Dalil Nishfu Sya'ban dan Amalan Asyuro' -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Dalil Nishfu Sya'ban dan Amalan Asyuro'

M Abdullah Badri
Minggu, 21 November 2021
Flashdisk Ebook Islami

Buku Terjemah Daqaiqul Akhbar
buletin halaqah dalil nishfu syaban
Buletin Halaqah NU Ngabul Edisi 02 (PDF). Foto: badriologi.com.


Oleh M. Abdullah Badri


WAKTU menjadi istimewa sebab ada peristiwa penting yang pernah terjadi, atau, ada janji-janji keistimewaan yang menyertai waktu tersebut. Demikianlah Sya'ban dan Muharram. 


Banyak peristiwa penting yang terjadi di bulan Sya'ban. Pertama, berpindahnya kiblat, dimana sebelumnya, umat Islam sempat shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama 17 bulan lebih 3 hari, seperti dinash dalam QS. Al-Baqarah: 144. Ini terjadi pada Selasa Nishfu Sya'ban. 


Baca: Ritual Rabu Wekasan, Bagaimana Hukumnya? (Halaqah Edisi 01)


Kedua, meski catatan amal manusia dilaporkan secara periodik (harian, dan mingguan [Senin & Kamis]), khusus Nishfu Sya'ban, catatan tahunan dilaporkan malaikat hafadhah kepada Allah (yata'aqabun). Untuk menyongsongnya, Rasulullah Saw selalu berpuasa, hingga para sahabat mengira beliau selalu tampak berpuasa sampai akhir Ramadhan. 


Ketiga, Sya’ban adalah bulan diturunkannya ayat tentang shalawat, yakni Surat Al-Ahzab: 56, dimana membaca satu kali saja shalawat, Allah membalasnya hingga 10 kali (Al-An'am: 160). Karena itulah, Sya'ban disebut sebagai bulan shalawat. Nabi bersabda: Sya'banu Syahri (Sya'ban adalah bulanku).

 

Keempat, di bulan Sya'ban, Nabi mendapatkan mukjizat terbelahnya bulan (QS. Al-Qomar: 01). Kelima, di malam Nishfu Sya'ban, pintu ampunan langit dibuka lebar untuk penduduk bumi, kecuali yang musyrik, durhaka kepada orangtua dan penyimpan dendam. 


Saking mulianya, Sya'ban dijuluki beberapa nama: malam mubarokah, malam qismah (pembagian keputusan takdir ajal dan rezeki), malam takfir (penghapus dosa setahun), malam ijabah, malam idul malaikah, malam pembebasan (baro'ah atau baratan), dll.


Baca: Tahlilan dan Hakikat Makna La Ilaha IllaAllah

 

Adalah bid'ah bila shalat khusus Nishfu Sya'ban dilakukan hingga 100 rakaat. Lakukan saja shalat tasbih seperti diajarkan Rasulullah Saw. Demikian menurut Syaikh Hamid Al-Quds dalam Kanzun Najah (hlm: 66). 


Selain shalat, usai Maghrib Nishfu Sya'ban, umat Islam biasa membaca Surat Yasin hingga tiga kali dengan niat: agar taat panjang umur, talak bala', dan husnul khatimah, atau niat-niat lainnya, sesuai doa-doa yang masyhur dibaca.

  

Walhasil, semua bentuk ibadah di malam Nihfu Sya'ban seperti shalat, membaca Al-Qur'an, dzikir, berdoa, membaca tasbih, shalat tasbih, ceramah tentang Sya'ban, mendengarkan hadits, tafsir, adalah mustahab, asal dilakukan sendiri di rumah, kecuali shalawat (baik sendirian maupun berjama'ah, boleh). (Ma Dza fi Sya'ban, hlm: 85)


Tahun Baru Hijriyah

Pasca wafatnya Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib di tahun kesedihan (amul khuzni), gangguan dakwah Rasulullah Saw di Makkah semakin berat. Banyak sahabat mengusulkan supaya berhijrah, tapi perintah wahyu (QS. Al-Ankabut: 56) baru turun tiga tahun kemudian. 


Penulis Ar-Rahiqum Makhtum meyakini, Rasulullah Saw hijrah ke Yastrib pada malam tanggal 27 Shafar. Pada 23 Rabi'ul Awwal (23 September 622 M), Nabi bersama Abu Bakar yang menemaninya beristirahat di masjid Quba'. Itulah masjid yang disebut Al-Qur'an (At-Taubah: 108) sebagai masjid taqwa (ussisa alat-taqwa).


Peristiwa hijrah Nabi Saw itulah yang dijadikan patokan awal disusunnya kalender qamariyah (edar bulan) yang kemudian disebut sebagai hijriyah. Ini terjadi di masa kekhalifahan Sayyidina Umar bin Khattab atas usulan Sayyidina Ali bin Abi Thalib setelah mendapatkan as'ilah dari Abu Musa Al-Asy'ari, Gubernur Kufah saat itu. Tepatnya tahun ke-17 H. 


