download buku
cara menghormati tamu menurut ajaran islam
Bukti screnshoot. Foto: badriologi.com.


Oleh M Abdullah Badri


DIA sering ke rumah sejak 4 bulan terakhir. Sepekan atau dua pekan sekali dia datang. Ya. Tiba-tiba saja punya kebiasaan begitu. Apa saja yang ia alami, semuanya hampir dia bicarakan. Saya sampai hapal pasal-pasal yang ia bicarakan. Sebagai tokoh, ia sering membincang "prestasinya" menjaga kota dengan caranya, yang dianggapnya sangat baik. Sebagai yang ia dekati, saya menghormati. 


Sebagai tamu, ia saya jamu semampu saya. Bahkan kadang saya sangoni saat pulang. Sekali lagi, karena saya ta'dzim kepadanya. Saya belajar mendengar banyak cerita dia seperti guru-guru saya, yang mampu mendengar berjam-jam cerita bertele-tele dari orang lain, tamu-tamunya. Semuanya saya dengarkan, kecuali satu hal: saya belum mau mertamu ke rumahnya, baik di Utara maupun Selatan. Hati belum mengajak demikian. Kawan-kawan yang kenal dia juga menyarankan demikian, ke saya. Termasuk guru-guru. 


Ia pernah menawarkan saya sebuah kedekatan, dengan cara: 


  1. Ngrumati saya seharian, keliling bersamanya, sudah dibawakan mobil,
  2. Memberikan panggung ceramah dan majelis pengajian rutin, seperti kiai-kiai,
  3. Memberikan kendali pasukan siap nggruduk ke siapapun,
  4. Dia siap menerima perintah apapun dari saya, 
  5. Dan lain-lain.


Tapi semuanya saya respon dengan senyuman dan anggukan. Saya masih membaca, menjaga jarak dan terus membaca. Alasan dia terus main ke rumah seperti; 1). Pernah menyebut orangtua saya sebagai kiai-nya, 2). Nyambung komunikasi terus-menerus, dan 3). Meminta saling berkabar, saya terima dan saya baca sebagai pelengkap cerita dalam tiap kunjungan. 


Bagaimana saya bisa menerima alasan itu jikalau ia pernah saya deteksi pernah mengeluarkan perintah mengirim pasukan gruduk dari sayap partai hijau, ke rumah, tanpa permisi, dan datang hanya meminta paksa saya keluarkan kata maaf atas sebuah berita (bukan opini). Dia sendiri pertama kali datang ke rumah pada tahun 2018 untuk tujuan tabayun yang blunder terkait kasus yang menimpa muridnya. 


Pernah dia bertanya, apa saya bukan NU Gus? Saya jawab tegas: Bukan. NU itu aswaja. Tapi tidak setiap aswaja adalah nahdliyyin. NU punya harakah sendiri. Menjadi NU tidak semudah orang suka maulidan, tahlilan, manaqiban, puasa dala'il dan lainnya. "Jenengan aswaja, tapi bukan NU". Jawaban itu membuat dia mengalihkan pembicaraan. 


Pernah juga menyebut kalau Syiah di Jepara sudah seharusnya diberangus. Dia beralasan, Syiah sejak dari Ushul-nya sudah bukan Islam. Saya jelas tidak mempan mendapatkan keterangan begitu. Mengapa? Sebagai orang yang pernah ikut Madrasah Kader (MK) PBNU, saya tahu cara berharakah di NU dan paham ideologi gerakan NU. Debat lumayan lama, ia hanya berkata: "Jangan coba-coba mempengaruhi saya, ya Gus". 


Lha jenengan datang periodik bukannya untuk pengaruhi saya, me-raja-i saya, ndoro? 


Saya jelas di NU. Gurunya jelas. Harakahnya jelas. Bila jenengan mencoba "memecah gerakan", saya paham peta hingga mampu menjelaskan geo-politiknya, dan hal itu adalah modal saya ber-NU ria. Guru-guru saya dari ranting hingga pengurus besar, menjelaskan detail siapa lawan siapa kawan. Saya tidak terpengaruh dengan ucapan jenengan "dibayar berapapun saya tidak akan mau bergabung dengan NU". Begitu juga ketika jenengan bilang "saya ingin ngabdi di NU", saya juga tidak terpengaruh. 


Saya jelas. Jenengan juga jelas sanad guru dan silsilahnya. Harusnya saling menghormati lahir batin. Apa kata dunia bila guru saya jenengan sebut namanya saja untuk memancing keributan di sebuah grup WA? Saya pribadi tidak pernah menyebut guru jenengan sedemikian "bi ghairi waqar", mengapa ndoro berbuat demikian? Apa tujuannya? Mau ngajak gelut murid-murid?


Guru saya dihina oleh sekawanan penulis di Kudus juga saya lawan dengan buku. Apa saya perlu melawan jenengan dengan cara demikian? Terlalu sepele. Saya cukup kecewa. Tapi sudahlah. Kadang orang mertamu tidak untuk sebagai mayit, tapi sebagai raja, yang semaunya harus ditaati. Saya taat, hanya kepada ndoro-ndoro Nusantara, yang paham harakah NU. Bukan yang ingin mengiris. 


Sekarang saya baru sadar mengapa hati saya tidak pernah ndoyong sowan ke jenengan. Kita berjalan di rel masing-masing saja. Lebih bermartabat dan lebih saling menjaga persatuan. Tidak semua orang harus dirajai sejak dari pikiran dan ideologinya. [badriologi.com


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Kitab Makna Pesantren