![]() |
| Jauhkan anak kita dari ojing eror yang tidak punya adab. |
Oleh M. Abdullah Badri
Hanya satu orang ojing (penyuka orkes jingkrak) yang berani menjapri saya dan maido. Namanya Noor Rochmad (NR). Masih tetangga RW dengan saya. Saya posting di story tentang hasil pertemuan di desa tadi malam, dia tidak terima, dan menjapri begini:
"ancen ue wong kakean keminter koh kelakuan mu mok masyarakat,,,ue nok masyarakat lho ora bkal panyu ora bakal di gubres cangkemmu masyarakat ngabul".
Tulisannya diketik ruwet. Mungkin otaknya ya ruwet. Saya pun bertanya ke tetangganya, ternyata, dia memang ojing eror dan justru tidak ada yang menggubris omongan dia.
Tadi malam pas rapat, perwakilan ojing dari RT-RW pun, yang beri respon nota keberatan saya atas nama peningkatan ekonomi (tidak ada alasan lain yang menarik selain ini), ternyata, kata para tetangga, ya wis gak patek digubris cangekeme.
Itulah gambaran lumrahnya ojing. Urip-e kelangan tujuan. Ketika diingatkan, justru membalas dengan sorakan, huuuu, dan ngomong ngalor ngidul. Diberi arahan, bisa lempar piring jika ada di sampingnya. Justru tipe manusia seperti inilah yang mulutnya tidak digubris. Lha wong uripe wae rak cetho tujuan-e kok digubris.
Betapa banyak mereka yang berkomentar ngawur di kolom komentar postingan artikel saya. Hanya NR yang berani menjapri. Kendel tenan! Tapi, keberanian dia, kata tetangganya, sebab dia itu memang eror. Haha. Mesakke!
Pak Bu! Kalau jenengan punya anak remaja, jagalah mereka jangan sampai ikut kumpulan generasi calon hilang arah seperti ojing, yang suka orkesan, mendem, totoan, balapan liar, gelutan dan maksiat-maksiat lain yang merugikan banyak orang. Mereka ini suka yang bebas asal senang. Setidaknya ini tercermin dalam komentar-komentar mereka di akun saya ini.
Mayoritas hampir karakter mereka itu anti nasehat, tidak mau ngaji, tidak suka membaca -sehingga bodoh, suka melawan orangtua, tidak punya adab jika tidak setuju, ngomongnya biasa jelek dan nekad tanpa tanggungjawab. Hidupnya penuh dengan eror dan kengawuran. Sulit diberi tanggungjawab besar. Pada diri sendiri saja susah, apalagi tanggungjawab ke orang lain.
Mereka ini sulit dirangkul walaupun tamatan madrasah. Hanya waktu dan hati mereka yang bisa membuat mereka berhenti. Atau, ada peristiwa yang membuat mereka sadar telah menyia-nyiakan modal waktu untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat.
Lihatlah ojing senior yang sudah tobat, di hari tuanya mereka menyesal pernah punya pengalaman klenger di pinggiran jalan sebab botol gendeng. Walaupun hidupnya mungkin kaya, tapi sulit mendapatkan ketenangan batin dan tentu saja, dijauhi masyarakat. Komunitas mereka tidak melintas. Hanya yang satu strum saja, sama-sama ojing.
Bila para tetangganya pada jengkel, barangkali, ketika mati pun, wegah pada nyolati. Aku kok nduwe tonggo ojing orak gelem tobat, yo wegah nyolati nek dekne mati. [badriologi.com]