Sayyidina Umar ra. juga lah yang menyusun nama 12 bulannya (sesuai QS. At-Taubah: 36), dan dimulai dari Muharram, dengan alasan: semangat ingin hijrah sudah dimulai di bulan itu. Ia tidak memilih tahun wafat Rasulullah Saw (karena sedih), maupun kenabian, turunnya ayat pertama (masih ada khilaf), Isra' Mi'raj atau bahkan kelahirannya. 

  

Meski bukan termasuk peristiwa wahyu, hingga kini umat Islam memperingati kalender khusus itu tiap 1 Muharram. Alasannya, ada semangat juang di kalender hijriyah, dimana banyak Nabi sebelum Rasulullah Muhammad Saw juga melakukan hijrah serupa. Artinya, peringatan tahun baru tidak mengandung unsur bid'ah karena di dalamnya mengandung penghormatan atas syiar Islam, seperti tercantum dalam QS. Al-Hajj ayat ke-32. 


Bila niatnya demikian, maka, membaca doa awal tahun (sanah jadidah) pun bukan termasuk bid'ah. Sayyid Zaini Dahlan menyatakan, siapa saja yang di hari pertama Muharram membaca Ayat Kursi hingga 360 kali (dengan basmalah tiap mulai membacanya), maka, insyaAllah selama setahun dia dalam lindungan Allah dari setan (Kanzun Najah, hlm: 11).


Asyuro'

Selain tahun baru, dalam Muharram ada momentum khusus, yakni pada tanggal 10-nya, disebut sebagai Asyuro’. Orang Jawa menyebutnya Suro. Pada hari ini, Nabi Musa as, bersama Bani Isra'il, diselamatkan Allah Swt dari kejaran Fir'aun dan bala tentaranya (QS. As-Syu'ara': 63-68). Ahli kitab memperingatinya dengan berpuasa. "Fa ana ahaqqu bi-Musa minkum," demikian kata Rasulullah Saw ke mereka (HR. Bukhari: 2004).


Karena itulah, di hari ini, puasa sunnah disebut sebagai yang paling utama dilakukan setelah Ramadhan, sebagaimana hadits riwayat Abu Hurairah (HR. Muslim: 1163). Dalam hadits Muslim (No. 1162) juga ditulis bahwa puasa di Asyuro’ bisa menghapus dosa setahun berikutnya. 


Keistimewaan ini tiada lain karena Muharram adalah bulan terlarang untuk perang (QS. Al-Baqarah: 217), yang bila diisi dengan kebaikan, pahalanya dilipatgandakan. Kitab Fathul Qarib mamasukkan puasa Tasu'a sebagai sunnah meski Rasulullah Saw sendiri belum melakukannya —untuk menyelisihi cara puasa ahli kitab, karena sudah wafat pada 8 Juni 632 M (12 Rabi'ul Awwal 11 H). 

 

Ulama' merumuskan bentuk amal Asyuro’ dalam sebuah nadham yang juga dimuat Syaikh Abu Bakar Syatho dalam Kitab I'anatuth Thalibin (Jilid 2, hlm: 267), berikut ini: 


صُمْ صَلِّ صِلْ زُرْ عَالِمًا عُدْ وَاكْتَحِلْ ⎈ رَأْسَ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ

وَسِّعْ عَلىَ الْعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرًا ⎈ وَسُوْرَةَ الْإخْلَاصِ قُلْ أَلْفاً تَصِلْ


Artinya:

"Puasalah, shalatlah, sambung silaturrahim lah kepada orang alim, jenguklah orang sakit, bercelak lah. Usaplah kepala anak yatim, bersedakahlah, mandi (sunnah) lah, perluaslah nafaqah keluarga, potong kukulah, dan bacalah Surat Al-Ikhlash 1000 kali".


Sayangnya, semua anjuran khusus 10 Suro di atas tidak diambil langsung dari hadits shahih Rasulullah Saw, kecuali puasa dan memperluas nafaqah keluarga. Syaikh Hamid memperingatkan kita dalam sebuah syair: 


وَلَمْ يَرِدْ مِنْ هَذِ غَيرُ التَّوْسِعَةِ ⎈ وَالصَّوْمِ فَاحْفَظْهُ وَكُنْ مُتَّبِعَهُ


Artinya:

"Ini semua tidak ada sumbernya kecuali memperluas nafaqah dan berpuasa, maka, peliharalah dan jadilah orang yang mengikutinya (Nabi)". (Kanzun Najah PDF, hlm: 19). [badriologi.com


Keterangan:

Artikel ini dimuat pertama kali di Buletin Halaqah Edisi 02 (PDF) yang diterbitkan oleh LTN NU Ngabul dan didistribusikan gratis dalam rutinan Lailatul Ijtima' di Masjid Al-Istibhal, Jerukgulung, Ngabul, pada malam Sabtu Kliwon, 15 Rabi'ul Akhir 1443 H/20 November 2021 M. 


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB