Tafsir Surat Al-Wâqi’ah (Ayat 17-40) - Sifat Bidadari Perawan Surga

sifat bidadari surga menurut al-quran
Tafsir lengkap Surat Al-Waqi'ah ayat 17 hingga ayat 40.
Oleh M Abdullah Badri

JIKA pada ayat-ayat sebelumnya (Tafsir Surat Al-Wâqi’ah Ayat 1-16) Allah swt. menjelaskan kepastian datangnya kiamat, serta gambaran bagaimana sifat-sifat para kelompok manusia pada waktu itu, Surat Al-Wâqi’ah pada ayat sesudahnya, sebagaimana akan diuraikan di bawah ini menjelaskan tentang apa yang didapatkan para ahli surga, di surga-Nya.

Meski sudah diterangkan pada ayat 1-16 Surat Al-Wâqi’ah, pahala mulia yang diberikan Allah kepada penghuni surga masih dilanjutkan dengan keterangan tentang makanan apa kelak dimiliki. Semuanya adalah balasan bagi kelompok kanan.

يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ ﴿١٧﴾ بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ ﴿١٨﴾ لَّا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلَا يُنزِفُونَ ﴿١٩﴾ وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ ﴿٢٠﴾ وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ ﴿٢١﴾ وَحُورٌ عِينٌ ﴿٢٢﴾ كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ ﴿٢٣﴾ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿٢٤﴾ لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا ﴿٢٥﴾ إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا ﴿٢٦﴾ وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ ﴿٢٧﴾ فِي سِدْرٍ مَّخْضُودٍ ﴿٢٨﴾ وَطَلْحٍ مَّنضُودٍ ﴿٢٩﴾ وَظِلٍّ مَّمْدُودٍ ﴿٣٠﴾ وَمَاءٍ مَّسْكُوبٍ ﴿٣١﴾ وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ ﴿٣٢﴾ لَّا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ ﴿٣٣﴾ وَفُرُشٍ مَّرْفُوعَةٍ ﴿٣٤﴾ إِنَّا أَنشَأْنَاهُنَّ إِنشَاءً ﴿٣٥﴾ فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا ﴿٣٦﴾ عُرُبًا أَتْرَابًا ﴿٣٧﴾ لِّأَصْحَابِ الْيَمِينِ ﴿٣٨﴾ ثُلَّةٌ مِّنَ الْأَوَّلِينَ ﴿٣٩﴾ وَثُلَّةٌ مِّنَ الْآخِرِينَ﴿٤٠﴾


Artinya:
"Berkeliling para pelayan muda yang tidak menua, dengan gelas, ceret-ceret serta sloki, dari sumber aliran yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya, dan tidak kehilangan akal. Dan buah-buahan sesuai yang mereka pilih, serta daging burung sesuai yang mereka inginkan. Dan bidadari dengan mata indah seperti lu'lu', yang terkemas dengan baik. Itulah balasan atas apa yang mereka perbuat. Mereka tidak mendengar kata-kata kotor dan tidak pula ucapan dosa, kecuali diucapkan salam-salam. Kelompok kanan, siapa kelompok kanan. Mereka di bawah sebuah pohon dara tanpa duri, dan pohon pisang berbuah lebat. Dan, mereka dinaungi atap terluas, di samping air yang terus mengalir serta buah-buahan yang sangat banyak dan tidak berhenti berbuah serta tidak pula terhalang. Mereka di atas alas-alas yang tinggi. Sungguh Aku menciptakan para perempuan surga dengan sungguh-sungguh. Aku menjadikan mereka perawan, penuh cinta, sebaya, untuk ashhâbul yamîn dari umat terdahulu dan dari umat kemudian". (QS. Al-Waqi’ah: 17-40).

Penjelasan Al-Wâqi’ah Ayat 17-40


(Di surga) berkeliling para pelayan muda yang tidak menua selamanya, sembari dengan membawa gelas, ceret-ceret serta sloki tanpa gantungan tangan, berisi air khamr (arak surga) diambil dari sumber aliran yang mengalir.

Mereka, orang-orang muqarrabûn tersebut, tidak mengalami pening karena meminum araknya tersebut. Dan tidak pula kehilangan akalnya. Dan untuk mereka, para pelayan muda itu juga membawakan buah-buahan sesuai yang mereka pilih, serta daging burung sesuai yang mereka inginkan.

Dan, selain itu, di surga mereka juga dikelilingi bidadari, perempuan dengan mata indah seperti lu'lû', putih, bersih, laiknya mutiara yang terkemas dengan baik. KH. Mishbah Musthofa dalam Tafsir Al-Iklîlnya menerjemahkan (الْمَكْنُونِ/tersimpan) sebagai hiasan mutiara indah yang tersimpan di dadanya. Semua itulah balasan bagi para muqarrabûn, atas apa yang mereka perbuat selama di dunia.

(Di surga), mereka tidak mendengarkan kata-kata kotor, omong kosong dan tidak pula mendengarkan ucapan bernada dosa. Mereka semua tidak mendengar, kecuali ucapan salam-salam. Artinya, antar muqarrabûn saling mengucapkan selamat.

Kelompok yang besok di akhirat menerima buku catatan amal dengan tangan, adalah kelompok kanan, siapa kelompok kanan? Merekalah yang tenang di bawah sebuah pohon dara tanpa duri, dan pohon pisang yang karena berbuah lebat, pohonnya tidak kelihatan. Dan, mereka juga dinaungi atap terluas selamanya, (tidak seperti atap dunia yang hilang selepas matahari terbenam), serta di samping air yang terus mengalir bergericik.

Lebih dari itu, mereka juga ikut serta disuguhi buah-buahan yang sangat banyak dan tidak akan berhenti berbuah serta tidak pula terhalang oleh harga, pagar (kebun), dan lainnya. Mereka juga tidur di atas kasur empuk dengan alas-alas yang ditata tinggi di atas dipan kencana. Mereka, para muqarrabûn itu, juga disediakan pendamping bidadari.

Tentang bidadari ini, Allah swt. berfirman dalam ayat selanjutnya: Sungguh Aku (Allah) menciptakan para perempuan surga dengan sungguh-sungguh tanpa mereka harus dilahirkan —seperti perempuan dunia. Kemudian Aku juga menjadikan mereka (perempuan surga) perawan, selamanya, yang penuh rasa cinta, dan umurnya juga sebaya semua, tidak ada yang kelihatan lebih tua di antara mereka.

[Kisah] Ummu Salmah istri Kanjeng Nabi Muhammad saw. diceritakan pernah meminta keterangan kepada Nabi Muhammad saw. tentang makna ayat إِنَّا أَنشَأْنَاهُنَّ إِنشَاءً. Nabi saw. kemudian menjawab:

Perempuan yang dikembalikan menjadi cantik, muda dan perawan itu adalah mereka yang sudah meninggal —yang ketika di dunia, mereka sudah berusia lanjut, beruban dan keriput. Lalu mereka diciptakan ulang menjadi perawan yang cantik-cantik. Tiap kali suaminya berhubungan badan, pasti kaget karena para perempuan itu selalu dalam kondisi perawan selama-lamanya (di surga). 

Mendengar jawaban Nabi, Siti ‘Â'isyah ingat saat perawan, "aduh sakit!".

"Laisa hunâka waja'/di sana tidak ada rasa sakit," kata Kanjeng Nabi. Wallâhu a'lam. 

Semua itu disediakan untuk para ashhâbul yamîn, kelompok yang menerima catatan kitab amalnya dengan tangan kanan. Ashhâbul yamîn yang dimaksud ada yang berasal dari umat terdahulu, dan ada pula yang berasal dari umat kemudian (yakni umat Nabi Muhammad saw.). [badriologi.com]

(Edisi ini rampung ditulis pada Rabu Pahing dini hari, 01:33 WIB, 6 Rajab 1440 H/13 Maret 2019).
___________________________

Baca AL-BADRÎY‘Alâ Naqli Tarjamati Ma’ani Âyât Ar-Rabbanîy.

Klik untuk komentar