Doa yang Dirampok Orang Lain -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Doa yang Dirampok Orang Lain

M Abdullah Badri
Kamis, 21 Oktober 2021
Flashdisk Ebook Islami

Buku Terjemah Daqaiqul Akhbar
marka bangsa ziarah ke makam mbah ustman mandalika jepara
Dalam rangka Hari Santri, Komunitas Marka Bangsa ziarah ke Pulau Mandalika pada 17 Oktober 2021. Foto: badriologi.com.


Oleh M. Abdullah Badri


SIAPA bilang virus tak menganggu doa. Doa yang terlalu banyak kandungan virusnya, bisa diretas hacker. Instalannya tak sesuai seri, doa bisa auto un-instal langsung, laiknya aplikasi Android yang diinstal ke Apple. Eror 404. 


Mengirim doa atau nyuwuk air, kata kiai, harus jelas misi dan line address penerimanya. Salah nama atau salah sebut, energi doa tidak bisa diinstal, apalagi di-upload kirim. Bila yang didoain tidak satu jaringan provider, atau habis kuota misalnya, ya ngadat, dan perlu disambungkan kembali. 


Nama kecilnya Riyatno misalnya. Ketika meminta doa suwuk pancing ke kiai, kok dia pakai nama Rasyid (nama beken sekarang), pasti eror 404. Harus restarting sesuai nama asli agar doa langsung cliriiit menembus maqam ijabah oleh Allah Swt. Maka, jujurlah soal nama ketika berdoa, agar benar-benar bebas dari virus. Bijak lah sejak dari niat di tengah doa, biar hacker doa tidak mudah meretasnya. 


Baca: Khataman Burdah, Bancaan Wedus Maulid


Selain itu, tahu diri juga lah saat doa. Gaji 1 juta mau minta jet pribadi ke Allah Swt, diguyu semut. Tiap orang memiliki kapasitas gigabyte doa tersendiri. Ada santri yang minta ke kiai agar berhasil memancing ikan dalam lomba pancing mania se Gresik. Kiai menolak. Alasannya, ia tidak punya jatah memancing ikan walau satu kilobyte pun. Walau begitu, kata kiai, dia ternyata punya ratusan terabyte hasil pancingan ikan. 


Benar nian. Dalam lomba memancing tersebut, dia tidak dapat satu ekor ikan pun. Tapi pas pulang, ia membawa 20 kg ikan hasil pancingan orang lain, teman-temannya. Kalaupun ikut lomba memancing, bukannya ikan yang didapat, melainkan penyu (kura-kura). Piye jal


Tentang bagaimana cara mengetahui jatah terabyte doa seseorang, tanyalah ke kiai-kiai. Sowan ke beliau-beliau saja di Hari Santri ini. Aku ra weruh.


Kata kiai, doa lebih mudah dikirim kepada si mati daripada si hidup. Mengapa? Manusia hidup "iseh sugeh karep" (keinginan). Ia ingat berdoa saat pingin ini dan itu saja. Beda dengan si mati, yang sudah bebas virus keinginan duniawi. Sungguh rugi lah manusia yang selama hidupnya memiliki keyakinan atas stop nya doa kepada yang sudah wafat. Bahkan sampai membid'ahkannya. Innalillah pasti menunggu dia. 


Baca: Dalil Nishfu Sya'ban dan Amalan Asyuro'


Ada makam wali tanpa nama shahib. Sampaikah bila kita bertawassul kirim doa kepadanya? InsyaAllah sampai. Syaratnya: sebut dulu nama Sulthonul Auliya' wal Ghauts as-Shomadani, yakni Ndoro Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani. Tanpa ndoro syaikh, frekuensinya bakal terputus. Beliau lah pemilik terbesar saham provider wasilah para waliyullah. Demikian jawab kiai. 


Alangkah indah tradisi tahlil dimanapun, yang selalu menyebut Rasulullah Muhammad Saw di awal doa, dan ndoro Syaikh Abdul Qadir di tengahnya, baru nama wali dan sesepuh setempat serta pihak terkirim doa dengan alamat jelas. 


Untuk orang awam, asal duduk saja di depan kuburannya, lalu niat sedekah doa kubur kepadanya, insyaAllah bakal sampai, meskipun kita tidak mengenal nama maupun profilnya selama hidup. Bacalah Alhakumut Takatsur 11 kali, insyaAllah kuburnya padang, walau sebelumnya dia sedang menerima siksa. Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra mengajarkan demikian.  


Kata kiai, nge-jloki doa adalah cara terlumrah meng-hack kiriman doa orang lain. Misalnya, si cantik dikirim doa mahabbah oleh si jelek hingga 100 kali bacaan. Agar tidak terinstal ke si cantik, un-instal baliklah doa si jelek dengan kirim doa sejenis, yang tentunya lebih dahsyat, dan harus dibaca lebih dari jumlah bacaan si jelek. 300 kali misalnya.

 

Bagaimana cara kita tahu kalau si cantik itu sedang dikirim doa virus oleh si jelek? Aku ra weruh. Intine ngono pokomen. Dan, orang yang paling ampuh mampu meretas doa adalah mereka yang memiliki maqam tanpa virus, alias hamba penuh ikhlash. Ya para waliyullah itu.


Makanya, kalau ada sosok yang populer disebut wali (dan masih hidup), jangan merapal doa di hadapannya, kecuali diperintah. Jangan pula sok yes memimpin doa di hadapan beliau. Bisa terampok otomatis loh maziyahnya. Minta lah doa ke beliau saja. Mboh piye carane


Baca: Doa Mustajab Mukmin dan Kafir yang Terdhalimi


Hati-hati juga memperpanjang rapalan doa di makam wali yang sudah pindah alam. Jangan-jangan, di sana ada sesama wali pula, yang masih hidup, yang rutin nongkrong ngambilin doa-doa peziarah yang terlalu banyak virus kedonyannya. 


Ada wali yang menurut kiai memiliki tugas "merampok doa". Soal ini, bacalah hikayat masa kecil Fakhrul Wujud; Ndoro Syaikh Abu Bakar bin Salim. Ajib tenan!


Selamat Hari Santri! [badriologi.com]


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB